GRACIOUS TEMPEST

by - October 23, 2014


Suatu kali. Di tengah malam, nyaris. Awal Oktober 2014. Di Pulau Nias. Ketika sedang merasa lelah dan butuh Tuhan—sesuatu yang disebut spiritual hunger atau spiritual thirst—lalu aku kembali membaca sebuah perikop dari kitab Mazmur di Alkitab miniku, yang menjadi perenunganku sejak pagi hari itu. Mazmur 116.


Tidak ada suara lain, selain suara serangga-serangga malam yang ribut di halaman posko kantorku. Seorang kakak perempuan, rekan sekantor setim untuk liputan Nias yang sekamar denganku juga sudah tertidur lelap. Aku tinggal sendiri, terbangun. Menikmati detik-dan-menit keteduhan malam untuk mencari wajah Tuhan. Sebuah keajaiban juga aku tidak ketiduran malam itu, meski sudah sangat lelah secara fisik.

Aku merindukan Tuhan—itu yang kurasakan saat itu. Aku rindu menyanyi untuk Tuhan, jadi aku membuka layar tabletku dan mulai memilih lagu di galeri video. Di kepalaku, aku teringat sebuah lagu cinta yang ingin kunyanyikan untuk Tuhan—namun ternyata, jariku tak sengaja menyentuh bagian layar lain, yang membuat video player di tabletku memutarkan lagu lain tanpa kusadari.

Sebuah lagu yang baru kudownload beberapa hari sebelumnya, dari Hillsong Live. Yang belum pernah kudengarkan sebelumnya. Yang akhirnya kubiarkan terputar dan nadanya mengisi ruang udara malam hari itu dalam kesendirianku mencari hati Tuhan. Judulnya, Gracious Tempest. Dinyanyikan oleh seorang perempuan dengan suara yang sangat merdu, dengan iringan piano yang indah. Aku tertegun. Mendengarkan. Menikmati.

Lagu itu, dalam keseluruhan detailnya, menyentuh jiwaku. Hatiku. Sampai tiba di bagian dimana perempuan itu, sang worship leader, membacakan beberapa ayat dari Kitab Suci. Aku tidak menyangka di bagian tengah lagu, ia akan membaca ayat Kitab Suci. Sama sekali tidak menyangka. Itu menjadi sebuah kejutan sendiri bagiku. Aku masih terus mendengarkan, sampai menyadari sesuatu—yang membuat air mataku mengalir sendiri tanpa kusadari. Meski ia membacakannya dalam versi bahasa Inggris, aku mengetahui tepat ayat-ayat yang ia bacakan itu.

Beberapa ayat dari Mazmur 116.
Membuatku mengingat kembali keseluruhan Mazmur 116—
Psalm 116, dalam bahasa Inggris.

“I love the LORD, for He heard my voice; he heard my cry for mercy. Because he turned his ear to me, I will call on Him as long as I live. The cords of death entangled me, the anguish of the grave came upon me; I was overcome by trouble and sorrow. Then I called on the name of the LORD: "O LORD, save me!" The LORD is gracious and righteous; our God is full of compassion. The LORD protects the simplehearted; when I was in great need, He saved me. Be at rest once more, O my soul, for the LORD has been good to you. For you, O LORD, have delivered my soul from death, my eyes from tears, my feet from stumbling, that I may walk before the LORD in the land of the living. I believed; therefore I said, "I am greatly afflicted." And in my dismay I said, "All men are liars." How can I repay the LORD for all his goodness to me? I will lift up the cup of salvation and call on the name of the LORD. I will fulfill my vows to the LORD in the presence of all his people. 15 Precious in the sight of the LORD is the death of his saints. O LORD, truly I am your servant; I am your servant, the son of your maidservant; you have freed me from my chains.  I will sacrifice a thank offering to you and call on the name of the LORD.  I will fulfill my vows to the LORD in the presence of all his people, in the courts of the house of the LORD—in your midst, O Jerusalem. Praise the LORD.” (Psalm 116 NIV)

Sungguh seperti cara Tuhan menyapaku di tengah malam, menyatakan bahwa Dia hadir dan dekat. Bahwa Dia mendengarkanku. Bahwa Dia mengingini aku terus merenungkan dan mengenggam ayat-ayat itu. Mazmur 116. Dalam segala kesadaran dan kekaguman akan cinta Tuhan yang amat-sangat-mendalam bagi diriku. Akan intervensi-Nya yang nyata dalam perjalanan kehidupanku—

Ia yang tidak membiarkanku menangis,
Ia yang tidak membiarkanku tersandung,
Ia yang tidak membiarkanku binasa.
Mati kekal—tidak.

Dan aku kembali, merasa dipeluk hangat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa malam itu. Bapaku, Ayahku yang luar biasa. Kekasih dari jiwaku. Gembala yang baik. Sahabat sejati. Dan terus menangis, karena terharu.

Malam itu, aku kembali menyakini, bahwa Tuhan itu dekat. Bahwa cinta-Nya itu kekal. Unending, unfailing. Bahwa Dia tidak akan pernah berhenti menjadi tempat perteduhan satu-satunya, bagi setiap kelelahan dan keluhanku. Tidak peduli, di tengah malam atau di pagi subuh, atau di siang terik—Dia selalu. Mengasihiku. Dan Dia juga selalu. Membuktikan itu.


Your love towers over me
Gracious tempest in the sea
Your love is like a storm
Let this tide of mercy rain
Let it flood my heart again
Surround me like an ocean

Your love is crashing over me
Surging like a raging sea
Immerse me in the wonder of Your love

A downpour of unending grace
Consuming all my reckless ways,
My sins submerged
Your love has saved my soul

Your love is like a storm

Your love is crashing over me
It's surging like a raging sea
Immerse me in the wonder of Your love

A downpour of unending grace
Consuming all my reckless ways,
My sins submerged
Your love has saved my souL
Your love is like a storm
Your love is like a storm
Your love is like a storm


(Hillsong Live,
Gracious Tempest)


p.s. :


Dan lagu ini, masih terus menemani dan mengingatkanku, sampai dengan saat ini, akan sebuah kasih yang tiada tertandingi. Sebuah kasih yang menyelimuti total. Sebuah kasih yang tidak menyerah, untuk menjadikan hatiku, milik-Nya seutuhnya.

You May Also Like

0 comments