Tuesday, 9 September 2014

THEIR LAST YEAR AS COLLEGE STUDENT


screenshoot halaman twitter dengan editan rame

Waktu berlalu dengan sangat cepat ya? Tidak terasa. Rasanya baru kemarin saya bertemu mereka untuk yang pertama kali di acara penyambuatan mahasiswa baru di kampus. Rasanya baru kemarin saya menjadi mahasiswa tingkat tiga, yang berusaha belajar menjadi lebih dewasa. Rasanya baru kemarin. Tapi saya salah, ternyata tidak. Kini, sudah tiga tahun berlalu semenjak hari itu. Kami sudah tumbuh semakin besar, dewasa. Masing-masing dengan pergumulan kehidupannya, dalam perjalanan perjuangannya untuk mencintai Yesus. Sudah satu setengah tahun yang lalu, saya melepas status mahasiswa. Dan sekarang, adik-adik yang dulu masih mahasiswa baru sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir! Betapa cepat waktu berlalu.

Masing-masing dengan skripsinya. Masing-masing dengan penelitiannya, dengan magangnya. Sebentar lagi mereka akan sarjana. Deadline skripsi, sidang, wisuda. Menjadi alumni dan bekerja. Betapa cepat waktu berlalu.

Dalam jarak dan waktu yang menjedakan kami sehingga tidak bisa bertemu face-to-face seperti dulu, saya benar-benar harus berterima kasih pada Tuhan dan pada social media seperti twitter ini—yang menghubungkan kami. Yang menjadi ruang dimana semangat dibagikan, kasih persaudaraan diekspresikan, dan doa ditanam. Betapa aku terharu berat membayangkan bahwa sebentar lagi mereka akan sidang, lulus, dan wisuda. Dalam anugerah Tuhan, selamat berjuang, dear KK sisters :”) clara, riris, feb, mima, my prayer is be with you, whenever and wherever you go :)

Thursday, 4 September 2014

PHOTO SHOOT! (7)


Kembali, mengabadikan foto-foto tak sengaja diambil dari liputan lapangan saya disini. Kali ini, semua foto, keempat-empatnya bertemakan anak-anak yang ingin difoto. Jadi, mereka memang bergaya segaya-gayanya yang mereka ingin dan bisa di depan kamera. Harap maklum :D Semua foto dengan anak yang berbeda di ambil dari lokasi liputan lapangan yang berbeda, di tahun 2014. Ada yang di sekolah, di kelurahan, di puskesmas. Aku selalu terhibur setiap kali melihat foto-foto ini. Mengingat kembali moment(s) dimana mereka, adik-adik ini, minta difoto dengan kamera yang kubawa.

Senyum Gigi Atas :)
Senyum Yang Habis Dicabut Gigi :)
Senyum Anak-Anak :)
Ramai-Ramai Senyum Di Atas C B A :)

Foto yang paling kusukai adalah foto tiga anak (mereka semuanya bersaudara) yang sedang makan mie goreng gratisan dari penyelenggara bakti sosial. Aku melihat mereka sangat polos dan lugu ketika tersenyum sambil terus sibuk dengan piring berisi mie goreng masing-masing. Bahkan, hanya makan mie goreng gratisan yang tanpa tambahan bahan lain (seperti telur atau sayur) pun mereka sudah sangat senang. Aku jadi miris, sekaligus terharu. Ya, mereka berasal dari keluarga prasejahtera, yang datang jauh-jauh demi bisa berobat gratis dan dapat sembako. Aku senang melihat keluguan wajah mereka, melihat senyum mereka yang apa adanya. Senyum anak-anak. Menyentuh.*
 

SPIRITUAL HUNGER


Spiritual Hunger—atau kelaparan spiritual—adalah salah satu istilah yang sering disebut dalam doa-doa syafaat para pengikut Kristus, yang membuatku merenung pagi ini. Ketika membaca kalimat ajakan berdoa, “pray for the spiritual hunger” di salah satu intercessor source, aku spontan tertegun sendiri. Tiba-tiba berefleksi, apakah sebelum berdoa bagi orang lain agar mereka bisa merasakan “kelaparan spiritual”, aku juga sudah merasakan “kelaparan spiritual” yang serupa? Ini pertanyaan yang menggugah hatiku.

Kelaparan spiritual” atau spiritual hunger, biasanya disebut sebagai istilah untuk menggambarkan bagaimana di dalam diri seseorang ada kerinduan yang mendalam untuk lebih mengenal Kristus Yesus Tuhan. Yang tadinya ia jauh dari Tuhan dan benar-benar tidak berelasi secara spiritual dalam hal apapun soal Yesus (tidak berdoa, tidak datang ke gereja, tidak membaca Alkitab atau buku / artikel spiritual tentang Yesus, tidak mendengarkan lagu-lagu pujian spiritual Kristen, tidak bersekutu, dsb), mendadak (oleh karena karya Roh Kudus , yang menjawab doa), ia mulai lapar. Lapar akan pengenalan akan Kristus Yesus Tuhan. Lapar untuk mencari Tuhan. Lapar untuk mendekat kepada Tuhan. Lapar untuk mendapatkan Kristus Yesus Tuhan dan ditemukan oleh-Nya. Lapar untuk berelasi dengan Yesus Tuhan.

Spiritual hunger atau “kelaparan spiritual” ini juga sering dipasangkan dengan spiritual thirst atau “kehausan spiritual”. Kenapa harus lapar dan haus? Hal ini disinkronisasikan dengan kebutuhan mendasar dari manusia, yaitu makan dan minum. Jika kita tidak makan (makanan fisik), maka kita pasti akan lapar. Jika kita tidak minum (minuman fisik), maka kita akan haus. Masalahnya, lapar dan haus harus segera diselesaikan (dipuaskan) dengan satu-satunya solusi, yaitu makan dan minum. Basic needs.

Seperti itulah juga spiritual hunger dan spiritual thirst. Kehausan dan kelaparan spiritual hanya bisa diselesaikan ketika Kristus Yesus yang adalah roti hidup (Yohanes 6:35) dan air sumber hidup (Yohanes 7:37) menyentuh rasa dahaga dan rasa lapar kita. Memenuhinya. Memuaskannya. Sampai kita kemudian merasa kenyang. That's it, our spiritually basic need.

Namun, ada kalanya kita mungkin bandel dan jauh dari Kristus. Ketika kita menjauh dari Kristus Yesus Tuhan—maka kita akan merasa lapar dan haus lagi. Istilahnya, ketika kita tahu Kristus Yesus adalah (sumber) air hidup, ya kita pasti akan aman dan tidak akan haus selama kita dekat dengan Kristus. Ya kan Kristus Yesus itu mata airnya. Kalau kita pergi jauh dari mata air, ya resiko. Pasti haus lagi. Sama juga soal lapar (spiritual).

Dari kesemuanya ini, aku kemudian merenungkan—apakah aku sudah mengalami hal yang sama, kelaparan (dan kehausan) spiritual akan Kristus Yesus Tuhan itu? Apakah kelaparan (dan kehausan-)ku sudah dipuaskan oleh Kristus?

Sudah. Aku sudah. Itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Saat sebelum aku mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus Yesus, aku merasa kelaparan dan kehausan akan Kristus. Kemudian dipuaskan dalam perjumpaan pribadi dengan Kristus Yesus itu. Namun, dalam perjalananku untuk mengikut dan mencintai Kristus, kemanusiawianku kadang menarikku menjauh dari Kristus, sumber air hidup dan roti hidup.

Jadi, apakah aku masih merasakan kelaparan spiritual ketika aku sedang jauh dari Kristus Yesus?

Pertanyaan terakhir ini membuatku terharu sendiri ketika merenungkannya hari ini. Aku mengingat-ingat masa dimana aku sedang ingin lari dan jauh dari Tuhan. Tidak ingin berdisplin saat teduh (baca: menemui Tuhan dalam jadwal pagi rutin seperti biasanya, akhirnya saat teduh ini masih kulakukan tapi jadi sekedar ritualitas tak bernyawa). Tidak ingin berdoa syafaat, karena merasa sedang tidak fokus (di saat-saat terbandel). Tapi, di hari yang sama, akhirnya aku lapar juga. Aku ingin mencari Tuhan Yesus. Mungkin dengan hal-hal sesepele membuka blog Christian, atau mendengarkan playlist lagu spiritual Kristen dari Hillsong, Planetshakers, atau Tenth Avenue North yang ku shuffle (putar acak). Atau membuka-buka koleksi buku-buku spiritual Kristenku. Atau membaca-baca kembali catatan-catatan personally dengan Tuhan. Semuanya sebenarnya kulakukan dengan satu tujuan: karena aku lapar. Karena aku haus. Akan kehadiran Tuhan di dalam hidupku, hariku hari itu. Akan sapaan Tuhan yang hangat dalam firman di Alkitab yang me-rhema, loncat ke hatiku, menyentuh. Akan koreksi-koreksi, teguran-teguran lembut, dan penguatan-penguatan yang menopangku untuk terus bertahan dan berjuang. Akan pernyataan cinta Tuhan, yang tak pernah berhenti mengatakan kalau Yesus begitu mencintaiku. Ternyata, aku haus dan lapar juga akan Kristus Yesus Tuhan, ketika aku sedang menjauhkan diri daripada-Nya itu.

Aku kemudian amazed sendiri menyadari ini. Menyadari bahwa dalam kebandelanku pun, dalam keinginanku untuk lari dan jauh dari Tuhan—sebenarnya aku tidak bisa benar-benar lari. Aku tidak bisa benar-benar menjauh. Aku ingin kembali. Aku pasti kembali, kembali ke pelukan Kristus Tuhan yang sesabar dan sesetia itu menghadapi semua sifat kemanusiawianku. Aku amazed karena ternyata, sekali aku menjadi milik Kristus, maka selama-lamanya aku akan menjadi milik Kristus. There is no one can separate me from His unfailing love. No one ever. Never. Because, He holds my hands. My life, every details of it. My heart. My every second. Amazed.

Jadi kesimpulannya,

Sekali kita sudah merasakan spiritual hunger atau kelaparan spiritual akan Kristus Yesus Tuhan itu, lalu kita sudah terpuaskan—maka jika kita menjauh dari Kristus, kita akan kembali merasa lapar dan haus. Seperti ada yang kurang, ada yang hilang, dari kehidupan kita. Ketika menjauh dari Kristus, aku yakin kalau kita tidak akan pernah bisa berhenti untuk merasa lapar dan haus akan Kristus Yesus. Itu berarti, tidak ada jalan lain. Kita harus kembali kepada Sumber yang bisa menghilangkan segala kelaparan dan kehausan kita itu. Kembali kepada Yesus.

Meski begitu, masih banyak orang yang harus didoakan agar mengalami kelaparan dan kehausan spiritual itu, untuk yang pertama kalinya. Agar mereka bisa menyadari kebutuhan terdasar dan terdalam dirinya, secara spiritual. Satu-satunya yang bisa menyelesaikan segala masalah haus dan lapar. Hanya Yesus Kristus Tuhan.

Are you spiritually hungry? Are you spiritually thirsthy?
Hauskah kamu? Atau laparkah kamu?


Then Jesus declared, “I am the bread of life. Whoever comes to Me will never go hungry, and whoever believes in Me, will never be thirsty.” ( John 6:35 NIV )

Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” ( Yohanes 6:35 )


Don’t you think to come? To Jesus Christ, today? :)