9 HARI DI PEDALAMAN KALIMANTAN: RINDU

by - August 04, 2014


“No one realizes how beautiful it is to travel
until he comes home and rests his head on his old, 
familiar pillow.” 
– Lin Yutang

Sudah lewat dua hari setelah saya kembali dari perjalanan penjelajahan pendalaman pulau kalimantan. Dan rasanya? Rindu. Kondisi tempat saya tinggal dan bekerja sekarang, begitu jauh berbeda dengan kondisi pedalaman kalimantan yang begitu back to nature. Rindu. Juga pada tim “tengkuyung” kami ber-9 yang punya rasa dan warnanya sendiri ketika berkumpul bersama, melayani, dan berbagi cerita.  Rindu. Juga pada adik-adik yang senang ikut mengekor kami kemana-mana. Mulai dari rumah tempat kami tinggal, ke sungai tempat kami mandi dengan cara tradisional (kain sarung dong), ke lapangan hijau di depan sekolah tempat kami berbagi cerita, sampai ke hutan tempat kami mencari sayur-mayur atau tengkuyung. Rindu. Juga pada setiap lagu-lagu yang baru saya kenal dan baru saya nyanyikan di pedalaman sana. Lagu-lagu yang sederhana tapi menyentuh. Rindu. Pada setiap masakan yang awalnya enggan saya makan karena tak biasa. Rindu. Pada aliran sungai dan airnya yang jernih, pada langitnya yang biru lembut di waktu siang dan hitam pekat bertabur bintang di waktu malam. Rindu. Pada sembilan hari dimana saya belajar mengenai uncomfotrable zone, sembilan hari dimana saya belajar, untuk melihat sebagaimana Yesus melihat. Untuk merasa sebagaimana Yesus merasa. Untuk berpikir tentang apa yang Yesus pikirkan. Untuk mencintai siapa yang Yesus cintai.

Tulisan ini saya tuliskan hanya untuk merenungi betapa jika kita bisa merindukan sesuatu atau seseorang adalah juga anugerah dari Tuhan. Sadarkah kita? Kadang rasa rindu akan sesuatu atau seseorang bisa dibunuh oleh kenangan pahit, kebencian, atau ketidakharmonisan hubungan? Rindu adalah sebuah anugerah ketika kita bisa menghayati betapa baiknya Tuhan yang mempertemukan kita dengan sesuatu atau seseorang yang kita rindukan. Rindu adalah sebuah anugerah Tuhan ketika kita bisa mengamini bahwa apa yang kita rindukan berasal dari Tuhan, dan memang kembali kita tujukan untuk Tuhan. Rindu adalah sebuah anugerah Tuhan ketika kita bisa menikmati rasa rindu itu dalam ingatan akan karya tangan-Nya yang menulis dan merancang semua cerita, semua pertemuan, semua perjalanan dengan amat mempesona. Sungguh, itulah rindu yang sedang saya alami dan saya nikmati saat ini. Rindu yang adalah anugerah daripada Tuhan yang menginisiasi dan menyelesaikan cerita perjalanan menuju pedalaman Borneo ini dengan sangat sempurna. Rindu. *

You May Also Like

0 comments