Thursday, 16 June 2011

HELLO JUNE


hello june, hello holiday.
berharap bisa pulang, ke rumah yang teduh, di medan sana, walaupun sebenarnya tidak se-ngotot itu juga untuk mengatakan aku harus pulang. memang aku tidak bisa bilang, aku harus. aku juga tidak sepenuhnya ingin bilang, aku harus pulang. masih banyak yang harus diselesaikan lebih dulu disini. walau entah kenapa tetap ingin pulang, ketika rasanya letih melanda. mengambil waktu dengan adik andre dalam cerita-cerita seru, mungkin asik juga. atau ikut ibu meramaikan kondisi dapur, meja makan, atau ruang televisi ketika malam hari. mengajak ayah wisata entah kemana. kembali ke kamar orens pucat tempat beristirahat sebelum ini. atau mengunjungi sahabat-sahabat yang lama tidak berjumpa.

hello june, hello holiday. tetapi rasanya dibilang 'holiday' juga tidak benar-benar benar. tiga setengah bulan memang jeda yang panjang untuk sebuah liburan. tapi ini bukan liburan, atau belum liburan.

hello june, hello holiday. titipkan salam untuk medan, keluarga, dan sahabat-sahabat disana, karena kali ini tidak bisa pulang kesana. mungkin tahun ini pun, tidak.

Friday, 3 June 2011

A WAY



God provides.
God always provides.

Tanpa terasa, semester IV sudah berlalu saja. Waktu empat bulan, rasanya terasa, tetapi juga tidak terasa. Memasuki bulan juni, tanggal 3 kemaren ujian akhir terakhir dari sosiologi 2009, Teori Sosiologi II, selesai – tetapi sebenarnya belum sih, masih ada seminar MPS yang menyambut di depan, di tanggal 9. Tanggal 6 deadline research design final-nya. Semua kelompok, sibuk. Sama saja. Belum bisa dihitung liburan juga.

Akhirnya semester ini, nyaris selesai. Semester dengan kelas double Statistika Sosial II dan Metode Penelitian Sosial Kuantitatif I yang mengambil jatah dua kelas seminggu. Semester dengan enam, atau tujuh, atau bahkan delapan mata kuliah. Semester dengan tugas-tugas penelitian mata kuliah, dan persiapan penelitian.

Penelitian. Cerita lainnya di semester ini.

Sosiologi 2009 memang cukup disibukkan dengan ini di semester ini. Dalam dua mata kuliah, sosiologi keluarga dan sosiologi pedesaan. Sebenarnya dibilang penelitiannya besar juga gak, kecil juga, ya tapi bukan berarti gak ribet.

Tugas penelitian sosiologi keluarga menjadi cerita sendiri bagi saya di semester ini. Topik lansia, yang menjadi topik bahasan yang sudah ditentukan tim pengajar untuk kelompok saya, saya akui cukup membuat bingung di awal. Penelitian sosiologi keluarga dengan topik lansia, kemungkinan paling mungkin, adalah dengan informan lansia. Dan itu sejujurnya sempat menjadi suatu kendala bagi saya pribadi di semester ini.

Awal mei lalu, tepatnya. Ketika hari senin, tepat seminggu sebelum presentasi, akhirnya pedoman penelitian dan pembuatan makalah diemail tim pengajar kepada kami. Tugasnya, sebenarnya cukup sederhana: masing-masing anggota kelompok mewawancarai dua lansia, mengenai masalah kebahagiaan mereka. Tapi ini menjadi kendala tersendiri buat saya. Saya, yang satu-satunya anak non-Jabodetabek di kelompok saya, harus berpikir keras untuk mencari informan lansia itu, sejujurnya. Pertama, karena saya sepertinya gak punya kenalan lansia di Depok. Kedua, karena sebenarnya pun, jika teman-teman satu kelompok pada mau wawancara kakek-nenek sendiri, saya juga sudah tidak lagi punya seorangpun kakek atau nenek dari pihak ayah, maupun ibu. Ketiga, masih mending kalau tadi saya ada di Medan. Saya berharap ayah atau ibu saya punya kenalan yang bisa membantu mempermudah saya. Tapi saya sedang jauh dari mereka, di Depok. Saya tidak bisa mengharapkan bantuan dari orang tua saya, jelas.

Timeline menjadi masalah selanjutnya. Karena hari jumat sampai hari minggu, di minggu itu, sosiologi 2009 ada turun lapangan sosiologi pedesaan juga, ke Gunung Pancar Kabupaten Bogor dan menginap disana, di rumah penduduk selama tiga hari itu. Padahal senin besoknya, sudah harus presentasi dan makalah jadi. Bingung. Sepakat dengan teman-teman, makalah harus selesai kamis. Berarti mencari informan juga selambat-lambatnya rabu. Padahal itu sudah hari senin.

Saya sempat berpikir sebelumnya ingin mewawancarai ibu kos saya.  Ya, lumayan bisa melengkapi satu informan. Ibu kos saya memang sudah lansia, tetapi umurnya masih 62 tahun. Sementara syarat informan lansia yang ditetapkan tim pengajar adalah 65 tahun ke atas, jadi bingung. Dan ternyata di minggu itu, walaupun ibu kos saya memenuhi syarat jadi informan, ibu kos saya juga sepertinya tidak bisa diwawancara, karena sedang sibuk keponakan ada yang nikahan, hoo.

Senin sepulang dari kampus itu saya terbingung-bingung. Kemana mencari informan. Ketika sms-an sama ismi, teman sekelompok saya, ismi mencoba membantu dengan menawarkan bagaimana kalau saya mewawancara salah satu kakeknya, atau kakek-nenek dari teman-teman saya yang tinggal di Jabodetabek lain. Saya kepikiran juga, sempat. Cuma itu artinya harus besok. Karena rabu, saya seharian dari pagi sampai sore ada kelas, jadi sebenarnya rabu sudah tidak memungkinkan lagi untuk mencari informan. Masalah ini jadi hal yang didoakan terus-menerus dalam setiap jam doa saya hari itu, sampai hari selasa…

Hari selasa itu, ismi gak datang. Harapan mungkin bisa wawancara salah satu kakek atau neneknya ismi memudar. Soalnya saya gak tau rumahnya ismi… Mulai panik menjelang siang. Sambil MPS-an sama temen-temen MPS B, teman saya adit mencoba menawarkan bantuan untuk mewawancara ibu kosnya, eh tapi kemudian ingat ibu kos adit lagi ke surabaya. Hoo.

Di titik itu beneran gak tau mau gimana -__- sempet kepikiran mau ke panti jompo (tahun lalu emang pernah bareng-bareng anak FISIPERS, kunjungan ke panti jompo) tapi tempatnya gak tau dimana dan sepertinya jauh. Di titik kritis saat itu, tiba-tiba ingat ka merry. Thanks God, udah diingetin >,< Jadi ka merry adalah salah satu temen satu kosan saya, yang pelayanan di depok, termasuk UI. Ka merry juga aktif di gereja, dan saat itu saya berpikir ada kemungkinan ka merry punya kenalan lansia. Mencoba sms ka merry tapi gak seperti biasa, kali ini cukup lama baru di-reply. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk pulang, ya buat menenangkan diri juga.

Di saat-saat seperti itu, doa menjadi harapan tersendiri. Yang saya temui selanjutnya selesai berdoa: God is on the way to help. Ka merry sms, bilang emang punya kenalan lansia, dan ada dua orang, oma dan opa suami-istri yang satu pelayanan di gereja. Ka merry kemudian langsung tanya kira-kira mau wawancara kapan. Dan beberapa menit kemudian, ka merry bilang, oma opa calon informan siap diwawancara sekarang juga, tinggal berangkat ke rumahnya di Kelapa Dua! wow. how great is God.

Setengah jam kemudian, percaya gak percaya, dengan tidak disangka, aku sudah ketemu dua orang oma dan opa yang jadi informanku di rumahnya ditemenin ka merry, siap wawancara. Padahal baru siang itu kalut mikirin mencari kenalan informan kemana. Ya ampun.

God provides, God always provides. He will never let you face the storm by yourself. He is always be with you, to strengthen and accompany, to help you!

Thanks Lord Jesus ♥


Singkat cerita, dengan tidak disangka, selasa sore itu saya dapat dua orang informan, kemudian hari kamis mengerjakan makalah bareng-bareng teman-teman sekelompok: ismi, uti, aby, dan mariska. Pas turun lapangan sospedes, memang makalahnya belum 100% selesai, masih harus diedit di beberapa bagian, tapi puji Tuhan, akhirnya selesai tepat waktu di hari senin itu.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya juga sempat khawatir ketika dengar kabar kalau UAS penelitian individual sosiologi keluarga ini mengikuti tema yang sama dengan tema penelitian kelompok sebelumnya, yang berarti saya akan dapat tema lansia lagi, haa. Sejujurnya saya gak bisa berhenti berdoa memohon sama Tuhan supaya jangan dapat topik lansia lagi, soalnya informannya susah (informannya minimal tiga orang, kali ini dong), hehe dan yes, God hears me. topiknya boleh bebas, puji Tuhan! Dan akhirnya, saya memilih topik extended family – menyeimbangkan dengan kapasitas dan waktu saya untuk penelitian. Saya meneliti mengenai perubahan kedekatan hubungan teman-teman sendiri yang merantau dari medan dengan keluarga luasnya di Jabodetabek setelah merantau. Dan sejujurnya, tema itu juga tiba tepat waktu sebagai jawaban doa dari Tuhan. Thankyou Beloved Lord Jesus ♥ tapi bukan berarti juga cari informannya segampang yang dibayangkan. Karena informannya harus yang emang sering kunjungan ke keluarga luas yang di Jabodetabek – dan ada hambatan minggu UAS juga, saya baru bisa mengurusi ini di weekend. Sementara dua teman dari tiga teman yang saya harapkan bisa menjadi informan ternyata lagi nginep di rumah keluarga luasnya weekend itu, jadi harus ganti informan. But yes, God provides. He always provides: tiga informan, tepat seperti yang saya butuhkan.



Do you need something right now, readers?
Humbly ask God, go meet Him in prayer. And, have a faith that God always hears and provides the best for you. Have a wonderful day in God’s safeguarding, people ;)