Friday, 16 December 2016

MANUSIA AGAMAWI


Kita tidak bicara tentang Tuhan. Kita bicara tentang agama. Yang berseliweran dimana-mana. Simbolisasi ini-itu. Pertunjukan ini-itu. Menyolok perbedaan-perbedaan bermekaran. Yang kemudian dihakimi ini-itu. Entahkah memang agama bertujuan menyeragamkan saja seperti itu?

Apakah terlihat suci lebih penting dari relasi? Apakah menjadi suci berarti menghakimi? Apakah menjadi suci berarti meninggikan diri? Apakah menjadi suci berarti meminggirkan yang tak suci?

Sekali lagi, kita tidak bicara tentang Tuhan. Kita bicara tentang agama, manusiawi. Manusia-manusia yang bagai potongan puzzle, tapi tak bisa saling menerima atau melengkapi. Manusia-manusia yang saling menghakimi. Di dalam kelompok nama yang sama atau berbeda, sama saja semuanya.

Tidakkah kita percaya bahwa Tuhan mengasihi? Bahkan yang tak suci? Tidakkah kita percaya bahwa Tuhan lebih menginginkan relasi pribadi daripada peninggian diri sendiri?

Manusia agamawi sibuk. Dengan segala urusannya. Ini dan itu. Itu dan ini. Sibuk dengan orang lain: antara mengasihi atau menghakimi. Sampai lupa diri, lupa sendiri, relasi pribadi dengan Tuhan yang katanya sedang diurusi.

Penghakiman lahir darisitu, dari manusia agamawi yang lupa diri. Kita percaya manusia yang percaya Tuhan adalah Tuhan memiliki relasi yang lebih dari sekedar relasi. Keintiman melahirkan kasih yang mendalam. Dan kasih tentu tidak menghakimi.


p.s. :
Anggap saja, sebuah kritik atau mungkin, keluhan sosial. Yang tidak tahu harus ditujukan tepatnya untuk siapa. Cikarang, 16 Desember 2016.