MENJUAL POTRET PENDERITAAN KAUM PAPA

by - June 05, 2014



Apa yang membuat orang prihatin? Anak-anak yang terlihat kurus-ceking karena kekurangan makan dan kekurangan gizi? Orang miskin yang sekarat karena penyakit parah yang langka yang dideritanya? Orang yang tidak punya rumah dan terpaksa tidur di jalanan?

Apa yang membuat orang lain prihatin (serta mungkin harus ditambahkan: dan yang membuat orang mau memberi donasi)? Penderitaan orang miskin papa yang membuat mereka tampak tidak seperti manusia yang selayaknya? Yang membuat mereka tidak tampak seperti kita yang sejahtera?

Belajar dan bergerak di ranah ilmu sosial semenjak beberapa tahun yang lalu, saya mulai prihatin melihat organisasi sosial-kemanusiaan yang exist sekarang ini. Yang visi-misinya tidak tajam, tapi keinginan dan segala upaya untuk menarik banyak donasi bagi lembaganya total sekali. Beberapa seolah-olah senang untuk memajang dan memamerkan foto-foto orang miskin dalam penderitaannya. Di bawah foto itu, tertera pula tulisan : “donate now”. Apakah hal ini masih bisa dikategorikan membela dan bergerak bagi kemanusiaan, atau malah tidak lagi menjadi usaha yang manusiawi karena memanfaatkan korban-korban kemiskinan dan penderitaan demi menggalang donasi?

Saya sadar benar kalau lembaga-lembaga sosial-kemanusiaan pada umumnya berbentuk yayasan (foundation), yang dananya berasal dari donasi orang-orang. Jarang yang bisa memakai model social bussiness, oleh karena banyak pertimbangan juga. Tapi yang saya prihatin, akhir-akhir ini, saya melihat kalau fokus lembaga-lembaga ini justru berubah. Lebih ke mitra dan donasi, dibandingkan gerakan sosialnya. Dibandingkan visinya untuk menolong kaum miskin papa. Bukankah harusnya donasi atau mitra adalah jalan yang krusial untuk membantu kaum papa, tapi fokus kita tidak boleh lepas dari passion untuk membantu menyelesaikan penderitaan dan kemiskinan kaum miskin papa? Apakah lembaran-lembaran yang diingini dan berpotensi menghancurkan ini, uang, juga bisa mengendalikan lembaga sosial-kemanusiaan yang seharusnya dikendalikan oleh kerinduan untuk menolong penderitaan kaum papa?

Maaf, mungkin tulisan saya sedikit pedas. Atau kadang terlalu menghakimi. Mungkin karena saya terlalu prihatin terhadap kaum papa yang tidak mengetahui media dan teknologi komunikasi seperti kita, mungkin karena saya terlalu berusaha berempati untuk merasakan penderitaan dalam kemiskinan mereka. Saya tahu bagaimana dilemma yang terjadi ketika bekerja di lembaga sosial kemanusiaan. Di satu sisi, kita mungkin tidak ingin mempublikasikan kemiskinan dan penderitaan orang lain dalam foto dan tulisan (karena alasan di atas), tapi di sisi lain, publik apalagi para mitra harus tahu apa yang kita kerjakan, dan siapa yang kita layani, dan bagaimana kondisinya. Mereka butuh laporan, pertanggung-jawaban. Jangan kira saya tidak mengalami. Saya mengalaminya juga, dilemma yang sama :”(

Akhirnya, sebenarnya bagaimana menanggapi isu dan dilemma ini tergantung pada motivasi kita sendiri ketika mempublikasikan suatu tulisan atau foto mengenai kemiskinan dan penderitaan kaum papa. Apakah untuk menggalang donasi yang tak sepenuhnya dimaksudkan untuk orang yang penderitaan dan kemiskinannya kita pamerkan di media? Apakah untuk kesenangan pribadi (bahkan)? Ataukah justru untuk membukakan mata publik terhadap penderitaan dan kemiskinan mereka? Untuk membangun sebuah social movement yang bisa peka menanggapi masalah kemiskinan dengan aksi nyata? Untuk menggalang dukungan doa? Atau bahkan, bisa saja dana, tapi yang benar-benar ditujukan untuk setotal-totalnya menolong orang yang potret kemiskinan dan penderitaannya (terpaksa) kita publikasikan?

Yang jelas, rasanya terlalu kejam jika kita seperti “menjual” potret kemiskinan dan penderitaan kaum miskin papa di media, untuk mendapatkan donasi semata-mata. Apalagi, jika donasi itu tidak ditujukan untuk mereka. Jangan, jangan menjual potret kemiskinan dan penderitaan kaum papa.


p.s. :

Dan! Saya baru ingat! Media televisi. Ya, adalah sebuah dilemma juga bagi kita untuk menanggapi acara-acara reality show di televisi yang melibatkan kaum miskin papa. Reality show yang menampilkan bagaimana mereka menolong kaum miskin papa, tapi siapa tahu tujuan mereka yang sebenarnya? Beberapa teman saya yang berasal dari latar belakang ilmu komunikasi, justru menyatakan tegas bahwa beberapa di antaranya memang ditujukan lebih ke pengejaran rating acara televisi. Nah, lalu apakah tidak bisa dikatakan bahwa inipun adalah salah satu bentuk eksploitasi terhadap kaum miskin papa tak berpunya? :(

You May Also Like

0 comments