EKSPEKTASI

by - June 04, 2014


Memikirkan banyak mengenai ekspektasi belakangan ini, aku mencoba memetakan pertanyaan-pertanyaanku disini. Pertanyaan-pertanyaan yang dipakai diriku sendiri untuk membedah mengenai ekspektasi.


1. Apakah seseorang bisa hidup tanpa ekspektasi?

2. Apakah ekspektasi bisa disamakan dengan pengharapan (terhadap sesuatu atau seseorang)?

3. Apakah tanpa ekspektasi, hidup manusia akan terlihat lebih mudah dan sederhana untuk dijalani?

4. Apakah tanpa ekspektasi, manusia akan berelasi dengan lebih damai satu sama lain?

5. Hal ini karena, bukankah ekspektasi yang membuat kita kecewa, ketika orang atau suatu hal ternyata tidak berjalan seperti yang kita duga atau inginkan, tidak seperti yang kita ekspektasikan?


Ekspektasi dan kekecewaan menjadi dua topik yang menarik untuk disandingkan. Bahasan ini aku angkat, secara khusus menjadi hasil perenungan pribadi atas masalah-masalah yang akhir-akhir ini terjadi—entah dialami sendiri atau dialami oleh orang lain di sekitarku. Harus diakui, akhir-akhir ini banyak kecewa. Dikecewakan dan mengecewakan pula.

Dikecewakan oleh orang lain karena ekspektasi diri sendiri terhadap orang lain itu tak terpenuhi. Apa yang dilakukan orang lain itu ternyata tidak seperti apa yang diri sendiri harapkan terhadap orang lain itu.
Mengecewakan orang lain karena ekspektasi orang lain terhadap diri sendiri tak terpenuhi. Apa yang dilakukan diri sendiri ternyata tidak seperti apa yang orang lain harapkan.

Karena ekspektasi antara satu orang dengan orang yang lain bisa berbeda-beda, akhirnya kekecewaan pun harus didefenisikan secara relatif sesuai konteksnya. Konteks sudut pandang orang yang melihat. Konteks masalah yang dihadapi. Konteks ekspektasi yang diharapkan tapi tidak terjadi.

Misalkan, bagiku, jika ada seseorang yang tidak merespon dengan baik whatsapp messenger sampai akhir obrolan adalah sesuatu yang mengecewakan. Bagiku, jika obrolan menggantung, meski orang yang diajak mengobrol sedang sibuk atau apa, aku merasa berarti aku atau hal yang sedang kami bicarakan tidak terlalu penting bagi orang tersebut. Ini mengecewakan. Apalagi jika aku berada di posisi sebaliknya, menganggap semua itu penting. Bukan masalah kapan dia akan membalasnya, asal dia ingat membalas. Itu menurut-ku. Menurut orang lain, atau kalian yang membaca? Mungkin berbeda. Mungkin kalian menganggap ini terlalu berlebihan atau mungkin juga kalian setuju? Bahkan mungkin kalian menuntut untuk waktu yang sesegera mungkin untuk seseorang membalas whatsapp messenger kalian?

Nah, jadi, tidakkah lelah jika kita berekspektasi lalu tak terpenuhi? Aku tahu kalau orang-orang harus hidup dengan idealisme atau standar tertentu, nilai-nilai tertentu yang dipegang dan dianut. Hidup dengan ekspektasi. Tapi, jika itu membuat semuanya tambah-kacau, kita merasa terus dikecewakan karena ekspektasi tak terpenuhi atau mengecewakan orang lain karena tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain, tidakkah lebih baik berhenti berekspektasi?

Lalu, tidakkah lebih baik untuk memilih hidup dengan relativisme di dalam diri saja. Tidak bisa berekspektasi yang sama pada semua orang. Dan berharap, orang lain juga tidak berekspektasi terhadap diri sendiri. Jadi, setiap tindakan yang menyalahi dan tidak memenuhi ekspektasi, bisa dimaklumi. Tidak ada kekecewaan. Tidak ada menghakimi satu sama lain.

Tapi, sekali lagi, ini hanya pemikiran asal lewat. Akibat keletihan menanggapi ekspektasi dari diri sendiri terhadap orang lain maupun dari orang lain terhadap diri sendiri, bahkan dari diri sendiri terhadap diri sendiri, yang terus melahirkan kekecewaan. Aku sadar, relativisme tidak bisa dijadikan jawaban—tapi setidaknya bisa menjadi solusi yang bisa dipikirkan saat ini.



Selamat-tidak-berekspektasi-terhadap-orang-lain!
Selamat-tidak-saling-mengecewakan!
Selamat-tidak-saling-menghakimi!




p.s. :

dan, dengan menuliskan ini, aku tahu, aku seperti mengingkari judul blog-ku sendiri. tapi sungguh, tidakkah kalian bisa memahami ekspektasi atau expectation, is different with "hope"? :)

You May Also Like

2 comments

  1. Ekspektasi dan harapan emang beda deh kak kayanya. Ekspektasi lebih spesifik sifatnya sehingga jatuhnya lebih ke menuntut. Kalo harapan, meskipun yg kita terima tdk persis seperti yg kita mau, kita tdk lgsg kecewa hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya kan rut? jadi terteguhkan, terima kasih ya dek :D

      Delete