THE HARDSHIP OF TRUST

by - August 15, 2014

 
  
Baru tadi pagi, di dalam grup whatsapp “Tengkuyung PSD” (ini adalan nama grup whatsapp dimana aku dan teman-teman setim dalam perjalanan menjelajahi pedalaman Borneo dua minggu lalu masih bertemu: kadang bercandaan sampai membaca chatbox-nya tertawa ngakak-ngakak, berdiskusi, melahirkan penyegaran-penyegaran spiritual dalam anugerah Tuhan), salah seorang dari tim yang sekarang sedang bertugas di salah satu RS di Borneo karena dia seorang dokter gigi—yang bisa kami panggil Bang Muktar—mengirimi kami link menuju website yang ku-captured ini. Nama website-nya saja sangat menyentuh, bagiku. Desiring God. Dan benar saja, isinya juga.

Aku merasa tulisan di dalam halaman website itu mengena sekali untukku hari ini. Dan bahkan, untuk hari-hari sebelum hari ini, jika aku mengoreksi diri sendiri. Dan mungkin juga, untuk hari-hari yang akan datang nanti.

Aku teringat sesi briefing kami di suatu malam di pedalaman Borneo, ketika kak Nick mengingatkan mengenai intimidasi iblis dalam hal-hal sepele yang jarang kita sadari. Padahal, hal-hal sepele pun bisa benar-benar membunuh sukacita dan kedamaian di hati kita. Itulah liciknya iblis. Dalam konteks spiritual war, dia mungkin tidak mewujud dalam manifestasi bentuk menyeramkan langsung di hadapanmu—karena kau pasti akan langsung sadar kalau kau sedang berperang melawannya jika ia mengintimidasi dalam cara itu. Makanya, dia memakai hal-hal sepele, hal-hal teknis, yang bahkan di luar jangkauan dugaan pikiranmu, bahwa hal-hal sepele dan teknis itu ingin dipakainya juga untuk mengalahkanmu. Kira-kira seperti itulah.

Tadi pagi, aku masih mengalami yang seperti ini—sampai semangatku untuk bekerja di kantor hilang hari ini. Sebenarnya mungkin tidak sesepele itu juga untukku, karena terkait dengan masalah pekerjaan di kantor (ada miskomunikasi parah yang membuat dua rencana liputan lapanganku harus cancel hari ini dan besok). Aku sedang sangat ingin turun ke lapangan, bersentuhan lagi dengan kaum the poor dan the weak, untuk menghidupkan kembali passion dan visiku. Lalu, terjadilah kejadian kemarin malam: aku pulang kantor lewat jam 18:00 dan sesampainya di kosan mati listrik—membuat kondisi kompleks tempat kosanku berada sungguh gelap gulita dan sunyi senyap (aku jadi teringat kondisi pedalaman Borneo ketika hari malam karena belum ada listrik PLN), disusul dengan kabar dari seorang rekan kerja di kantor kalau besok akan ada liputan operasi. Tapi untuk menghubungi rekan-rekan sekantor ini, ternyata koneksi internet ikut terganggu ketika listrik mati (tidak tahu juga kenapa bisa), membuatku tidak bisa mempergunakan whatsapp-ku. Mencoba via sms tapi tidak ada yang membalas. Sementara, waktu sangat mepet. Itu sudah jam 20:00 malam, dan aku belum pegang kamera dan peralatan kantor—sementara biasanya, kami sudah berangkat ke lapangan dari subuh jam 05:00 bahkan jam 04:00 pagi. Panduan interview juga sama sekali belum disiapkan, begitu pula konsep laporan. Pikiran dan perasaanku mendadak kacau. Karena tidak ada yang membalas sms-ku dan tidak ada yang bisa kulakukan lagi, aku memilih untuk beristirahat sejenak—yang ternyata ketiduran sampai jam 03:00 pagi. Tapi ketika bangun pun, tidak ada kabar apa-apa. Tidak ada sms, whatsapp. Padahal listrik sudah hidup, dan koneksi internet tablet sudah oke.

Jam setengah enam pagi, supervisor-ku yang baik hati, baru menelepon dan mengabari kalau tidak jadi liputan. Jadi supervisor-ku yang akhirnya menghubungkanku dengan pihak tim medis dan videografer yang kemarin tidak bisa kuhubungi. Bagaimana juga bisa jadi liputan, aku belum siap-siap sama sekali sementara mereka sudah di kantor dan siap berangkat karena operasi dimulai jam 07:00 pagi ini juga?

Belum selesai. Hari ini juga aku harus mulai liputan pra-operasi yang lain di guest house kantor (sampai besok di rumah sakit). Dan ketika ingin minta kamera dengan partnerku, dia bilang dia yang liputan. Ternyata miskomunikasi lagi. Memang ada perubahan jadwal dan dia belum tahu. Aku yang bingung, kembali ke mejaku, mencoba menghubungi supervisor yang sedang interview pelamar di kantor Jakarta tetapi belum ada balasan (sepertinya memang sedang sibuk disana). Mulai tidak jelas lagi. Aku akhirnya sharing dan minta dukungan doa saja di grup whatsapp Tengkuyung PSD itu. Barulah berjam-jam setelah itu, aku ditelepon supervisor-ku yang memutuskan kalau terpaksa aku tidak jadi liputan lagi. Untuk yang kedua kali.

Dalam ketidakjelasan-ketidakjelasan itulah—dalam masa-masa dimana aku bingung dan agak kesal itulah—Bang Muktar dan Kak Dhoka mem-posting ayat dan link di atas di dalam grup whatsapp. Sesuatu teguran yang sangat mengena.

Trust in the Lord with all your heart, and do not lean in your own understanding.
In all of your ways acknowledge Him, and He will make straight your paths.

(Proverbs 3:5-6)

Pada kenyataannya, setelah kejadian dan ketidakjelasan yang tidak membingungkan dan mengesalkan itu—aku baru tahu bahwa ada rencana lain di baliknya. Ada hal lain yang sepertinya menurut Tuhan harus kukerjakan, sehingga dua liputan lapangan-ku cancel hari ini dan besok. Pertama, revisi jurnal perjalanan ke Borneo yang deadline ke tim hari ini. Dan kedua, kelompok tumbuh bersama (KTB) dengan saudaraku, Rutnia, besok. Kalau aku liputan hari ini dan besok, aku pasti takkan sanggup dan takkan sempat lagi untuk mengerjakan jurnal hari ini dan ketemu-sharing­-firman-dan-hidup dengan Rut besok. Benar-benar tidak terselami, pada kenyataannya, jalan pikiran Tuhan itu. Rumit dan sulit. Tapi pada akhirnya, membawa hal yang benar-benar baik bagi kita. Sayangnya, dalam kemanusiawian kita yang lemah, kita mudah untuk mengeluh dan kalah, tidak bisa mengimani kalau dalam hal yang kelihatannya tidak baik pun Tuhan mengizinkannya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita kemudian. Kita merespon dengan respon yang salah, kita membuka celah bagi iblis untuk menjatuhkan kita.

Jadi, bagaimana? Apakah ada hal yang kelihatan aneh, membingungkan, tidak jelas, bikin kesal, atau tidak masuk akal yang kau alami hari ini? Pernah berpikir kalau pikiran Tuhan tidak terselami? Pernah berpikir kalau pasti akan ada suatu maksud yang baik di balik semua yang kelihatan tidak baik dan tidak jelas itu? *

You May Also Like

0 comments