DI BELOKAN JALAN RAYA

by - January 23, 2015



Aku takkan pernah lupa suatu kali ketika aku sedang memandangi keluar jendela mobil kantor setelah tugas liputan bakti sosial di salah satu daerah di Jabodetabek tuntas. Hari masih siang dan jalanan sudah padat. Aku duduk di pinggir, dekat jendela. Sengaja. Tak ingin kehilangan momentum dimana aku bisa memotret kehidupan dengan lensa mataku sendiri, dengan kedua bola mataku, dan belajar darinya. Tak lupa, mendoakannya. Meski hanya sebuah jerit hati prihatin yang pendek kepada Sang Empunya Segala Kehidupan.

Mobil kantor siap berbelok ke arah kiri, keluar dari jalan kecil menuju jalan raya yang lebih padat dan ramai. Dan di sudut tempat mobil kami membelok itulah, aku menemukan sang nenek. Seorang nenek yang tampak tua renta dengan pakaian seadanya. Terlihat kusam dan berdebu. Sendirian, tak berkawan. Duduk di sebuah kursi kayu yang diletakkan sembarang di pinggir jalan kecil. Di tangannya, ada sebuah plastik kecil. Sepertinya berisi bumbu kacang, yang sudah nyaris habis. Mungkin nenek itu sedang menikmati sebungkus siomay kacang sebelum aku menemuinya dalam pandangan mataku. Siomaynya sudah habis, dan tinggal sisa bumbu kacang yang menempel di plastik. Meski begitu, sisa bumbu kacang itu, tak dibiarkannya terbuang. Nenek yang sangat sederhana ini justru dengan segenap semangat mengeruk sisa bumbu kacang itu dengan sendoknya yang juga terbuat dari bahan plastik. Sampai di ujung plastik, bumbu itu kembali ia sendokkan ke dalam mulutnya. Dengan sangat nikmat. Sampai bersih—seluruh plastik dan sendok. Aku terenyuh.

Berapa kali aku membeli siomay dan setelah seluruh siomay-nya habis membiarkan saja bumbu kacangnya terbuang bersama plastiknya? Bagiku, bumbu kacang dari siomay yang kubeli tidak seberarti itu—tapi bagi si nenek. Hatiku terenyuh lagi. Mungkin sebungkus siomay adalah salah satu makanan ternikmat yang dapat ia nikmati. Mungkin sebungkus siomay itu adalah satu-satunya makanan yang bisa dibeli dan dimakannya hari itu. Mungkin sebungkus siomay itu adalah sebuah jawaban doa yang datang tepat ketika kelaparan sangat melandanya.

Mobil kantor kami terus berjalan, berbelok. Sosok nenek itu hilang di balik tembok di jalan raya. Aku melepas kata selamat tinggal sekaligus sebuah doa singkat. Meski dengan hati yang masih patah, untuk subuah potret wajah kehidupan yang baru saja kusadari. Sebuah doa yang sulit untuk diceritakan—karena ketidaksanggupanku untuk berhadapan pada kerasnya raut wajah kehidupan, yang baru saja kutemukan.

Pikiran dan perasaanku kembali pada realita ini. Kaum lansia merupakan salah satu kelompok marginal yang rentan tereksklusi dari kehidupan. Dibuang dan terbuang oleh keluarga—itu mungkin saja terjadi. Kita tidak akan pernah tahu. Dalam kelemahan fisik dan keterbatasan mereka, tidakkah sebenarnya mereka butuh dikasihi? Beruntunglah para lansia yang masih memiliki anak-cucu ataupun keluarga yang setia membagikan rasa kasih sayangnya pada mereka. Beruntunglah para lansia yang masih memiliki tempat perteduhan, meskipun itu sebuah panti yang sebenarnya tak ingin mereka singgahi. Setidaknya mereka lebih beruntung, dari para lansia yang tidak punya siapa-siapa dan tidak memiliki tempat yang layak untuk meletakkan kepalanya. Setidaknya mereka lebih beruntung, dari para lansia yang harus tidur di jalanan yang keras dan dingin dengan selembar koran sebagai alas kepalanya.

Sebuah pertanyaan kembali menganggu pikiranku : siapa yang peduli terhadap kaum lansia yang sendirian dan tak berpunya?



p.s. :

Jika engkau bepergian melalui jalan raya, jangan lupa, perhatikanlah juga apa yang mungkin kau temui dalam pandangan matamu di pinggirnya. Di pinggir jalan. Di pinggir jalan itulah, engkau kadang menemukan kehidupan yang tak pernah kau kenal—sebuah kehidupan dengan orang-orang yang tak seberuntung engkau dan orang-orang yang membutuhkan uluran tanganmu. Jangan hanya sibuk dengan smartphone, tablet, atau note-mu. Jangan hanya memilih untuk memejamkan mata dan tidur. Jangan mau menyia-nyiakan waktu, kesempatan, untuk engkau bisa belajar. Bahwa kehidupan memiliki begitu banyak ragam wajah. Dan tak lupa, berdoa untuk mereka. Dan mungkin, sesekali, atau bahkan setiap hari, kau bisa berbagi. Sebuah tindakan nyata yang bisa memberikan warna lain dalam raut wajah kehidupan mereka yang terasa terlalu buram untuk mereka nikmati.


(Cikarang, 23 Januari 2015. Untuk para lansia sederhana yang tak berpunya, teristimewa yang pernah kutemui. Entah di dalam perjalananku atau dalam kunjunganku ke panti jompo atau dalam liputan bakti sosial kantor. Dalam kelemahanmu, kakek & nenek, semoga kekuatan Tuhan selalu menjagaimu.)*

You May Also Like

0 comments