BY HIS SIDE

by - July 18, 2014



Pernahkah kau sangat ingin menemui Tuhan? Sangat ingin datang kepada-Nya, dan membagikan begitu banyak cerita? Sangat ingin mencintai-Nya dalam setiap doa, setiap detik yang didedikasikan untuk bersama-sama hanya berdua? Sangat ingin menyenangkan hati-Nya, membuat-Nya tersenyum ketika melakukan apa yang Ia ingini untuk kau lakukan?

Tapi tidak jadi. Ketika perjuangan buntu pada kegagalan atau kejatuhan, yang menghantammu pelan atau keras. Menghentikan sejenak perjalananmu bersama-Nya. Kejatuhan atau kegagalan karena kelemahan, kemanusiawian. Yang tidak sempurna, yang belum bisa sempurna. Yang membuatmu merasa kecewa terhadap diri sendiri. Atau bahkan terhadap-Nya, karena mempertanyakan, mana kekuatan yang kata-Nya akan diberikan padaku? Kenapa membiarkanku jatuh? Kenapa aku merasa tidak ditolong? Lalu kemudian kau menghindar, menjauh dari-Nya. Jadi meragukan-Nya. Tidak datang ketika sudah saatnya bertemu dengan-Nya. Tidak tahu, atau kadang tidak ingin tahu, kalau Dia menunggu-Mu. Menunggu-Mu pulang.

Aku pernah. Belakangan ini, sering.

Kadang bukannya ingin sengaja menghindar. Bukannya sengaja ingin menjauh. Bukannya sengaja. Tapi terpaksa. Ketika aku berkaca pada kedirianku, dan menemukan kelemahan, kekurangan, ketidaksempurnaan padanya. Yang sulit terlepas. Yang sulit disangkal. Sulit. Bahkan setelah perjuangan panjang, turun dan naik. Jatuh dan bangun. Tapi selalu mempertanyakan kenapa bisa jatuh lagi? Kenapa bisa lemah lagi? Sehingga pada akhirnya, akan kelemahan itu, aku ingin menyerah. Merasa tak layak setiap kali ingin kembali menemui-Nya. Merasa terlalu manusiawi. Merasa tak bisa mengejar kesempurnaan-Nya yang bertolak belakang dengan ketidaksempurnaanku.

Hari ini bahkan, di hari ulang tahunku—aku merasa seperti itu. Aku, yang tadinya berencana untuk tidur cepat kemarin malam dan bangun cepat juga tengah malam jam 00:00 tadi, hanya untuk bertemu dengan Yesus. Berdua. Menghabiskan detik-detik, menit-menit, jam-jam pertamaku di usia ke-23. Tidak jadi karena hal yang sama terulang lagi. Ya, rasa frustasi terhadap kelemahan dan kejatuhan pribadi. Ketidaksempurnaan diri sendiri. Baru menemui-Nya ketika aku terbangun di jam empat subuh. Masih menemui-Nya dengan hati yang lebih terbuka, tapi masih merasa lemah. Tidak layak. Tidak sempurna. Gagal. Jatuh.

Berjam-jam setelah saat itu, aku tidak tahu, tidak mengira—Dia akan menemukanku. Dengan menyanyikan lagu ini untukku. Lagu ini baru ku dengarkan pertama kali hari ini, terputar otomatis ketika aku sedang menjelajah halaman YouTube ketika salah klik. Yang langsung membuatku ingin menangis. Ya, belakangan ini tidak fokus pada-Nya seutuhnya. Why are we looking for (another) love? Do we think that God's love is not enough for us? (Pahami ini dalam konteks luas ya, maksudnya, kadang kita menuntut perhatian dan bukti kasih yang lebih juga dari orang-orang sekitar, entah orang tua, keluarga, sahabat?). Lagu ini sungguh menyentuh. Yang langsung menyadarkanku. Yang langsung membuatku berbalik pulang secepat-cepatnya. Kembali. Pulang. Menyambut genggaman tangan-Nya pada tanganku—yang sebenarnya tidak pernah lepas itu. Aku tahu aku tidak ditolak oleh-Nya meski jatuh, gagal lagi. Berulang kali, bahkan. Aku tidak perlu menghindari-Nya, aku hanya perlu datang pada-Nya, mengakui kalau aku salah dan aku ingin berbalik dari apa yang salah itu. Aku menyanyikan lagu ini bersama-Nya. Untuk semakin menyakinkan diriku, kalau Dia begitu mencintaiku.

 
Why are you striving these days?
Why are you trying to earn grace?
Why are you crying?
Let me lift up your face
Just don't turn away

Why are you looking for love?
Why are you still searching?
As if I'm not enough
To where will you go child?
Tell me where will you run
To where will you run

'Cause I'll be by your side wherever you fall
In the dead of night whenever you call
And please don't fight these hands that are holding you
My hands are holding you

Look at these hands at my side
They swallowed the grave on that night
When I drank the world's sin
So I could carry you in
And give you life
I want to give you life

And I'll be by your side wherever you fall
In the dead of night whenever you call
And please don't fight these hands that are holding you
My hands are holding you

Here at my side wherever you fall
In the dead of night whenever you call
And please don't fight these hands that are holding you
My hands are holding you

'Cause I, I love you
I want you to know
That I, yeah I'll love you
I'll never let you go, no, no

And I'll be by your side wherever you fall
In the dead of night whenever you call
And please don't fight these hands that are holding you
My hands are holding you

Here at my side wherever you fall
In the dead of night whenever you call
And please don't fight these hands that are holding you
My hands are holding you
Here at my side, my hands are holding you


“By Your Side”
© Tenth Avenue North, 2008
Over And Underneath Album
 
 
Apakah kau juga pernah mengalami yang kualami—maksudku, kejatuhan itu? Rasa frustasi akan kelemahan itu? Atau mungkin kau malah sedang mengalaminya? Sekarang, bisakah kau juga membayangkan Dia—Tuhan Maha Luar Biasa itu—menyanyikan lagu ini khusus untukmu? Bisakah kau mengamini, menyakini, kalau Dia memang sedang menyanyikan lagu ini, khusus untukmu—yang amat dicintai-Nya, meski kau mungkin tak pernah tahu?

Don't you think to come back to Jesus today? *



p.s. :
 
 
Mengenai Tenth Avenue North, aku sendiri baru tahu kalau lagu yang sangat menyentuh ini sudah diliris tahun 2008. Ketika aku masih siswi berseragam biru. Maklum, aku juga baru mengenal Tenth Avenue North dari seorang teman kantorku (kak teguh, terima kasih!) sekitar sebulanan lalu. Dia merekomendasikan Christian band ini padaku, setelah dari social media bernama path, tahu kalau aku senang dengan Christian band—khususnya yang lagunya dengan genre rock (meskipun lagu By Your Side ini adalah lagu accoustic dan bukan rock, tapi aku juga senang lagu accoustic kok) . Mulai saat itu, aku mencoba mendengarkan lagu-lagu Tenth Avenue North dan merasakan benar-benar Tuhan memakainya untuk berbicara padaku, menyapa, menguatkan. Membawa aku pulang. Liriknya berbeda dengan Christian band seperti Hillsong dan Planetshakers misalkan, yang selama ini kudengarkan—yang lebih banyak bersifat pujian penyembahan kepada Tuhan. Unik, karena menempatkan manusia dalam realitasnya sebagai manusia yang manusiawi. Yang mungkin lemah, yang mungkin gagal, yang mungkin jatuh—itu mungkin sekali—tapi itu bukan masalah. Selama Tuhan membawa kita bangkit kembali. Kegagalan atau kejatuhan hanyalah bagian dari proses mengejar kesempurnaan, di dalam Kristus.

Lagu pertama yang kudengarkan dari Tenth Avenue North, yang langsung membuatku nyaris menangis karena terharu, adalah You Are More. I knew that God was talking to me through that song. Lagu lain yang menyatakan bahwa kelemahan, kegagalan, kejatuhan bukanlah masalah. Tujuh kali orang benar jatuh, dia akan bangkit berdiri kembali. Ah, sungguh lagu By Your Side dari Tenth Avenue North ini seperti sebuah kado ulang tahun yang sangat-sangat-sangat menyentuh hati dari-Nya, di perayaan pertambahan usiaku yang ke-23 tahun ini. Aku bersyukur :")



And I'll be by your side wherever you fall

In the dead of night whenever you call

And please don't fight these hands that are holding you

My hands are holding you *


You May Also Like

0 comments