LOVE IS WAR

by - August 20, 2014



Pernahkah kau merasakan perasaan putus asa ketika sedang jatuh cinta? Putus asa karena kesadaranmu akan setiap kelemahan dan kekurangan dirimu untuk bisa memberikan seluruh hati dan cintamu pada sosok yang kau cintai itu? Putus asa ketika menyadari betapa terbatasnya kau untuk bisa mencintai dengan seutuh dan sepenuh? Putus asa karena kau merasa sudah berjuang dan berusaha tapi kemudian selalu merasa jatuh lagi dan gagal lagi, tak benar-benar selalu bisa menyenangkan sosok yang kau kasihi? Pernahkah kau merasakan perasaan-perasaan ini ketika mencintai Tuhan—ketika mencintai Yesus? Sama seperti yang akhir-akhir ini sedang kurasakan?

Ada saatnya semuanya terasa berjalan lancar, baik, indah—cintamu pada Yesus teruji dalam segala totalitas dan kesungguhannya. Membuatmu ingin selalu menyanyikan sederet love song untuk-Nya. Membuatmu ingin banyak cerita, bersaksi—bahwa mencintai Tuhan adalah hal yang terbaik yang bisa dilakukan, dialami, dan didapatkan seorang manusia seumur hidupnya.

Tapi ada saatnya juga ketika semuanya terasa berjalan stuck—cintamu pada Yesus ternyata tak mampu kau buktikan dalam realitas nyata. Ketika kau tersandung berbagai kelemahan dan kekurangan manusiawimu, kedagingan yang terus membuatmu bergumul. Ketika kau merasa sudah berbuat dosa yang terlambat disadari, dan dosa itu seperti menjauhkanmu dari Tuhan yang kau cintai itu. Ketika kau akhirnya hanya ingin untuk diam, sendirian. Tak ingin banyak terlibat dengan hal-hal seperti pelayanan, karena terintimidasi oleh kejatuhan dan kegagalan pribadimu.

Pernahkah kau? Pernahkah?

Untuk kesekian kalinya, aku mengakui lagi kalau aku pernah melakukannya. Aku sedang mengalaminya. Sedang menggumulkannya—beberapa orang yang kuanggap saudara mungkin menyebutnya ketidakstabilan rohani. Aku menyebutnya kekacauan rohani, kekacauan spiritual. Tapi sebenarnya, aku pun tak mengingini itu terjadi. Tapi, itulah realita yang sekarang ini kugumuli. Kenapa bisa? Aku tidak tahu. Aku hanya berharap, dalam kefrustasian yang kadang mendadak menyerangku, kalau dalam segala kekacauan spiritual ini—Tuhan tak membuangku, tak meninggalkanku.

Lalu, apakah kemudian Dia membuangku? Apakah Dia kemudian meninggalkanku?
Karena kadangkala, aku merasa kacau secara rohani?

Sederet pertanyaan di atas ini kemudian terjawab melalui lagu yang tiba-tiba terputar acak dalam playlist music player-ku ini. Sebuah lagu yang menjadi jawaban, dari Yang Maha Tinggi dan Maha Agung itu—tapi yang juga Maha Dekat dan Maha Setia. Maha Kasih.

In Your justice and Your mercy
Heaven walked the broken road
Here to fight this sinner's battle
Here to make my fall Your own

Turn my eyes to see Your face
As all my fears surrender
Hold my heart within this grace
Where burden turns to wonder

I will fight to follow
I will fight for love
Throw my life forever
To the triumph of the Son


Let Your love be my companion
In the war against my pride
Long to break all vain obsession
Till You're all that I desire

Turn my eyes to see Your face
As all my fears surrender
Hold my heart within this grace
Where burden turns to wonder

I will fight to follow
I will fight for love
Throw my life forever
To the triumph of the Son 

And I know Your love has won it all
You took the fall
To embrace my sorrows
I know You took the fight
You came and died but the grave was borrowed
I know You stood again
So I can stand with a life to follow
In the light of Your name

Turn my eyes to see Your face
As all my fears surrender
Hold my heart within this grace
Where burden turns to wonder

I will fight to follow
I will fight for love
Throw my life forever
To the triumph of the Son

And I know Your love has won it all
You took the fall
To embrace my sorrows
I know You took the fight
You came and died but the grave was borrowed
I know You stood again
So I can stand with a life to follow
In the light of Your name




“Love Is War”
© Hillsong United, 2013
Zion Accoustic Album


Dan, aku pun tahu benar, kalau Dia tidak meninggalkanku—apalagi membuangku. Sebagaimana kemudian, Dia menganugerahkanku sebuah buku berjudul Messy Spirituality untuk ku baca itu, Dia berkata kalau aku tidak perlu banyak berpikir dan terintimidasi. Aku tidak perlu. Aku hanya perlu untuk tidak putus asa berjuang sampai akhir. Berjuang sampai akhir untuk mencintai Yesus, untuk menyenangkan hati Yesus, untuk memberikan Yesus, my all in all. Karena cinta kepada Yesus adalah sebuah peperangan. Peperangan melawan apa? Peperangan melawan (kedagingan) diri sendiri. Till He’s all that I desire.

Let Your love be my companion
In the war against my pride
Long to break all vain obsession
Till You're all that I desire

Perang melawan setiap sifat kemanusiawian kita yang menjauhkan kita dari kekudusan Tuhan. Perang melawan kecenderungan manusiawi kita yang lebih mencintai dosa daripada mencintai Tuhan. Perang melawan kedirian kita yang ingin berpusat pada diri sendiri, dan bukan pada Tuhan yang adalah sumber segala sesuatu dan seharusnya selalu menjadi titik akhir dimana segala sesuatu dikembalikan. Perang melawan self-centered-life untuk bisa mencapai Christ-centered-life.

Tidak mudah, harus ku akui. Banyak penyangkalan diri yang harus rela dilakukan. Banyak pengorbanan yang harus dipersembahkan. Banyak proses memikul salib yang harus dijalani. Kadangkala gagal, jatuh, di tengah jalan—tapi bukan seberapa banyak kita jatuh yang terpenting kan, tetapi seberapa banyak kita sanggup berdiri lagi dan bangkit dalam anugerah untuk kembali mengejar Tuhan yang kita cintai?

And I know Your love has won it all
You took the fall
To embrace my sorrows
I know You took the fight
You came and died but the grave was borrowed
I know You stood again
So I can stand with a life to follow
In the light of Your name




Dan, pada akhirnya, aku belajar lagi mengenai cinta dari dan untuk Tuhan. Cinta yang akan terus berjuang, meski jatuh bangun, untuk tetap mencintai sosok yang dicintai. Yang tidak pernah menyerah. Yang tak takut berperang, berperang untuk mengalahkan segala halangan untuk sepenuhnya mencintai—meski halangan itu adalah dirimu sendiri. I will fight to follow, I will fight for love. For the love for Christ Jesus.*

You May Also Like

0 comments