Tuesday, 9 September 2014

10.000 REASONS




 Matt Redman - 10.000 Reasons

Sulit menyatakan rasa amazed yang kurasakan ketika menyanyikan lagu ini untuk Tuhan. Lagu ini—sebenarnya sudah lama kudengar, kukenal, dan kunyanyikan dalam Sunday Service di gereja—tetapi selama ini aku tidak terlalu mengingatnya. Di Sunday Service hari minggu kemarin, lagu ini kembali dinyanyikan. Aku masih tak mengingatnya. Sampai petang menjelang malam kemarin, di waktu yang kudedikasikan untuk bersama Tuhan Yesus—tiba-tiba aku teringat akan lagu ini dan refleks menyanyikannya. Lagu yang tidak ku tahu apa judulnya dan siapa penyanyinya. Hanya sepenggal lirik refrein-nya.

Pencarian google membuatku mengetahui bahwa ternyata judulnya 10.000 Reasons yang dinyanyikan oleh Matt Redman. Setelah mencermati keseluruhan liriknya dan melihat cuplikan videonya di YouTube ini, aku semakin merasa tersentuh oleh lagu ini dan amat-sangat-ingin untuk terus menyanyikannya buat Tuhan. Seperti hari ini, masih. Setelah hari-hari degradasi yang minim bahkan kadang tanpa nyanyian pujian syukur kepada Tuhsan sama sekali, akhirnya aku bisa menyanyi lagi dengan sepenuh hati! Sing like never before, oh my soul! *
Bless the Lord, O my soul / O my soul /
Worship His Holy Name / Sing like never before /
O my soul / I'll worship Your Holy Name /

You're rich in love, and You're slow to anger /
Your name is great, and Your heart is kind / For all Your goodness
I will keep on singing / Ten thousand reasons for my heart to find /

Bless the Lord, O my soul / O my soul /
Worship His Holy Name / Sing like never before /
O my soul / I'll worship Your Holy Name /
Jesus, I'll worship Your Holy Name /

And on that day when my strength is failing /
The end draws near and my time has come / Still my soul will sing
Your praise unending / Ten thousand years and then
forevermore /

p.s. :

Ada satu alasan lagi yang membuatku amazed ketika mengetahui judul lagu ini—yang mungkin tidak bisa kuceritakan lengkap disini. Intinya, beberapa bulan yang lalu, sebenarnya aku sudah pernah melihat seorang teman mengupdate-nya di salah satu social medianya. Lagu ini. Ketika melihat, aku langsung tertarik membaca judulnya. 10.000 reasons (bless the Lord). Sayangnya, karena terlalu banyak yang harus diurus, aku tak sempat membuka google dan mencaritahu lagu itu. Aku sama sekali tidak mengira,  kalau lagu itu adalah lagu yang sama dengan lagu ini. Lagu yang selama ini juga sudah kunyanyikan di Sunday Service di gereja. Aku merasa amazed untuk sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Di atas segalanya, it’s all because God is awesome forever! He planned the best for all, for us :”)


THEIR LAST YEAR AS COLLEGE STUDENT


screenshoot halaman twitter dengan editan rame

Waktu berlalu dengan sangat cepat ya? Tidak terasa. Rasanya baru kemarin saya bertemu mereka untuk yang pertama kali di acara penyambuatan mahasiswa baru di kampus. Rasanya baru kemarin saya menjadi mahasiswa tingkat tiga, yang berusaha belajar menjadi lebih dewasa. Rasanya baru kemarin. Tapi saya salah, ternyata tidak. Kini, sudah tiga tahun berlalu semenjak hari itu. Kami sudah tumbuh semakin besar, dewasa. Masing-masing dengan pergumulan kehidupannya, dalam perjalanan perjuangannya untuk mencintai Yesus. Sudah satu setengah tahun yang lalu, saya melepas status mahasiswa. Dan sekarang, adik-adik yang dulu masih mahasiswa baru sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir! Betapa cepat waktu berlalu.

Masing-masing dengan skripsinya. Masing-masing dengan penelitiannya, dengan magangnya. Sebentar lagi mereka akan sarjana. Deadline skripsi, sidang, wisuda. Menjadi alumni dan bekerja. Betapa cepat waktu berlalu.

Dalam jarak dan waktu yang menjedakan kami sehingga tidak bisa bertemu face-to-face seperti dulu, saya benar-benar harus berterima kasih pada Tuhan dan pada social media seperti twitter ini—yang menghubungkan kami. Yang menjadi ruang dimana semangat dibagikan, kasih persaudaraan diekspresikan, dan doa ditanam. Betapa aku terharu berat membayangkan bahwa sebentar lagi mereka akan sidang, lulus, dan wisuda. Dalam anugerah Tuhan, selamat berjuang, dear KK sisters :”) clara, riris, feb, mima, my prayer is be with you, whenever and wherever you go :)

Monday, 8 September 2014

WAVES & HOPES


www.spiritualinspiration.tumblr.com

Pernah merasakan ketika badai hidup terasa menerpa terlalu kuat sehingga sauh (pengharapan)-mu menjadi kurang kuat untuk menopang kapal kehidupanmu? Ya, untaian kata-kata ini terkesan terlalu berat ya. Mungkin bisa disimplifikasi ketika apa yang kau lihat belum sama seperti apa yang kau harapkan? Berharap disini dimaksudkan untuk konteks spiritual, dimana dalam pengharapanmu, ada kamu dan Tuhan yang terlibat berdua. Tuhan memberikanmu suatu janji untuk masa depanmu, dan sebagai respon untuk mempercayai Tuhan—kamu pun mulai bertahan, tumbuh, dan berjuang dalam pengharapanmu (akan janji Tuhan). Nah, dalam hal ini, aku sendiri merasakan, kalau ada saatnya ujian to live not by sight, not by feeling, but by faith—itu bukan perkara yang selalu gampang. Apalagi jika janji Tuhan memintamu menunggu dalam pengharapan dalam waktu yang tidak singkat. Meski mungkin tidak selama Abraham, yang menanti penggenapan janji Tuhan dalam pengharapannya begitu lama—hitungan puluh tahun, tapi mungkin bagimu, yang merasa dalam kemanusiawian, itu juga sudah cukup lama. Harapan benar-benar dipertaruhkan ketika situasi terasa tak sejalan. Aku harus mengakui, ini tidak mudah. Berkali-kali lelah dan ingin menyerah dalam segala keletihan spiritual-fisik-dan-emosional, Tuhan Yesus adalah Tuhan yang begitu luar biasa sabar dan keren. Selalu ada. Strength unknown, He provides. Seperti gambar yang kutemukan di salah satu Christian tumblr ini. Sekali lagi, gambar ini mengingatkanku, to not live by sight—but live by faith! Don’t let these waves wash away your hopes! Keep trusting Jesus! :”)

Thursday, 4 September 2014

PHOTO SHOOT! (7)


Kembali, mengabadikan foto-foto tak sengaja diambil dari liputan lapangan saya disini. Kali ini, semua foto, keempat-empatnya bertemakan anak-anak yang ingin difoto. Jadi, mereka memang bergaya segaya-gayanya yang mereka ingin dan bisa di depan kamera. Harap maklum :D Semua foto dengan anak yang berbeda di ambil dari lokasi liputan lapangan yang berbeda, di tahun 2014. Ada yang di sekolah, di kelurahan, di puskesmas. Aku selalu terhibur setiap kali melihat foto-foto ini. Mengingat kembali moment(s) dimana mereka, adik-adik ini, minta difoto dengan kamera yang kubawa.

Senyum Gigi Atas :)
Senyum Yang Habis Dicabut Gigi :)
Senyum Anak-Anak :)
Ramai-Ramai Senyum Di Atas C B A :)

Foto yang paling kusukai adalah foto tiga anak (mereka semuanya bersaudara) yang sedang makan mie goreng gratisan dari penyelenggara bakti sosial. Aku melihat mereka sangat polos dan lugu ketika tersenyum sambil terus sibuk dengan piring berisi mie goreng masing-masing. Bahkan, hanya makan mie goreng gratisan yang tanpa tambahan bahan lain (seperti telur atau sayur) pun mereka sudah sangat senang. Aku jadi miris, sekaligus terharu. Ya, mereka berasal dari keluarga prasejahtera, yang datang jauh-jauh demi bisa berobat gratis dan dapat sembako. Aku senang melihat keluguan wajah mereka, melihat senyum mereka yang apa adanya. Senyum anak-anak. Menyentuh.*