MEMPERTANYAKAN PENGORBANAN

by - June 16, 2014


Berkorban adalah harga sebuah pertolongan yang kita ingin berikan kepada orang lain, tapi apakah berkorban selalu terikat dengan pertolongan? Orang bisa saja tidak meminta tolong pada kita, tapi kita mau berkorban untuknya. Orang bisa saja tidak meminta tolong pada kita, tapi dia mau kita berkorban untuknya. Dia berekspektasi lebih, kalau kita "seharusnya" harus menolong. Begitukah?


Relativisme pun semakin mengacaukan cara pandang, cara menilai pengorbanan seseorang. Membuat kekecewaan lahir ketika cara pandang antara yang berkorban dan yang menerima pengorbanan tak serupa. Membuat kecenderungan untuk menghakimi terus-menerus beranak-pihak, ya karena mengukur pengorbanan hanya dengan ukuran kita, kita tidak akan mau tahu berapa harga yang harus dibayar seseorang dalam pengorbanannya kan? Dan, akhirnya kita tidak akan pernah tahu seberapa sulitnya pengorbanan itu untuk dilakukannya sehingga ia tidak bisa melakukannya. Akhirnya kita tidak akan pernah tahu seberapa sulitnya pengorbanan itu, sehingga mungkin dia melakukannya tetapi terasa belum maksimal (di mata kita). Akhirnya kita tidak akan pernah memahami kenapa dia melakukannya. Kita hanya fokus pada apa yang dilakukannya: sudah seberapa besar, sudah seberapa jauh, sudah seberapa cukup untuk memenuhi ekspektasi kita.

Tapi, bukannya seharusnya relativisme menempatkan kita pada kecenderungan untuk membebaskan orang lain dari apa yang kita anggap benar, ideal? Dan menempatkan kita dalam sudut pandang bahwa saling menerima dan menghargai adalah sebuah cara yang indah untuk hidup bersama-sama di bumi-yang-luas-tapi-terbatas-ini?

Andai semua orang, termasuk saya sendiri, menjauhkan diri dari kecenderungan menghakimi orang lain. Kecenderungan menilai pengorbanan, tetapi menggantikannya dengan kecenderungan untuk menerima setiap pengorbanan yang sudah dihadiahkan orang lain dengan penuh rasa syukur. Kecenderungan untuk ber-vestehen memahami setiap alasan dari kata "tidak bisa" (dari sebuah tindakan untuk berkorban). Kecenderungan untuk memberi diri bagi orang lain, untuk berkorban, untuk mengecilkan diri sendiri. Kecenderungan untuk mengingat, kalau pengorbanan, seberapapun kecil atau besarnya, adalah sebuah hadiah. Dan jika pengorbanan adalah hadiah, kita tidak bisa benar-benar menuntut orang lain untuk memberikannya untuk kita.


P.S. :

Tulisan ini dibuat dalam sebuah perjalanan perenungan tentang manusia di dalam diri sendiri dan manusia di sekitar sendiri. Tanpa bermaksud menghakimi. Hanya menyimpulkan, tetapi jikapun salah, mohon pembaca mengingat kalau saya juga masih manusia. Lemah, kurang, berdosa. Sama juga dengan anda.

Tulisan ini adalah hasil campur aduk antara perenungan saya sebelumnya mengenai ekspektasi, dan menolong setengah-setengah. Jika tulisan "Menolong Setengah-Setengah" dilihat dari sudut pandang orang yang menolong, maka tulisan "Mempertanyakan Pengorbanan" ini dilihat dari sudut pandang orang yang menerima (baik pengorbanan, atau bisa juga pertolongan yang menuntut pengorbanan). Tulisan ini mungkin saya akhiri dengan sebuah revolusi kesimpulan yang baru, dibandingkan kesimpulan sebelumnya. Sebenarnya perenungan-perenungan ini tidak benar-benar saya tujukan untuk konsumsi publik, tapi ya sudahlah. Semoga anda yang membaca tidak menilai dan tidak menghakimi poin-poin perenungan ini setelah membaca. Terima kasih untuk ber-relativisme dengan mengedepankan toleransi dan kebebasan berpikir-berekspresi. Terima kasih.

You May Also Like

0 comments