DUA PEREMPUAN

by - July 07, 2014



Dua perempuan itu kukenal di akhir bulan juni lalu. Dua perempuan yang tadinya tak ku kenal, dan kejadian sederhana pun memperkenalkan mereka padaku. Dua perempuan yang adalah ibu muda. Umurnya masih kepala dua. Dua perempuan yang tangguh menjalani hidup. Melakukan pekerjaan apapun demi anak. Demi anaknya.

Perempuan tangguh yang pertama adalah seorang ibu muda berumur dua puluh empat tahun. Dia sudah menikah dan memiliki seorang anak berumur 1,5 tahun. Aku bertemu dengannya di halte cawang ciliwung milik transjakarta pada suatu hari jumat, nyaris tengah malam. Saat itu, aku terjebak kemacetan jalanan kota besar yang sangat tak bersahabat. Mungkin karena weekend dan menjelang hari pertama puasa di tahun ini. Perempuan tangguh ini seperti dikirimkan Yang Di Atas sebagai temanku untuk pulang ke depok, ketika dalam keadaan semalam itu, aku tidak tahu harus pulang ke depok dengan kendaraan apa. Mulai dari halte itulah aku bersama-sama dengan kakak ini, larut dalam banyak cerita, sampai stasiun kereta depok baru dimana aku harus turun.

Perempuan tangguh ini bekerja sebagai petugas jaga parkiran di daerah Grogol, Jakarta Barat. Padahal, rumahnya sendiri terletak di daerah Bojong, sebelum Bogor. Jauh sekali. Tiga sampai empat jam lamanya perjalanan yang harus ditempuhnya setiap siang dan setiap malam. Totalnya enam sampai delapan jam, hanya untuk waktu perjalanan menuju dan pulang dari tempat kerja. Pekerjaannya cukup menantang, meski gajinya lumayan tapi shift kerjanya siang sampai malam terus. Sangat menantang bagi perannya sebagai seorang ibu dan istri. Tapi mau bagaimana lagi? Mencari pekerjaan apalagi hanya dengan ijazah seadanya bukan perihal gampang.

Sedihnya, suaminya yang memang dari awal tak setuju dia bekerja pernah menyatakannya sebagai “istri kurang ajar”. Hanya karena suatu ketika dia ketinggalan kereta terakhir menuju bogor karena kepadatan jalan raya. Akhirnya dia terpaksa menginap di rumah temannya yang kos di dekat tempat kerja. Padahal tak disengaja. Perempuan tangguh inipun ingin cepat pulang, untuk bertemu anaknya yang sedang lucu-lucunya. Dia sungguh adalah perempuan baik-baik dengan rambut pendek dan penampilan sederhana. Dia juga bekerja karena ingin membantu suaminya. Dengan kehadiran seorang anak, tentu kebutuhan ekonomi keluarga semakin besar. Tapi ternyata kalimat sekejam itu masih bisa keluar dari mulut suaminya. Aku masih ingat ekspresi raut wajahnya ketika bercerita. Sedih.

Perempuan tangguh yang kedua bekerja sebagai cleaning service di toilet salah satu mall di kota depok. Aku bertemu dengannya tak sengaja, di suatu sore di hari sabtu tepat satu hari setelah aku bertemu dan berkenalan dengan perempuan tangguh yang pertama. Antrian toilet di hari H-1 puasa hari pertama itu panjang dan tadnya aku hanya bertanya mengenai jumlah toilet di dalam mall itu, berpikir mencari toilet yang lebih sepi. Ketidaksengajaan itu memperkenalkan kami. Akhirnya aku tidak jadi pindah toilet dan malah mengobrol sedikit dengannya. Ia juga seorang ibu yang masih terlihat muda, tapi mungkin umurnya akan memasuki kepala tiga. Anaknya dua orang, yang sulung sudah berumur 9 tahun dan yang bungsu baru berumur 2 tahun. Sayangnya, meski masih menyandang status sebagai seorang ibu (yang tangguh), kini dia tidak lagi menyandang status sebaagai seorang istri. Ia sudah bercerai dengan suaminya, bahkan ketika anaknya yang bungsu baru saja lahir. Kedua anaknya ikut dengannya. Ia menyebut pernikahannya sebagai pernikahan yang hancur, dengan ekspresi yang sedih dan menyesali. Aku yang tak merasakan, ikut mengiba.

Sekarang dia harus menanggung dua anaknya sendirian. Tidak mudah, pasti. Pekerjaannya untuk membersihkan toilet juga bukan pekerjaan yang mau dan bisa dilakukan oleh semua orang. Siapa yang mau membersihkan bekas kotoran orang lain? Apalagi salah satu kamar toilet itu rusak alat flush-nya. Perempuan tangguh ini bergumul dengan gagang pel dan kain lap setiap hari. Untuk menjaga toilet tetap kering dan bersih, nyaman untuk dipakai setiap pengunjung mall. Bahkan kadang tanpa sarung tangan, yang memang tidak disediakan oleh pihak manajemen mall. Aku tak bisa membayangkan bagaimana tak higienisnya itu, sungguh sangat menantang. Tapi demi dua orang anaknya, demi mereka bisa makan dan tetap hidup, ia bekerja keras. Bahkan sekalipun harus bergumul dengan kondisi toilet berjam-jam setiap hari. Sudah tiga tahun ini.

Sungguh tidak mudah menjadi mereka. Ini bukan kisah tentang sosok Hannah dalam novel momlit karya Sitta Karina berjudul “Rumah Cokelat”—yang adalah benar-benar wanita berkarier bagus. Mengenakan setelan pakaian rapi dan gaya, branded. Menuju kantor yang megah dan nyaman, sibuk dengan komputer atau laptop, dan rapat-rapat dengan para pengusaha kaum elite. Bukan. Bukan seperti itu. Dua perempuan ini setiap hari justru bergumul dengan debu di parkiran dan toilet yang kotor. Dengan tiket parkiran dan cairan pembersih toilet. Dua perempuan ini hidup dengan sederhana, dalam keluarga sederhana dan pekerjaan sederhana. Pekerjaan tanpa prestise apapun yang bisa dibanggakan. Dengan gaji yang cukup-cukup saja untuk makan dan biaya keseharian. Tapi mereka menghadapi tantangan yang sama dengan Hannah sebagai seorang ibu yang bekerja. Bahkan, tantangan itu lebih berat—ketika Hannah dan para ibu bekerja dengan pekerjaan kelas atas, bisa menggaji baby sitter untuk menjagai anaknya—dengan gaji pas-pas-an mereka jelas tidak bisa. Bahkan ketika perempuan tangguh pertama masih punya ibu yang berusia lansia untuk menjagai anaknya, perempuan tangguh yang kedua terpaksa harus meninggalkan anaknya sendirian di rumah karena tidak punya siapa-siapa.

Aku teringat seorang adikku di Sosiologi FISIP UI yang baru saja lulus sidang. Skripsinya mengangkat mengenai ini, beban seorang ibu yang bekerja. Topik yang menarik. Double burden. Tidak mudah. Sungguh tidak mudah bagi si ibu yang bekerja. Ketika masalah anak dan masalah pekerjaan harus diperhatikan dengan sama baik, sama penuh. Ketika ada yang tidak baik terjadi kemudian, pada anak misalnya, masyarakat sekeliling hanya bisa menjadi social force yang menyalahkan si ibu yang tangguh tapi malang ini. “Itu karena ibunya kesibukan kerja sih…”. Ah, andaikan mereka mengalami dengan hati, bukan sekedar mencibir dengan mulutnya.

Bagaimanapun, seorang ibu tetaplah seorang ibu yang memikul harga pengorbanan bagi anaknya—entah ia bekerja atau adalah seorang ibu rumah tangga. Entah ia bekerja dengan pekerjaan biasa-biasa, atau pekerjaan kelas atas. Masing-masing menanggung takaran pengorbanan yang berbeda dan seharusnya tak ada yang pantas menghakimi. Bagaimanapun, bekerja atau tidak bekerja, seperti kedua perempuan tangguh yang kuceritakan di dalam tulisan ini, seorang ibu melakukan itu semua untuk anaknya. *

You May Also Like

0 comments