CERITA VOLUNTEER : MEMBERI DIRI & BELAJAR BANYAK

by - March 15, 2018


Setelah pindah dari Cikarang ke Depok, tahun ini saya lebih bebas berpetualang kemana-mana. Salah satunya, yang memang sudah saya niatkan dari dulu kala : volunteer! Mulai awal tahun 2018 ini, saya akhirnya mencoba mengambil komitmen volunteer di dua komunitas yang berbeda, yang isunya memang juga sedang jadi perhatian saya. Kesehatan mental dan gerakan perempuan.

Saya masih memikirkan mengenai kemiskinan, pastinya. Namun, jika di tahun-tahun sebelumnya saya banyak memperhatikan dan volunteer dalam isu kemiskinan anak yang sifatnya lebih ke ekonomi dan pendidikan, tahun ini saya mulai memperluas perspektif saya. Bahwa bukan hanya anak yang terdampak kemiskinan. Bahwa masih begitu banyak kelompok lain yang juga dimiskinkan karena sistem, budaya, bahkan peraturan. Kemiskinan memang salah satu problema sosial yang multi-dimensi, kompleks sekali. Jadi di tahun 2018 ini, saya mencoba melihat masalah ini dari sudut pandang yang baru.

Kita bisa bilang bahwa kelompok perempuan juga sering dimiskinkan dalam budaya patriarkhi. Teman-teman ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) atau teman-teman yang mengalami masalah kesehatan mental pun tak luput dari stigma-stigma yang banyak memiskinkan dan mendiskreditkan mereka. Baik kelompok perempuan maupun teman-teman ODGJ sama-sama mengalami marginalisasi, eksklusi sosial, sampai diskriminasi. Karena itu, saya mulai memberi perhatian pada kedua isu ini. Kesehatan mental dan gerakan perempuan.

Bersama Komunitas Into The Light Indonesia
Bersama Kawan-Kawan Volunteer WMJ 2018 Divisi Acara

Dalam isu kesehatan mental, saya mengambil komitmen untuk bergabung dengan Komunitas Into The Light Indonesia, sebuah komunitas pencegahan bunuh diri. Saat ini, saya menjadi bagian dari The Lightbringers Generasi V Cand, yang masih menjalani training sampai bulan Juli nanti. Dalam isu gerakan perempuan, saya mengambil komitmen untuk ikut mendukung acara Women’s March Jakarta 2018 kemarin dengan menjadi volunteer di divisi acara. Women’s March Jakarta 2018 ini diselenggarakan oleh komunitas feminis bernama Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG).

Selama dua bulanan ini menjalani pengalaman sebagai volunteer di dua komunitas berbeda, saya belajar banyak. Banyak sekali.

1. Bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru. Mengenal lebih banyak tentang latar belakang sosial dan karakter yang berbeda-beda. Bertukar cara pandang. Berbagi pengalaman. Merayakan perbedaan sebagai sebuah keindahan dan keunikan.

2. Berjejaring dengan teman-teman yang sevisi untuk satu isu dimana saya sedang menaruh perhatian. Saya senang sekali dapat bertemu teman-teman yang memiliki semangat yang sama untuk menyuarakan pentingnya kesehatan mental, juga senang dapat bertemu teman-teman yang sehati-sepikiran untuk melawan patriarkhi dan mengupayakan kesetaraan gender di Indonesia.

3. Belajar lebih banyak hal tentang isu yang sedang diperhatikan. Terutama, dari yang lebih senior dan sudah memiliki jauh lebih banyak pengalaman mengenai isu. Sesi diskusi, online atau dalam pertemuan langsung, personal atau kelompok, bisa jadi menarik sekali untuk diikuti. Dua bulanan ini, rasanya sudah banyak sekali yang saya tuliskan di catatan pribadi.

4. Tujuan dan visi memang bisa menyatukan orang, meski sebelumnya tidak pernah saling kenal bahkan bertemu. Saya benar-benar teryakinkan bahwa tujuan dan visi memiliki daya energinya sendiri. Ini kekuatan yang sulit dijelaskan, namun sangat penting dimiliki dalam sebuah gerakan sosial, apapun isunya.

5. Pengalaman adalah harta. Dalam isu seperti kesehatan mental dan gerakan perempuan, pengalaman merupakan daya lain yang menggerakkan dan kemudian melahirkan tujuan dan visi. Pengalaman itu, jika dibagikan, pun menjadi harta. Tak semua orang bisa melihat harta itu berharga, tapi tak apa.

6. Belajar memahami kembali bahwa memperjuangkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap isu ternyata butuh proses yang tidak sebentar dan tidak mudah. Ada banyak pendapat dan asumsi. Ada saja yang pro dan kontra. Ada saja yang apatis. Kita butuh berkuat dan berteguh hati, dengan terus mengingat tujuan dan visi.

7. Belajar bahwa menjadi volunteer atau relawan memang mengenai kerendahan hati dan memberi diri. Ini bukan soal hebat-hebatan, ini soal niat dan ketulusan. Tidak ada benefit materil atau gaji, kita membiayai diri sendiri. Pekerjaan sosial seperti ini memang bukan tentang kita, tetapi tentang orang-orang yang kita bela. Tentang dampak sosial yang ingin kita lihat terwujud nyata.

Saya kira ketika menjadi volunteer atau relawan, ada satu tujuan : untuk melakukan perubahan. Sekarang ini, masyarakat Indonesia membutuhkan banyak perubahan sosial, di berbagai sisi area. Sekecil apapun perannya. Sesederhana apapun tugasnya. Lebih baik memulai dari hal yang kecil dan sederhana kan, daripada tidak sama sekali? :)

You May Also Like

0 comments