IN REMEMBRANCE OF BROTHER LODJAN REYNER (1991-2016)

by - August 18, 2017



Tulisan ini didedikasikan untuk saudara saya, Lodjan Reyner Siregar, yang telah bahagia bersama Bapa di surga. Telah satu tahun tertunda saya tuliskan. Tulisan ini dituliskan sebagai pengingat dan pengenang untuk apa yang saudara saya ini telah tinggalkan menjadi panutan dan teladan bagi saya pribadi.

* * *

Saya masih ingat. Saya sedang bertugas di sebuah pulau di barat Sumatera waktu itu, saat kabar itu datang. Hari masih pagi ketika mata saya membelalak tanda tidak percaya membaca di grup Whatsapp komunitas kami bahwa brother Reyner kritis setelah kecelakaan bis di pulau Kalimantan di seberang sana. Masih mengkonfirmasi dengan tak sabar, tak lama tiba foto jenazah yang mengiris hati saya dan semua saudaranya.

Saya mengenal Reyner sebagai seorang saudara yang sangat sederhana, rendah hati, dan bijaksana. Ia tak banyak omong, namun setiap yang dikatakannya tepat dan bermakna mendalam. Ia tipikal pemimpin yang memimpin dalam diam dan pertimbangan yang penuh perhatian. Dia adalah saudara seiman dan sekomunitas yang sangat saya hargai, sebagaimana juga semua saudara seiman dan sekomunitas saya lainnya di TMA. Apalagi, kami sudah ikut dari kala pertama kak Moren merintis komunitas. Tak hanya itu, saya dan Reyner juga memiliki ikatan saudara sungguhan dalam marga Batak. Saya Nainggolan dan Reyner Siregar – ada sejarah budaya yang mengaitkan dua marga ini dalam perjanjian sebagai saudara karena nenek moyang kami pernah bertukar anak di masa lampau. Karena itu, meski tak bisa dibilang dekat sekali atau intens berkomunikasi, saya tetap menganggap Reyner sebagai saudara saya.

Itu tahun 2009, ketika masih mahasiswa baru, ketika saya sudah mengenal Reyner. Berbeda fakultas memang, tetapi waktu itu saya ikut menjadi panitia sebuah social project dari BEM Universitas Indonesia, semacam community development yang adalah program kerja Departemen Sosial Kemasyarakatan BEM UI dimana Reyner menjadi salah satu anggota organisasi. Kemudian, seiring waktu berlalu, ternyata saya bertemu lagi dengan brother Reyner karena sama-sama menaruh perhatian pada perihal misi. Sampailah pada TMA. Saya ingat saya dan saudara-saudara di TMA termasuk Reyner, melintasi masa pergumulan panggilan bersama-sama di 2014. Dengan doa semalaman, dengan visi, dengan sharing heart to heart tentang pergumulan yang dihadapi. Itu sungguh tidak terlupakan, masa-masa awal TMA.

 
Tim TMA Untuk Borneo Mission, With Reyner As The Leader
Tengkuyung Team, With Brother Reyner

Saya mengenang brother Reyner sebagai seseorang yang sangat visioner terhadap ilmu ekonomi yang dipelajarinya. Kami semua ikut bahagia ketika akhirnya dengan segenap perjuangan ia bisa lulus ujian CPNS di Kementerian Keuangan, meski harus penempatan di seberang Pulau Jawa sana. Ya, Kalimantan. Kami melihatnya sebagai panggilan Tuhan secara khusus baginya untuk kembali ke pulau itu setelah mission trip kami di 2014 dari TMA, dimana brother Reyner juga menjadi team leader kami. Kami tahu, juga melalui kekasihnya yang juga saudara terkasih kami di komunitas TMA, Goei Diana, bahwa perjuangannya memulai panggilan pekerjaan di Kalimantan tidak gampang. Kami sampai membentuk tim doa khusus untuk Reyner, atas inisiasi Diana. Saya juga ingat ketika brother Reyner berbicara mengenai integrasi ilmu dan iman di bidang ekonomi, melalui buku. Saya sempat bilang, you should write one, brother. Itu bahkan obrolan tweet selintas di Twitter sebulan sebelum kepergian. Berasa baru saja, baru sekali.

Saya juga ingat suatu kali di kereta api Jakarta-Bogor dalam perjalanan pulang setelah doa semalaman komunitas bersama teman-teman, saya pernah mengobrol dengan brother Reyner tentang topik suffering lesson. Itu obrolan mendalam dengan brother Reyner yang paling saya ingat, karena jarang topik ini dialami yang lain dan jadi topik obrolan. Kami merenung bahwa kadang rencana Tuhan tak bisa kita duga atau prediksi. Namun, sesulit apapun memahami rencana itu, sebenarnya yang terpenting adalah ketaatan dan keberserahan akan apapun yang kita alami. Spesifiknya seperti gereja, komunitas, persekutuan, mungkin menetapkan standar (hasil) ideal. Seperti, di persekutuan kampus kami, anak-anak kelompok kecil yang kami bina diharapkan teregenerasi menjadi pelayan, pengurus, atau pemimpin kelompok kecil. Namun, baik Reyner maupun saya sadar, bahwa kami tidak mengalami “kesuksesan-kesuksesan” pelayanan ini di kampus. Lalu, krisis pribadi muncul dalam pertanyaan-pertanyaan: apakah kami gagal dalam pemuridan? Apakah rekan-rekan sepelayanan lain melihat kami gagal dalam pemuridan? Kami mengakui dalam kejujuran kadangkala ini menyangkut pride (secara manusiawi, seperti “masa pemimpin divisi kelompok kecil, anak-anak kelompoknya tak teregenerasi?” untuk saya dan “masa ketua persekutuan fakultas, anak-anak kelompoknya tak tergenerasi?” untuk Reyner), namun juga pertanggung-jawaban (secara spiritual) sebagai salah satu leader persekutuan di kampus. Kami sampai pada pertanyaan, apakah kita hanya ikut Tuhan dan hanya lakukan pemuridan atau pelayanan jika akan ada buah dan hasil? Bagaimana jika tidak ada buah dan hasil yang memuaskan, membanggakan, atau membahagiakan? Akhirnya kami menyadari, kalau upaya dan kesetiaan adalah milik kami, tapi hasil adalah semata-mata milik Tuhan. Sebagaimana rencana-Nya, yang kadang sulit dipahami.

Dalam kenangan-kenangan ini, seperti yang sudah saya bilang tadi, saya dan saudara-saudara sekomunitas mengenang Reyner sebagai pemimpin yang diam namun penuh pertimbangan. Rendah hati dan tak sombong sama sekali. Dalam introversionnya, ia juga seorang pemikir dan perenung yang hasil pemikiran dan perenungannya sangat mengena. Ya, salah satunya yang di atas itu.

Jadi, ketika berita itu datang, kami seperti disambar gledek. Tidak ada yang siap dengan berita itu. Terlalu mendadak. Terlalu tiba-tiba. Ini benar-benar kehilangan yang tak pernah kami prediksi sebelumnya, yang belum pernah kami alami sebelumnya. Saya ingat saya mulai panik campur rasa tidak percaya dan menangis sendiri di kamar sampai rekan kerja saya heran – saya tahu banyak dari saudara kami di TMA juga menangis di domisilinya masing-masing. Berat membayangkan bahwa brother Reyner ternyata sudah pergi duluan, tak lagi bisa kami temui dan tidak lagi bisa bersama-sama kami dalam pertemuan-pertemuan komunitas seperti biasanya. Dan ini, bukan karena jarak akibat penempatan pekerjaannya di lain pulau yang sementara. Ini untuk selama-lamanya, di dunia. Kami benar-benar kehilangan saudara yang berharga.

Namun, Tuhan lebih tahu, kami yakin. Setiap kejadian yang terjadi tak luput dari pengawasan-Nya. Kami tidak tahu mengapa, mengapa begitu cepat dan tiba-tiba, mengapa harus sekarang, mengapa Reyner dan bukan salah satu dari kami – tapi memang tak semua hal dapat kita mengerti. Seperti pun yang pernah dikatakan Reyner dulu, dalam obrolan di kereta.


* * *


Sampai tiga hari dari hari dimana kabar itu tiba, saya masih sering naturally menangis ketika mengingat brother Reyner. Salah satunya, merasa teramat sedih, karena tidak bisa ikut berbelasungkawa dan saling menghibur bersama Goei Diana dan saudara-saudara di TMA, karena saya sedang tugas liputan panjang (hampir sebulan) di Pulau Nias. Juga, mungkin karena ternyata saya termasuk salah satu dari hypersensitive person (HSP) secara psikologi, yang sangat cepat berempati dan meresap emosi orang lain, apalagi yang memiliki ikatan tertentu seperti persaudaraan ini – memang di grup komunitas, saudara-saudara kami di rumah Reyner tetap update kondisi terkini sebelum pemakaman, untuk bantu ditopang dalam doa oleh semua saudara yang tak bisa hadir bersama-sama disana.

Saya masih ingat. beberapa rekan saya di Nias sempat berkomentar setengah sinis dan menghakimi, mengapa saya harus menangis ketika brother Reyner sudah lahir baru dan percaya Yesus. Toh dia sudah lebih bahagia dari kami karena sudah di surga, menurut keyakinan kekristenan, kata mereka. Mereka beranggapan kehilangan ini tidak perlu ditangisi, tetapi saya pribadi merasa mereka menghilangkan aspek kemanusiawian manusia. Ya, saya tahu, dalam iman bahwa brother Reyner pasti berada di surga dan sudah lebih bahagia daripada kami – tapi secara manusiawi, kehilangan tetaplah kehilangan. Bagaimana kalau bapak atau ibu, kakak atau adik kandung mereka yang meninggal, apa tidak boleh menangis? Saya merasa itu sama artinya, sama-sama keluarga yang berharga. Saya, dan saudara-saudara saya, menangis karena kehilangan secara manusiawi, karena kami tidak akan lagi bertemu di dunia ini – tetapi tidak dengan menghilangkan pengharapan kami akan hidup kekal yang diterima Reyner yang sudah mengakhiri pertandingan imannya dengan sangat baik.

Selain itu, bagi saya pribadi, sebenarnya ada hal-hal khusus yang Tuhan ingatkan melalui brother Reyner beberapa bulan sebelum kepergiaannya. Ini termasuk salah satu yang membuat saya tak bisa menahan tangis mengingat brother Reyner saat itu.


* * *


Di masa-masa itu, 2016, sebenarnya saya sedang dalam masa stres berat mengarah ke depresi. Itu tahun terberat saya setelah alumni. Saya sering berharap bahwa Tuhan tak lama-lama untuk memanggil saya pulang (karena saya tak berkeinginan mati bunuh diri saat itu). Namun, tak juga Tuhan memanggil saya pulang. Malah, saya mendengar kabar bahwa saudara saya di komunitas dipanggil pulang lebih dulu.

Sejujurnya, saya sempat protes pada Tuhan. Kenapa harus brother Reyner lebih dulu dan bukan saya. Bagi saya, brother Reyner memiliki banyak rencana dan visi jangka panjang yang butuh dilanjutkan, termasuk rencana pernikahan dengan saudara kami Goei Diana dan panggilannya di Kementerian Keuangan. Sementara saya sedang benar-benar dalam fase krisis untuk menjembatani idealisme dan realita, dalam panggilan saya pribadi. Tentu lebih baik saya yang pulang lebih dulu, kalau bisa menggantikan – saya berkata dalam keegoisan saya. Namun, saya mengenang beberapa bulan sebelumnya. Di bulan Juli, di hari ulang tahun saya ke-25 dan brother Reyner mengirimkan wishes yang sangat mengena, karena tepat dengan apa yang Tuhan sedang ajar belakangan itu pada saya.

Soal apa? Soal kasih. Mengasihi musuh. Mengasihi seperti Yesus. Itu singkatnya dan tepatnya.

 
Last Message, The "Jleb" Verses
 
Last Status Whatsapp Reyner, Still About Loving Your Enemies

Waktu mengenang ini di posko kantor di pulau kecil di barat Sumatera itu, saya kembali menangis. Saya tahu, brother Reyner sudah siap dan saya belum. Saya tahu, brother Reyner sudah lulus ujian dan saya belum. Ini ujian penting. Ini tentang hukum yang terutama.

Wishes itu seperti pesan terakhir yang dititipkan Tuhan pada brother Reyner sebelum kepergiannya, untuk saya, sebagai seorang saudara. Sebuah pelajaran yang sulit. Sebuah pelajaran yang saya belum lulus-lulus juga. Namun, sebuah pelajaran yang saya tahu, saya harus lulus untuk siap pulang kemudian. Ya, pelajaran untuk mempraktikkan kasih yang sudah dipelajari.


* * *


Setahun sudah berlalu dari hari itu. Hari ini, hampir setahun kemudian, saya mengingat kembali semuanya. Dan akhirnya menuliskannya, untuk mengenang. Sejujurnya, saya masih ingin menangis dalam beberapa bagian ingatan – tapi sekarang ini, keyakinan saya bahwa Reyner sudah berada dalam hidup abadi yang bahagia bersama Yesus menjadi penghiburan yang menyemangati diri.




 Rest In Peace Brother Lodjan Reyner Siregar (1991-2016)

Terima kasih untuk setiap teladan dan pelajaran yang dapat kami lihat secara nyata dari sosokmu, Reyner. Terima kasih untuk kepemimpinanmu yang bijaksana dalam kesempatan-kesempatan yang ada. Terima kasih karena telah & pernah bersama-sama kami. Rest in peace, brother. Rest in peace. Yes, till we’ll see you again.

You May Also Like

0 comments