Friday, 2 June 2017

BINCANG PAGI


Bangunlah, sudah tinggi mentari.
Kali ini, mari kita upayakan kembali.

Tarik nafasmu sebisanya.
Bangkit dari kasurmu semampunya.
Bersihkan tubuhmu sekedarnya.
Suapkan sesuatu ke mulutmu secukupnya.
Berjalan, bergerak, dengan sisa-sisa daya
dan rekognisi sebagai manusia.

Aku maklum, kemarin memang payah
Hatimu tetap lelah. Jiwamu masih patah.
Namun selimut bukanlah perisai,
dan kamar tak cukup kokoh menangkis.
Tikaman teriak penghakiman dari kepalamu sendiri.
Yang mengendap di permukaan bantal
lalu meringsek hingga alam mimpi.

Aku pun tak janji, di luar petak pembaringan,
segala hunjaman akan berhenti.
Tapi siapa tahu, kau bertemu nyala yang kau cari-cari.
Yang takkan kau dapati dengan meringkuk di balik
pintu yang terkunci.
Dari pagi hingga pagi berikutnya lagi.

Bangunlah, setidaknya untuk menangisi
Hari ini, tanpa topeng sama sekali.



p.s. :
Sekali lagi, dengan empati untuk semua yang lelah.
Sebuah puisi karya rekan penulis & saudara sepenanggungan,
Ruth Lidya Panggabean. Depok, 2017.

No comments:

Post a Comment