2014 & 2015

by - January 15, 2015


Photo by Amy Reed on Unsplash

Engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya,

Aku berkata kepadamu:

“Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”;

janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu;

Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan

tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.



(Yesaya 41:9-10)



Tahun 2014 lalu kubuka dengan ayat di atas. Tuhan memberikan ayat itu secara personally di ibadah awal tahun yang kuhadiri di sebuah gereja di kota Depok, tepat di tanggal 1 Januari 2014. Setiap orang harus maju ke altar dan didoakan oleh gembala, lalu setelahnya mengambil satu saja dari sekian banyak ayat di dalam sebuah keranjang yang sudah disiapkan pengurus gereja. Ayat-ayat itu dirangkai indah dalam desain sebuah pembatas Alkitab.

Sesampainya kembali di tempat dudukku, aku memandangi ayat yang tertulis sederhana tapi indah di atas pembatas Alkitab tersebut. Ingin menangis. Sungguh, ayat itu sangat menyentuh hatiku. Seperti Tuhan berbicara langsung melaluinya. Harus kuakui, aku menutup tahun 2013 dengan sebuah momentum yang sangat menggoncangkanku. Secara apapun juga, termasuk secara spiritual. Aku nyaris tidak memiliki semangat lagi untuk memulai tahun yang baru, untuk meneruskan hidup yang diabdikan bagi Tuhan—sampai di pagi hari pertama itu, Tuhan memberikanku encouragement ini.

Mendapat kepastian kalau aku tidak ditolak Tuhan—kalau Tuhan masih bersamaku—itu merupakan penghiburan luar biasa. Semangat kembali muncul dari dalam diriku, dan optimisme untuk melanjutkan perjuangan juga kembali datang. Aku merasakan kembali pelukan hangat dari Bapa Surgawi. Air mataku dihapus. Dan hatiku diteguhkan. Dan janji dalam ayat itu benar. Seutuhnya benar.

Tahun 2014 bukanlah sebuah tahun yang segelap 2013. Di tahun 2014, banyak pintu terbuka—ini menggenapi tema tahun 2014 di gereja tempatku berjemaat: “Tahun 2014: Tahun Dibukanya Pintu-Pintu Mukjizat”. Satu demi satu, sampai takjub sendiri. Ternyata Tuhan memberikan banyak kejutan di tahun 2014. Banyak amazing wonders—sesuai dengan tema tahun 2014 di kantorku sekarang (kantorku memang punya tema tahunan untuk sumber semangat para staf-nya). Amazing Wonders yang paling kusyukuri adalah kesempatan untuk menginjakkan kaki di tiga pulau yang berbeda di Indonesia di 2014 yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Sulawesi, Kalimantan, dan Pulau Nias. Belajar banyak hal, yang berbeda, di setiap pengalaman kunjungan tersebut. Mulai dari pesisir sampai pedalaman hutan. Lautan luas sampai sungai-sungai panjang.

Tahun 2014 ini juga penuh dengan orang-orang baru, yang banyak sekali. Apalagi setelah bekerja di kantor NGO yang sekarang ini. Kenalan-kenalan baru. Saudara-saudara baru. Komunitas baru. Dimana-mana. Aku menikmati kesemuanya dan bersyukur untuk kesemuanya. Aku juga merasa diajar untuk bertambah dewasa karena mengenal orang-orang yang sudah lebih dewasa. Kadang tidak percaya, ternyata aku sudah lulus kuliah dan sudah bekerja sekarang. Beberapa teman sudah sibuk membicarakan masalah pernikahan. Bahkan, ada juga yang bercerita banyak mengenai anak-anak mereka. Wah, duniaku sudah sangat berubah. Selamat datang, di dunia orang dewasa :”)

Tahun 2014 ini juga istimewa, karena terkait dengan tahun sebelumnya (tahun 2013), aku belajar sebuah pelajaran next level dari Tuhan. Pelajaran mengenai penderitaan. Bahwa penderitaan adalah juga sebuah anugerah. Akan mudah bagi kita untuk mengaminkan hal-hal menyenangkan hati sebagai anugerah—tetapi penderitaan? Jujur saja, ini bukan pelajaran yang mudah. Aku sendiri merasa kesusahan, di awal. Di tahun 2013 yang kuakhiri dengan meraba-raba dalam “kegelapan”, nyaris tanpa harapan. Tapi akhirnya, karena kasih dan kesetiaan Tuhan, karena Tuhan itu baik—aku bisa sampai di saat ini dan sudah dapat belajar untuk berkata, “ya, penderitaan itu adalah juga sebuah anugerah.” Dalam rangkaian pembelajaran ini, tak lupa, Tuhan mengajari untuk berdoa syafaat bagi penderitaan—bukan penderitaan-ku, tapi penderitaan orang lain. Sungguh, sebuah pelajaran istimewa yang, harus diakui “berat”—tetapi sangat berharga, dari Tuhan.

Tahun 2014 ditutup dengan menikmati kembali atmosfer kota tempatku dibesarkan selama belasan tahun—kota Medan. Aku terbang ke Medan, tepat menjelang malam natal di 24 Desember 2014. Meski sempat sakit demam tinggi sepanjang hari Natal (24-26 Desember 2014), bersyukur masih bisa menikmati penutupan tahun 2014 dan pembukaan tahun 2015 di kota Medan dengan kondisi fisik yang sudah pulih. Tentu saja, dengan keluarga disana.

Membuka tahun 2015 pun menjadi sebuah momentum dimana aku kembali mendapatkan janji dalam ayat yang baru dari Tuhan. Sesuai dengan tema di kantor, “The Year of Breaking Into The New”—aku merasa ayat ini pas sekali melengkapi. Yesaya 43:18-19. Ayat ini merupakan ayat yang kutemui dari banyak renungan harian online tepat di tanggal 1 Januari 2015. Bisa pas begitu. Padahal, biasanya ayat yang dibagikan renungan-renungan ini di tiap harinya ataupun di awal tahun berbeda-beda. Bagi orang lain kebetulan? Bagiku, peneguhan. Ayat ini langsung meloncat lagi ke dalam hati, karena beberapa hari sebelum tahun baru, aku sudah pernah mendengar khotbah yang sangat menguatkan mengenai ayat ini dan tahun baru 2015 :”)

Jadi, aku membuka 2015 dengan sebuah resolusi. Untuk menjadi lebih baru lagi di dalam Kristus Yesus. Siap dibentuk meski harus merasa “sakit” demi menggenapi apa yang sudah Ia rancangkan itu. Happy Breaking Into The New!*



Firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu

 dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru,

yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun

 dan sungai-sungai di padang belantara.”



(Yesaya 43:18-19)


You May Also Like

0 comments