AND THE GREATEST OF THESE, IS LOVE

by - May 01, 2014





"And now these three remain: 
faith, hope, and love. But the greatest 
of these is love." 


(I Corinthians 13:13 NIV)


Setelah masa degradasi spiritual, aku kembali banyak merenungkan soal cinta kasih Tuhan. Teristimewa padaku. Bagaimana kasih-Nya tak berakhir ketika aku kalah atau salah. Bagaimana kasih-Nya tetap hadir ketika ketidaklayakan menerjang. Bagaimana kasih-Nya tetap tidak gagal di tengah ujian hujan dan badai. Bagaimana kasih-Nya tak pernah menyerah mengejarku di saat keterpurukanku menjedakan dan menjauhkanku dari hati-Nya. Bagaimana kasih-Nya setia, mendampingi, menghibur, menguatkan, meneguhkan, melalui masa-masa degradasi, dan akhirnya mengantarkanku ke sebuah masa yang baru. Masa dari level yang up.

Dari sekian banyak ayat yang kurenungkan, mungkin ayat inilah yang paling mengena saat ini dalam refleksi pribadiku. Tentang faith, hope, and love. Iman, pengharapan, dan kasih. Dan yang terbesar, adalah kasih. Bukan iman, bukan pengharapan. Tapi, kasih.

Aku mengamininya.

Ada kalanya memang iman dan pengharapan menjadi tampak begitu mustahil untuk tetap digenggam dan dipeluk. Ada kalanya ketika mempercayai Tuhan Maha Baik itu sulit, ketika kondisi tak menyamankan dan tak mendukung iman melahirkan banyak benih keragu-raguan. Ketika pertanyaan-pertanyaan soal kuasa dan kedaulatan Tuhan muncul, setelah bingung melihat Dia banyak diam untuk apa yang kita gumulkan. Ada kalanya pengharapan juga bukanlah sesuatu yang kita ingin miliki, ketika sudah begitu parahnya dan dalamnya kita jatuh dalam jurang keragu-raguan. Ketika pengharapan tampak seperti nostalgia saja, atau bahkan intermezzo. Tidak nyata, tidak bisa menjadi sauh yang kuat untuk kita memandang optimis hari depan yang akan datang itu.

Begitulah, ketika iman dan pengharapan surut. Kasih hadir untuk mengisi apa yang kosong. Kasih hadir untuk memberi topangan pada penderitaan hidup, menjadi jawaban di tengah kebingungan yang menyelimuti hari-hari. Kasih hadir sebagai pendamping kita untuk bertahan, tetap setia kepada Tuhan, meski tangan-Nya tak bisa kita lihat sedang berkarya bagi kita. Kita bertahan, sesederhana karena kita (begitu) mengasihi Tuhan.

Hal yang sama berlaku pada manusia. Aku teringat Hosea, seorang nabi dalam zaman Perjanjian Lama, yang di tengah segala ketidaksetiaan istrinya, tetap bertahan. Hosea tetap bertahan karena ia mencintai (Tuhan dan mencintai) istrinya itu, seburuk apapun keadaan bisa membuatnya tidak bisa mempercayai istrinya lagi, seburuk apapun keadaan bisa membuatnya tidak tahu bisa berharap hal apalagi dari istrinya. Hosea tetap bertahan mencintai istrinya.


But the greatest of these,
is love.

Sama juga denganku. Aku bersyukur sanggup bertahan tetap kembali pada-Nya, juga karena kasih itu. Yang muncul, menguat, membara kembali setelah ujian hujan dan api. Setelah up and drop pada masa degradasi. Meski iman terasa kendur, ketika kondisi tak baik benar-benar melemahkan diri sendiri. Meski pengharapan terasa pahit, ketika tak sanggup memandang ke masa depan dalam optimisme karena situasi mengikis iman. Kasih bertahan. Kasih mempertahankanku. Dalam kesetiaan, sampai iman dan pengharapan kembali menerangi alur perjuangan dari perjalananku di samping Yesus Tuhan.

But the greatest of these,
is love.

Do you have that love? Do you desire for that love?
Do you struggle for that love?



Let love makes you stronger to may trust and put your hope in God, everlasting and unending.

You May Also Like

0 comments