FOR YOU, WHO WRITE ABOUT SUICIDE & SPIRITUALITY

by - August 01, 2017


picture : vionaschools.org

Untuk kamu, untuk kalian, yang menulis tentang bunuh diri dan spiritualitas – tulisan ini saya tujukan. Tulisan ini disusun sebagai ungkapan isi hati, kiranya dapat dibaca bukan sebagai kritik yang mematahkan hati – tetapi lebih pada cara untuk memahami mereka yang ingin bunuh diri. Satu lagi, tulisan ini tidak ditulis untuk meromantisasi bunuh diri.

* * *

Pertengahan Juli 2017 lalu, di mata saya, Indonesia seperti diterjang isu bunuh diri. Beberapa kasus bunuh diri tokoh publik sempat disorot sebegitunya di media, diikuti dengan viralnya video bunuh diri yang menurut saya tak seharusnya diviralkan. Di tengah isu ini, saya melihat banyak post juga yang merespon mengenai isu bunuh diri. Seperti beberapa komunitas yang menaruh perhatian pada isu mental health dan bunuh diri, yang post-nya mengarah pada edukasi dan menawarkan emotional supports bagi mereka yang mungkin memiliki suicidal thoughts. Saya sangat mengapresiasi. Namun, ada juga post lain yang jujur, membuat saya patah hati. Karena cenderung menilai dan menghakimi—tanpa berusaha memposisikan to stand in their shoes. Ditambah lagi, sayangnya, tulisan-tulisan (entah di blog, akun social media, atau bahkan di media resmi) ini malah dihubungkan dengan spiritualitas.

Biasanya, di ujung tulisan, kesimpulannya sama : itu karena kita tidak lari kepada Tuhan sebagai solusi. Saya tidak mengingkari bahwa saya juga setuju bahwa Tuhan adalah sumber segala solusi – tapi bolehkah kita tidak menuliskannya setelah menghakimi jalan hidup dan pilihan yang diambil orang lain, di media publik? Seperti cerita Chester Bennington yang sering dibahas di dalam tulisan-tulisan sejenis ini. Rasanya kejam sekali, kita, sebagai orang yang mungkin menganggap diri spiritual, harus menghakimi hidupnya yang sudah meninggal. Apakah menghakimi adalah bagian tugas kita sebagai manusia? Bisakah kecenderungan untuk menghakimi ini diminimalisasi?

Pernahkah kita berpikir bagaimana jika keluarga dari mereka yang meninggal akibat bunuh diri ini membaca apa yang kita tulis, yang penuh penilaian dan penghakiman itu? Bagaimana jika kita memiliki seorang kenalan atau keluarga yang kita sayangi yang kemudian meninggal akibat bunuh diri, dan kita membaca post seperti itu tentang dirinya yang sudah tiada?

Belum lagi, tulisan-tulisan yang ditulis dengan menimbang beban hidup – mana yang lebih ringan dan mana yang lebih berat, sehingga berujung pada keputusan bunuh diri. Perkataan-perkataan menghakimi seperti “yah seperti itu aja beban lo bunuh diri, itu masih bisa diatasi kali” atau malah “ya berat sih bebannya dibanding gue, makanya mungkin karena itu dia bunuh diri”. Dear all, kita tidak bisa menimbang-nimbang beban, apalagi dari sudut pandang sendiri – yang tidak pernah mengalami. We are not standing in their shoes. We never experience his or her life. Apa yang dipandang orang lain sebagai beban berat belum tentu berat bagi kita, namun sebaliknya, apa yang kita pandang beban berat belum tentu dipandang berat bagi orang lain juga. Berat tidaknya beban, merupakan sesuatu yang amat-sangat relatif. Tidak bisa diukur atau disamaratakan. Itu juga mengapa belum ada penyebab pasti untuk depresi dalam ilmu psikologi.

Saya sangat menyesali juga mereka yang menulis mengenai bunuh diri tanpa sebelumnya belajar mengenai mental health dan suicidology. Mental health is complicated, dear friends. Depression is not an easy thing. Bagi seseorang yang mengalami depresi berat yang merupakan salah satu penyebab keputusan bunuh diri, hal-hal seperti berpikir positif atau memiliki harapan merupakan sesuatu yang sangat-amat sulit dilakukan. Dunia tampak hancur lebur, pilar-pilar kehidupan runtuh. Termasuk jika diminta untuk berdoa, mencari Tuhan. Secara khusus, mereka yang menderita spiritual depression, tulisan-tulisan ini tampak sangat menghakimi dan menyakiti. Mereka lelah dengan teori. Mereka tidak butuh dikhotbahi, dinasehati ini-dan-itu mengenai spiritual things. Mereka butuh emotional supports, kasih yang nyata ditunjukkan, yang tanpa lelah dan tidak menyerah (harus diakui, memang tidak gampang mendampingi seseorang yang menderita depresi).

Ketika pilar-pilar kehidupan runtuh dan harapan hidup esok hari hilang (secara ilmiah, depresi juga berdampak pada kondisi otak, jadi bukan sekedar mengenai kondisi hati yang bisa diubah sekejap mata), emotional supports from others menjadi teramat signifikan untuk menolong mereka yang mengalami depresi atau berkeinginan untuk bunuh diri. Nah apakah kita sudah mencoba mengulurkan tangan untuk menawarkan emotional support yang tulus bagi mereka, sebelum kita berkomentar subjektif yang negatif dan menghakimi mengenai keputusan mereka untuk bunuh diri? Apalagi dalam tulisan-tulisan yang diunggah di media publik?


Picture : University of South Indiana

Karena itu, sejujurnya, saya lebih mengapresiasi tulisan-tulisan non-spiritual mengenai bunuh diri yang ditulis oleh mereka yang bekerja atau memberi perhatian untuk menangani isu mental health, daripada tulisan-tulisan spiritual sejenis yang saya bahas di atas tadi. Tulisan-tulisan non-spiritual tampak lebih menawarkan solusi dan pertolongan yang nyata. Tidak sekedar teori, tentang seharusnya begini seharusnya begitu. Namun, memberikan emotional supports sesungguhnya, dengan nyata-nyata membubuhkan nomor telepon yang bisa dihubungi dari komunitas atau organisasi yang menangani isu mental health dan bunuh diri. Saya pikir dalam tulisan-tulisan spiritual yang membahas mengenai bunuh diri, kita perlu menawarkan solusi nyata juga. Tidak sekedar berkata bahwa masih ada Tuhan, tapi tidak membantu mereka menemukan Tuhan yang sedang tidak bisa mereka cari sendiri. Kita perlu mencantumkan nomor kontak counseling center atau mungkin nomor kontak penulis untuk menolong mereka yang memiliki suicidal thoughts, daripada sekedar teori dan banyak menghakimi.

* * *

Saya tidak ingin meromantisasi depresi atau bunuh diri. Saya tetap berharap setiap rekan yang mengalami depresi atau yang memiliki suicidal thoughts, bisa melewati masa gelap itu dan survive together. Namun melalui tulisan ini, saya ingin menggugah orang-orang yang mungkin tidak mengalami depresi atau tidak memiliki suicidal thoughts, untuk lebih peduli dan memahami. Kepeduliaan yang dipadu dengan pemahaman yang tepat akan menolong kita untuk menolong mereka yang mengalami depresi atau memiliki suicidal thoughts.

Let’s spread love, not hate. Let’s spread love, not judgement.
Let’s survive together. Together is better.



p.s. :

Bagi rekan-rekan yang ingin memahami lebih banyak mengenai mental health atau suicidology, saya merekomendasikan untuk mencoba belajar bersama Komunitas Into The Light Indonesia, Mental Health Care Foundation, Healthy Place, Bring Change To Mind, dan No Stigmas.

You May Also Like

0 comments