CERITA ORANG-ORANG DI BULAN JUNI

by - June 30, 2014



Bulan Juni. Hari terakhir. Dan aku mengingat beberapa orang-orang yang tadinya asing, namun kemudian menjadi bagian dari sekian banyak orang-orang yang kukenal. Atau, mungkin yang pernah kukenal, karena aku tidak tahu juga kapan dapat bertemu dengan mereka lagi. Kami bertemu karena kebetulan. Tanpa disengaja. Dalam situasi yang kadang tak disangka. Dan aku mensyukurinya. Setiap orang, setiap cerita. Setiap kepercayaan yang mereka berikan kepadaku.

Hari itu tanggal 20. Hari jumat yang panas dan terik. Orang bergerombol mengantri di bakti sosial yang digelar Diman dan TNI wilayah Tangerang. Di sebuah lapangan sepak bola di daerah Sepatan. Ada seorang nenek berusia lansia yang duduk sendirian menunggu antrian. Bakti sosial ini memang menyediakan layanan pengobatan umum dan gigi gratis. Dengan kamera DLSR di tanganku, yang sedang bertugas liputan dari kantor hari itu, aku menjumpai sebuah kursi kosong di sebelah kanan si nenek. Aku duduk, sambil tersenyum ramah. Beberapa detik kemudian mulai menyapa. Namanya nenek si’im. Dia nenek dari 11 orang cucu dan ibu dari 6 orang anak. Seorang janda. Tinggal sendirian dan berupaya menanggung dirinya sendiri. Tampak lusuh dan kumuh, sangat sederhana dan apa adanya. Anak-anaknya tinggal jauh, tak ada yang mengurus, tak ada yang mengirimi uang. Nenek si’im juga tak bekerja, dia hanya mengandalkan diri pada keberuntungan. Kadang terlihat seperti meminta-minta, tapi terpaksa. Dia juga meminta sedikit uang padaku, yang bingung harus berbuat apa. Tapi pada akhirnya dua lembar rupiah yang tak seberapa kujabatkan ke dalam telapak tangannya. Katanya ia perlu uang untuk makan malam hari itu. Sedikit saja. Aku masih tak habis pikir. Kenapa bisa? Dia yang sudah tua-renta harus menghadapi hidup yang keras setiap hari? Pada awalnya, aku terenyuh. Sampai akhirnya setelah berobat gratis dan mengambil obat yang juga gratis, si nenek pulang dengan becak dayung. Aku jadi meragu. Darimana uangnya? Apakah aku dibohongi? Oleh nenek berusia lewat 70 tahun dan sudah tampak renta, malah sulit bicara? Haha, aku tertawa saja. Menolong orang lain, termasuk kaum yang mengaku tak berpunya, juga adalah sebuah dilemma.

Hari itu tanggal 21. Hari sabtu sore yang cukup teduh di terminal bis kota depok. Aku baru saja sampai disana dengan menumpangi angkot biru bernomor 02. Sesampainya disana, aku langsung mencari kopaja 63 hijau yang sedang ngetem, dan masuk ke dalamnya. Masih kosong-melompong, aku penumpang pertama. Setelah aku, tak lama, naiklah dua orang perempuan—satunya berumur lansia dan satunya berumur dewasa—yang tak saling mengenal. Mereka duduk terpisah. Salah satunya, yang berusia lansia, memilih duduk di dekat pintu, tepat di depanku. Tiba-tiba, ia menyapaku untuk meminta tolong sambil mengoper ponselnya padaku. Ponsel itu sederhana sekali, merk-nya tidak ternama dan bukan smartphone. Aku diminta tolong mengirimi sms kepada putranya untuk menjemput di terminal blok M, tujuan akhir dari kopaja yang kami tumpangi. Akibat kacamata si ibu berumur lansia tumben tak terbawa. Aku dengan senang hati membantu. Sayangnya ponsel sederhana itu habis muatan baterainya dan mati total tak lama setelah aku mengetik habis sms singkat itu seturut arahan si ibu. Tak tahu juga apakah sudah sempat terkirim atau belum. Pembicaraan kami dimulai darisitu. Ternyata si ibu ini sudah jadi nenek dari sekian orang cucu, dan ibu dari dua orang anak perempuan yang sudah menikah jadi tak lagi tinggal bersamanya. Ia memang memiliki satu orang putra yang tinggal bersamanya, tapi bukan anak kandung. Kami bernostalgia ke masa lalu bersama. Ibu berusia 60 ke 70 tahun itu bernama Partini. Dia sudah menikah semenjak umurnya masih 14 tahun. Meski tubuhnya sudah terlihat rapuh dan renta, serta wajahnya mulai keriput, dia masih terlihat kuat. Tidak pikun. Sehat. Kami terus bernostalgia ke zaman dimana perjodohan oleh orang tua masih meraja, menjamur. Kisahnya seperti sinetron, tapi bukan yang murahan. Sebenarnya dia sudah saling tertarik dan menyukai dengan seorang laki-laki yang berbeda tiga tahun dengannya sebelum menikah itu, tetapi sayangnya dia terlanjur dilamar. Ibu partini memilih untuk tetap setia pada suaminya meski mereka menikah dan bersatu akibat perjodohan. Sampai suaminya meninggal lebih dulu dan meninggalkannya sebagai janda. Siapa sangka, di umur ke-24 tahun itu—sudah 10 tahun berlalu—tapi laki-laki yang dulu tertarik dan menyukainya masih menunggu. Belum menikah. Mereka akhirnya menikah. Padahal, Ibu Partini sudah punya empat orang anak—tiga orang meninggal dunia sehingga tinggallah satu. Tapi dia masih awet muda. Kami juga bernostalgia ke zaman dimana orang asing masih meraja di Indonesia, pasca kemerdekaan. Menggaji dengan tak selayaknya, ya dulu ia bekerja sebagai tukang masak atau koki jika ingin membuat istilahnya lebih keren, di sebuah restoran milik orang asing setelah nekat merantau dari jawa. Tapi siapa sangka? Dari hasil itu, dia bisa membeli rumah. Sekarang dia seorang lansia yang bebas dan berusaha menikmati hidup. Meski sederhana. Meski sendirian. Mungkin hanya dengan televisi atau para tetangga yang menjadi teman berbagi. Kadang merasa bosan, tapi tak ada pilihan. Ternyata umur lansia dan waktu beristirahat juga tak menyenangkan seperti yang disangka.

Hari itu tanggal 27. Hari jumat nyaris tengah malam. Kami bertemu di jembatan transjakarta, dan berjalan bersama menuju tujuan yang sama: stasiun cawang, jakarta timur. Sama-sama pulang kerja, dan ingin segera sampai di rumah. Mengejar kereta, pemberangkatan yang terakhir hari itu. Namanya Erna dan umurnya baru 24 tahun. Kami berselisih dua tahun. Tapi dia sudah menikah dan memiliki satu anak berusia 1,5 tahun. Wah, cepat sekali. Kami duduk lesehan bersama di dalam kereta, sambil menikmati banyak cerita. Mulai dari kerjaan, sampai transportasi. Soal perempuan dan resiko pulang selarut kami. Ya, kami juga terpaksa pulang selarut itu, sama sekali bukan disengaja. Ia kerja di sebuah parkiran di daerah grogol, gajinya lumayan. Tapi jarak dari rumahnya yang terletak di daerah Bojong Gede dan tempat kerjanya itu nyaris ditempuh dalam waktu perjalanan tiga jam. Dia malah dapat shift jaga sore ke malam terus. Padahal anaknya lagi lucu-lucunya. Suaminya sebenarnya tidak ingin dia bekerja, toh suaminya sudah bekerja. Tapi namanya ibu rumah tangga, yang tadinya biasa bekerja, gaji suami seorang diri dengan kehadiran seorang anak bayi dirasa tak mencukupi. Sayangnya kadang dia dicap bukan ibu yang baik, padahal dia pun berat untuk meninggalkan anak pertama sekaligus semata wayangnya, di rumah tanpa kehadirannya. Bersyukur masih ada ibunya yang bisa membantu menjaga. Ia juga mengeluh soal kotornya tempat kerjanya. Debu-debu dan pasir dari kendaraan yang ingin parkir. Aku bertanya apakah pegawai disana memakai masker? Katanya tidak, tidak boleh. Ia juga tidak tahu alasannya mengapa. Baru sekali ini aku tahu sedikit cerita tentang pekerja petugas penjaga parkiran. Ternyata meski gajinya lumayan, rasanya lelah. Dan prestise-nya, tak ada. Aku baru sadar kalau pekerjaan seseorang bukan hanya melulu soal gaji. Tapi juga prestise, previlege, bahkan power. Ya, power. Kalau ingin diterjemahkan secara konkrit bisa disebut jabatan. Dan ada pekerjaan dengan gaji lumayan, tapi tanpa prestise apalagi power. Yang lebih miris adalah pekerjaan dengan gaji tak layak, dan juga tanpa prestise apalagi power. Padahal peran pekerjaan mereka teramat penting. Jika mereka tak ada, mungkin keseimbangan kehidupan sosial akan terganggu mutlak. Ini sering kupikirkan—para petugas sampah dan toilet, misalkan. Pernah memikirkan?

Hari itu tanggal 28. Hari sabtu pagi dalam perjalanan menuju stasiun UI. Sebenarnya aku hanya ingin me-refund tiket yang kemarin malam aku tak sempat me-refund-nya. Lumayan kan 5 ribu rupiah? Bisa untuk ongkos juga. Aku berjalan terus menyusuri deretan toko-toko mini di kiri kanan jalan di areal yang disebut kober itu. Maklum, area mahasiswa, disana menjual berbagai macam barang. Mulai dari baju dan kaos, jam dinding dan jam tangan, tas, makanan, jajanan, buku bacaan, peralatan tulis, cilok super, nasi padang, kacamata, banyak. Tapi di ujung toko, ketika akan berbelok menuju area tanpa toko yang dulu juga penuh toko-toko yang sudah digusur demi kenyamanan dan keamanan pengguna rel kereta, dari kejauhan, ada seorang adik laki-laki duduk tanpa alas kaki. Dengan sebuah mangkuk kecil kosong dipegang salah satu tangannya. Aku terenyuh. Bukan untuk memberi uang, tapi untuk memberi sebungkus biskuit cokelat oreo miniku yang belum dimakan. Aku pantang memberi uang pada anak jalanan. Aku, sebagaimana yang dipercaya banyak pemerhati anak jalanan lainnya, percaya bahwa memberi uang bukan cara untuk menolong.  Sebaliknya, itu cara paling ampuh untuk memelihara mereka di jalan dan merusak masa depan mereka. Karena mereka diperdaya para orang dewasa sebagai boss’ mereka. Memberi biskuit atau susu lebih berguna, karena mereka bisa langsung mengkonsumsi dan lebih bergizi. Tapi karena terlalu banyak yang dipikirkan dan dihubungi (dari tablet di tangan), aku lupa. Baru ingat ketika aku sudah duduk makan di sebuah warteg langganan para mahasiswa UI di dekat kos-kosanku dulu di daerah barel. Sudah jauh sekali, dan aku sempat menyesal. Siapa sangka, ternyata aku harus balik lagi melewati jalan yang sama—karena tiba-tiba diminta datang rapat untuk sebuah acara anak-anak marginal dari sebuah NGO yang sudah cukup besar dan berumur. Ketika melihatnya dari jauh, aku tersenyum. Karena dia masih duduk disana. Sesampainya di dekatnya, aku ikut berjongkok, tepat di sebelah kanannya. Mengacuhkan orang-orang yang lalu-lalang di hadapan kami, yang melirik ke arahku bingung. Menyapa sambil bertanya siapa namanya? Namanya Dicky. Berapa umurnya? Baru 7 tahun. Apakah dia sekolah? Sekolah, tapi sekarang lagi libur. Kenapa dia mengemis disitu? Disuruh ibunya. Jawaban terakhirnya membuat aku terkejut. Katanya ibunya tak bekerja dan ayahnya seorang buruh bangunan. Aku masih belum memahami kenapa ibunya tega menyuruh anaknya mengemis di jalan. Ah, itulah kehidupan. Kata sebuah riset atau teori, tepatnya aku lupa, tapi bagi kaum tak berpunya—bagi sebagian di antara mereka tentunya, bukan semua—semakin banyak anak semakin banyak rejeki. Kenapa? Karena anak meski masih kecil disuruh ikut mengais rejeki. Mengemis. Mengamen. Menantang liarnya jalanan keras ibukota. Aku kadang berpikir, ibu mana yang tega? Seandainya aku jadi ibu, aku juga takkan tega. Iya kan? Ah. Ternyata aku salah. Ada juga ibu yang tega.

Hari itu tanggal 28. Masih hari sabtu yang sama, sebuah sore yang terik padat dan macet (maklum, besok harinya puasa hari pertama di bulan Ramadhan 2014 ini), di sebuah mall di kota depok. Aku kebelet ke toilet. Jadi aku singgah disana. Toilet ramai para perempuan yang mengantri dari segala usia. Padahal hanya dua kamar mandi. Dan hanya ada satu orang petugas kamar mandi. Namanya lilis, kalau aku tidak salah ingat. Usianya aku lupa bertanya. Tapi pembicaraan kami dimulai dari hal sederhana. Dari aku yang menanyakan ada berapa toilet di dalam mall itu, aku berpikir ingin mencari yang lebih sepi. Tapi tak jadi. Antrian di depan saja cepat habisnya. Sampai aku sudah selesai dan berdiri di depan westafel untuk membasuh tangan dengan sabun dan air. Si mba kembali menyapa. Obrolan kami singkat, hanya selama aku menyakinkan diri kalau semuanya sudah bersih dan rapi di depan kaca toilet. Tapi sangat menyentuh, bagi aku pribadi. Aku baru tahu kalau anaknya sudah dua orang, berumur 9 tahun dan 2 tahun. Jika ia bekerja seperti saat ini, keduanya ditinggal di rumah. Tanpa ada yang jelas menjaga. Kadang adiknya. Kadang tak ada. Suaminya? Mereka sudah berpisah, bercerai, semenjak ia melahirkan anak kedua. Dia menyebut pernikahannya sebagai pernikahan yang hancur, kacau. Aku jadi iba dan sedih sendiri. Karena itu dia bekerja, meski dengan pekerjaan petugas toilet. Yang harus menjaga kebersihan dari setiap kamar dan memastikan lantainya tak becek. Mengelap bagian tempat duduk dengan lap tanpa sarung tangan sama sekali. Pekerjaannya berat, menurut aku. Seperti yang sudah aku utarakan di paragraf sebelumnya. Siapa sih yang dengan sukarela mau membersihkan bekas kotoran orang lain? Tapi demi anak. Dia melakukannya demi anak-anaknya. Aku melihat sosok ibu yang tangguh di dalam dirinya. Bagaimanapun, berbahagialah para anak yang memiliki ibu yang tangguh, setangguh mba lilis.

Lima cerita. Lima pribadi. Lima kondisi. Yang berbeda-beda. Yang membagikan sebuah perenungan untuk aku, atau juga mungkin untuk kita. Akan hidup yang keras. Akan hidup yang harus bisa dikendalikan meski tampaknya tak terkendali. Akan perjuangan yang tak kenal kata menyerah. Akan kenyataan bagi mereka yang duduk di strata sosial-ekonomi menengah bawah.

Hari terakhir di bulan juni, dan aku menuliskan ini. Supaya aku tidak lupa. Kalau setiap manusia berjuang untuk bertahan hidup. Di tengah berbagai kondisi sosial-ekonomi. Tak ada yang mudah, tak ada yang sepele. Apalagi, untuk kaum yang menempati slot kelas sosial-ekonomi menengah bawah. *

p.s.:
tulisan ini terinspirasi dari tulisan salah satu teman satu jurusan satu angkatan saya di FISIP UI, yang bisa dikunjungi di www.catatanugahari.wordpress.com :)
 

You May Also Like

0 comments