Saturday, 15 March 2014

1000 YEARS


How to be brave?
How can i love when i am afraid to fall?


Ini kunyanyikan, kudeklarasikan, bukan untuk seseorang yang sama-sama lemah, sama-sama tidak berdaya, sama-sama tidak sempurna—yang kemanusiawiannya percis terjiplak seutuhnya seperti kemanusiawianku.  Bukan untuk seorang laki-laki manapun. Bukan untuk seseorang yang kita kenal sebagai manusia biasa. Lagu ini sungguh bukan kunyanyikan untuk itu, bukan. Bukan. Aku tidak semelankolis itu jika berbicara soal tindakan cinta kepada manusia. Percayalah padaku, setidaknya sejauh ini.

Lagu ini kunyanyikan, kudeklarasikan, sambil merenungkan tiap penggal katanya—dengan mengingat, dengan menujukannya, pada Sosok yang kukenal begitu dekat tapi terasa begitu jauh saat ini. Dalam degradasi yang menjedakan antara aku, dan Dia. Dia yang mengingini kesempurnaanku—ah, bukan. Lebih tepatnya, mengingini perjuangan penuh totalitas dan radikalitasku, untuk mengejar kesempurnaan yang adalah mutlak milik-Nya. Yang sebenarnya tidak bisa kugapai, bahkan. Hanya Dia yang bisa memberikannya, sebagai anugerah bagiku. Anugerah indah, untuk melengkapi ketidaksempurnaanku. Dia hanya ingin melihat aku menjadi sosok yang lebih kuat karena perjuangan mengejar kesempurnaan itu.

Ya, aku menyanyikan lagu ini untuk-Nya. Sambil mengingat hari-hari yang lalu, masa-masa suka dan duka yang turun-naik memenuhi setiap hari di belakang hari ini. Sambil mengenang betapa dulu aku mencintai-Nya, sepenuh itu. Senekat itu. Tapi sekarang? Bukannya aku tidak lagi. Bukannya aku berhenti. Aku hanya takut jatuh, takut gagal—ketika aku mencoba, sekuatku. Karena, aku hanyalah seorang manusia biasa, pada akhirnya. Tidak sempurna, tidak seperti-Nya yang adalah Maha Sempurna. Aku hanya tidak ingin mengecewakan. Ketika aku pesimis akan daya dan semangat juangku untuk mengejar dan mencintai-Nya—seperti masa lalu yang sudah lama lewat itu.


But watching You stand alone,
All of my doubt suddenly goes away somehow.

I will be brave.


p.s.:
lirik lagu dikutip dari “Thousand Years” oleh Christina Perri.