THE CALLING TO SERVE THE POOREST OF THE POOR

by - July 15, 2014


Desktop Background Komputer Kerja Saya di Kantor Yang Selalu Menyentuh Saya Setiap Kali Memperhatikannya

Bertahun-tahun semenjak masih siswi sekolahan di SMA, saya mulai bergumul mengenai masalah kemiskinan yang cukup melemahkan Indonesia. Dimulai dari melihat anak-anak jalanan yang mengemis atau mengamen, atau orang tua yang disable (sebenarnya saya tidak biasa menggunakan kata yang akan saya tuliskan disini untuk menerangkan kata disable, tapi daripada ada pembaca yang tidak mengerti—penyandang cacat) di lampu merah kota tempat tinggal saya di Medan. Menonton acara-acara televisi reality show yang bertujuan membantu the poor (tetapi dosen saya di kampus berpendapat kalau ini justru memperalat kemiskinan kaum papa untuk bisnis industri hiburan yang membutuhkan sentuhan baru, yaitu dalam dunia sosial kemanusiaan)—tetapi setidaknya acara-acara itu membuat mata saya sekaligus hati saya terbuka terhadap realita kemiskinan yang belum pernah saya kenal di dalam rumah saya yang aman-dan-nyaman.

Saya juga mulai semakin mengagumi Mother Teresa. Saya mengenali Mother Teresa dari ibu saya, yang memang memberikan nama “tresia” pada nama saya (bahkan sebelum saya lahir) karena mengingini saya bisa menjadi seperti Mother Teresa. Pelayanannya terhadap kaum miskin papa meluluhkan hati saya. Saya membeli banyak buku biografinya, membaca semuanya pelan-pelan. Saya membeli DVD dokumentasi pelayanannya di India, dan menontonnya. Saya mulai dianugerahkan Tuhan visi seperti visi yang sudah dianugerahkan  pada Mother Teresa. To serve the poorest of the poor.

Tak disangka, semuanya itu mulai mengubah cita-cita saya. Cita-cita ini berubah-ubah semenjak saya masih berumur tiga tahun sampai saat itu. Saya pernah ingin menjadi fashion designer, khusus baju pengantin (saya menggambari dinding rumah lama saya dengan gambar-gambar pengantin perempuan-dan-laki-laki dalam berbagai jenis pakaian pengantin ala anak-anak). Saya juga pernah ingin menjadi dokter bedah (meski saya gak terlalu senang melihat darah). Pernah ingin menjadi dokter gigi (setelah kunjungan saya berobat ke dokter gigi). Setelah itu, ketika baru masuk SMA, mulai serius, saya ingin menjadi seorang arsitek. Ini merupakan cita-cita ayah saya yang tidak kesampaian (di zaman ayah saya, jurusan arsitektur hanya ada di ITB, belum ada di USU, sementara kakek-nenek saya tidak mengizinkan ayah untuk merantau demi kuliah, jadilah ayah mengambil jurusan teknik sipil di USU) yang sepertinya secara langsung dan tidak langsung diturunkan pada saya. Sayangnya saya cukup bandel ketika SMA sehingga saya tidak bisa masuk IPA karena tidak serius belajar di satu mata pelajaran esensial untuk jurusan ini. Saya masuk IPS. Cita-cita saya berubah lagi, akhirnya. Yang terakhir sebelum benar-benar diberi anugerah visi to serve the poorest of the poor itu, saya ingin menjadi designer (masih seputar dunia seni visual ya :”) tapi bukan fashion designer lagi. Saya ingin menjadi designer lulusan jurusan DKV (desain komunikasi visual) ITB (jurusan ini terbuka untuk jurusan IPS sekalipun karena masuk ke Fakultas Seni Rupa dan Desain [FSRD], saya kan jadi semangat).

Di saat yang sama, saya mulai melirik satu jurusan lain yang menarik hati saya, sesederhana karena yang saya tahu (dari buku informasi jurusan-jurusan di kampus dari bimbingan belajar yang saya ikuti di Ganesha Operation) jurusan ini mempelajari masalah kemiskinan. Ya, hanya sesederhana itu, dan jurusan ini bernama jurusan Sosiologi.

Saya ingat waktu itu saya sudah menetapkan hati untuk memilih dan memperjuangkan hanya dua jurusan ini untuk universitas nanti. Dan itu spesifik sekaligus dengan embel-embel universitas dimananya (saya tidak tahu kenapa saya bisa sepede itu waktu itu). Jadi, hanya DKV di ITB, dan Sosiologi di UI. Saya memilih untuk berjuang masuk ke Sosiologi UI juga sesederhana karena setelah mencaritahu, informasi yang saya dapat, jurusan Sosiologi di UI adalah yang tertua dan terbaik se-Indonesia, jadi saya memilih untuk berjuang masuk kesana.

Dan sepertinya saya memang sudah predestined to that calling, to serve the poorest of the poor itu. Setelah perjuangan ora et labora yang penuh totalitas dan semangat, jadilah saya lulus di Sosiologi UI (bahkan sebelum pengumuman apakah saya lulus UN atau tidak), dan belum lulus di DKV ITB (sungguh, tes gambarnya susah bagi saya yang tak menekuni dunia seni lukis seserius itu). Saya ikut saja rencana Yang Di Atas. Masuk Sosiologi UI, meski sungguh, sebenarnya saya belum tahu saya akan jadi apa setelah lulus nanti. Sudah saya bilang kan? Saya memilih ingin masuk kesitu hanya karena ingin belajar masalah kemiskinan. Sesederhana itu :”) Akhirnya, saya ingat waktu masih mahasiswa baru waktu itu, ketika ditanya senior mengenai cita-cita, saya menjawab dengan mantap kalau saya ingin menjadi aktivis sosial (untuk masalah kemiskinan)!

Sosiologi UI membawa saya masuk ke berbagai ilmu dan pengalaman yang tak pernah saya sangka mengenai the poor. Ilmu ini sebenarnya tidak fokus mempelajari masalah kemiskinan saja, Sosiologi mempelajari masyarakat secara utuh. Struktur, sistem, interaksi, konflik. Segala hal tentang masyarakat. Tapi saya tetap belajar banyak mengenai kemiskinan disana. Secara makro, mikro. Melihat keterkaitan masalah kemiskinan bukan hanya dengan masalah ekonomi, tetapi juga kesehatan, pendidikan, gender, politik dan pemerintahan, bahkan lingkungan. Terjun langsung melihat dan mencoba membantu menangani masalah kaum miskin dalam berbagai konteksnya yang berbeda-beda.

Sampai saya lulus. Sebelum benar-benar masuk ke dunia kerja, saya memilih untuk menjadi volunteer dulu di beberapa komunitas / NGO yang memperhatikan masalah kemiskinan. Saya belajar banyak, semakin banyak lagi, dari lapangan mengenai kaum miskin. Dan sampai saat ini masih terus mencari apa yang harus benar-benar saya fokus kerjakan, dimana saya benar-benar harus berada untuk panggilan ini, serta harus menjadi apa saya untuk dapat efektif menggenapi panggilan ini—meskipun saat ini saya sudah diberi anugerah kesempatan untuk bekerja di salah satu NGO sosial-kemanusiaan yang melayani kaum miskin.

Dari jurusan IPS di SMA, jurusan Sosiologi di Universitas Indonesia, sampai NGO Sosial-Kemanusiaan tempat sekarang saya bekerja: sudah nyaris tujuh tahun dan saya tidak menyangka kalau panggilan to serve the poorest of the poor ini masih terus hidup di dalam diri saya. Sudah nyaris tujuh tahun sampai dengan saat ini, saya masih tetap berjuang menjalani rute perjalanan panggilan ini. Saya merayakannya hari ini, meski harus saya akui rute itu tidak selalu mudah untuk dijalani. Kadang ada saat-saatnya stres melanda saya, kebingungan melelahkan, kepesimisan menekan. Atau sebaliknya, ada kalanya juga, pengalaman mengharu hati, pencapaian menyemangati kembali, peristirahatan sejenak melegakan. Saya merayakan kesemuanya. Dengan bersyukur. *

You May Also Like

0 comments