MENOLONG SETENGAH-SETENGAH

by - June 09, 2014


Apakah cukup untuk sekedar menolong sebisa kita, atau ternyata apa yang disebut sebagai menolong, membutuhkan “harga” lebih yang harus “dibayar”?

Saya mempertanyakan hal ini belakangan ini. Kemudian, sederet dilemma-dilemma inipun muncul dalam masa perenungan saya, bermekaran satu-persatu, dan membuat saya bingung sendiri.

Dilemma 1. Kita tidak mungkin menolak orang yang datang meminta tolong kan? Mungkin saja memang dalam beberapa kasus, tapi ya harus siap menanggung efek yang mungkin saja merusak relasi. Dan kenapa sih kadang kita menolak untuk menolong? Karena kita merasa tidak mampu? Kalau begitu, memang fokusnya masih kepada diri kita, bukan kepada orang yang kita tolong. Bisakah ini disebut egosentrisme ketika pada kenyataannya, kita juga butuh memikirkan kapasitas diri sendiri sebelum menolong?

Dilemma 2. Kebanyakan orang akan menolong jika merasa ia cukup sanggup untuk menolong. Benarkah memang harus seperti itu? Menolong ketika kita sanggup? Jadi jika kita tidak sanggup, kita tidak menolong? Bukankah untuk menolong orang lain pun dibutuhkan pengorbanan, yang kadang tak sepele? Apalagi ketika ukuran dari rasa “sanggup” didefenisikan secara relatif. Ketika kita sebenarnya sanggup, tapi merasa tidak sanggup. Ketika kita sebenarnya sanggup, tetapi berpura-pura tidak sanggup. Ketika kita sebenarnya sanggup, tapi menyangkali fakta bahwa kita sanggup. Bagaimana ukuran untuk rasa sanggup? Bisakah rasa sanggup selalu menjadi penentu kita untuk memilih menolong atau tidak menolong orang lain?

Dilemma 3. Kadang kita sudah menolong dengan usaha maksimal seperti yang kita bisa, tapi ternyata orang yang kita tolong berekspektasi terlalu banyak dan tidak bisa menyadari totalitas usaha kita untuk menolongnya, pada akhirnya dia pun kecewa terhadap kita. Jadi, menurut kita pertolongan yang kita berikan sudah mencapai titik maksimal. Tetapi menurut orang yang kita tolong, pertolongan kita masih setengah-setengah, dia mungkin berekspektasi lebih. Lalu akhirnya bagaimana? Siapa yang mendefenisikan apakah pertolongan kita sudah maksimal atau masih setengah-setengah? Haruskah itu dari sudut pandang orang yang ditolong? Bagaimana kalau ekspektasinya benar-benar tidak mungkin untuk kita penuhi seluruhnya, meski kita sudah berupaya total? Apakah artinya kita juga harus berjuang lebih lagi untuk sungguh-sungguh menolong sampai tingkat maksimal sesuai ekspektasi orang yang kita tolong? Apakah ini juga menjadi bagian dari pengorbanan kita untuk menolong orang lain?

Dilemma 4. Ketakutan akan kemungkinan dimanfaatkan oleh orang yang ditolong. Pernahkah kalian mengalami ini? Ketika kita sudah dengan tulus dan total, sepenuh hati, menolong orang, tapi ternyata kepercayaan kita terhadapnya tidak dijaga dengan baik-baik? Justru disalahgunakan. Seperti dimanfaatkan. Contoh soal pinjaman uang, paling gampang dan sering terjadi. Jadi kadang sebelum menolong pun, kita dibayang-bayangi rasa takut sendiri untuk dimanfaatkan orang yang akan ditolong? Berpikir kemungkinan bagaimana jika kita dimanfaatkan, atau bahkan dibohongi? Padahal mungkin untuk kasus kali ini, sama sekali tidak begitu. Kadangkala kita jadi tidak menolong, karena takut dimanfaatkan—padahal sebenarnya yang butuh pertolongan sama sekali tidak ingin memanfaatkan, atau tidak berbohong tentang kesusahannya. Dilemma yang ini sering saya alami jika mengobrol acak dengan anak-anak jalanan, lalu mendengar cerita tentang kesusahan mereka yang akhirnya secara tidak langsung meminta pertolongan. Apakah mereka bohong? Apakah saya harus menolong, meski saya dibohongi atau dimanfaatkan? Apakah harga dari menolong orang lain adalah sebesar itu?

Dilemma 5. Ada yang menyebut keberanian dan kerelaan kita untuk tetap menolong meski dimanfaatkan atau dibohongi adalah sebuah kebodohan. Benarkah memang itu tindakan yang bodoh, meski kita tidak yakin kita dimanfaatkan atau dibohongi oleh yang kita tolong itu? Lalu, apakah kita tidak bisa menyebut orang yang memilih untuk tidak menolong karena ketakutan untuk dibohongi atau dimanfaatkan itu (padahal orang yang ditolong sama sekali tidak berbohong atau tidak ingin memanfaatkan, dia benar-benar butuh pertolongan kita, dan karena kita tidak menolong maka dia semakin susah), adalah juga sebuah kebodohan? Kebodohan untuk mengambil kesempatan sebanyak mungkin untuk bisa meringankan penderitaan dan kesusahan orang lain?


Pada akhirnya, saya menyadari bahwa menolong orang lain memang menuntut harga yang besar. Tindakan menolong orang lain membutuhkan pengorbanan yang serius, tidak sepele. Ada juga resiko yang harus kita tanggung ketika pertolongan yang sudah sesungguh-sungguh itu kita berikan disepelekan atau justru kurang dihargai oleh orang yang kita tolong. Atau sebaliknya, ketika karena keinginan kita untuk menolong, kita jadi banyak dimanfaatkan dan dibohongi oleh orang yang kita tolong (menurutku, jika ini yang terjadi dan kita sudah mendapatkan bukti jelas kalau memang inilah yang terjadi, adalah wajar secara manusiawi, untuk berhenti menolong orang itu).

Meski begitu, jangan pernah lupa juga akan perasaan lega dan bahagia, ketika kita sudah menolong orang lain yang membutuhkan. Memang ada sensasi tertentu jika kita berbagi dengan dan dalam kesungguhan, serta ketulusan—ketulusan baik dari kita sebagai orang yang memberi pertolongan, maupun ketulusan dari orang yang kita tolong sebagai penerima pertolongan. Yang terpenting di atas segalanya, keinginan sampai keputusan kita untuk menolong orang lain dengan sungguh-sungguh dan tulus, adalah tindakan yang menyenangkan hati Yang Maha Kasih. Inilah motivasi paling dasar kita seharusnya untuk menolong orang lain. Jadi inilah, perenunganku sendiri, sampai saat ini, mengenai menolong orang lain :)

You May Also Like

0 comments