ADIK KECIL YANG BERJALAN KAKI DENGAN KARUNG GONI

by - January 13, 2014


Siang itu panas, terik. Apalagi di sepanjang jalan Margonda Raya, Kota Depok. Yang gersang tanpa pohon. Aspal jalan panas, berdebu. Apalagi, baru ada pembangunan, renovasi bagian pinggir jalan oleh pemerintah, belum selesai. Aku baru saja menyelesaikan makan siang, sekaligus sarapan pagiku, di salah satu rumah makan di sisi jalannya. Yang menjual Bakso Malang, yang menurutku cukup istimewa. Meski kepanasan, aku senang, aku kenyang. Aku menikmati waktu makan siangku hari itu, apalagi setelah merasa kelaparan sebelum makan tadi.

Jam satu siang, nyaris. Aku baru saja akan berbelok mengambil jalan kecil menuju kampusku, ketika melihat dari kejauhan, seorang adik. Seorang gadis kecil berusia delapan tahun, kira-kira. Baju kaosnya berwarna merah, tapi sudah terkesan sangat kusam dan berdebu. Luntur. Tidak lagi berwarna merah cerah, yang simbolisasi makna dari warna ini, menurut orang seksi, atau berani. Tapi menurutku, adik itu masih sangat berani. Untuk semua yang dilakukannya, dalam panas siang itu. Dia memakai topi, yang aku lupa warnanya. Topinya juga kumal. Sama juga, dengan rambutnya yang pendek sedagu lewat. Warna rambutnya itu menunjukkan bahwa ia sering terpapar dan terbakar sinar matahari, seperti siang ini.

Yang paling membuatku gelisah sebenarnya, bukan itu. Yang paling membuatku gelisah sebenarnya adalah sebuah karung goni yang ditariknya sambil berjalan di punggungnya. Karung goni, istilah untuk sebuah karung beras kosong yang besar, berwarna putih seperti umumnya karung beras. Isinya barang-barang rongsokan, yang tak semua bisa kulihat jelas. Yang jelas, aku menyadari ada sebuah besi bekas panjang warna hitam, yang mungkin berat, di dalam sana. Ini hal pertama. Masih ada hal kedua. Yang membuatku gelisah.

Hal yang kedua, dialah gadis kecil yang ku lihat, yang menarik hatiku yang kaget melihatnya, ketika aku masih di dalam angkutan umum—menuju warung bakso malang, kira-kira setengah jam lebih lalu. Waktu itu, waktu aku melihatnya itu, jaraknya masih jauh sebelum aku sampai di tempat tujuanku, warung bakso malang itu. Masih sebelum Depok Town Square, sebuah mall yang jaraknya lumayan kalau ditempuh dengan berjalan kaki dari tempat itu. Aku sendiri tak pernah membayangkan, mau berjalan kaki untuk menempuh jarak itu. Apalagi dalam hari siang panas terik. Aku terenyuh. Sementara setengah jam lebih aku makan tadi, menikmati bakso malang istimewaku (nama menu yang kupesan memang bakso malang special), ternyata gadis kecil itu berjalan dari tempat tadi sampai kemari. Bisa ku bayangkan sejenak, dia kepanasan, kehausan, keletihan. Apalagi, dengan karung goni berisi berat yang dibawa, ditarik-tariknya menyeret aspal jalan. Aku tiba-tiba merasa bakso malang yang ku makan tadi tidak lagi seistimewa itu.

Namanya Yani, gadis kecil itu. Akhirnya aku berlari membelikan dia sebungkus biskuit yang menurutku lumayan mengandung nutrusi. Setidaknya bisa menolongnya, meski hanya siang ini.  Begitu pikirku. Aku merasa bersalah karena ketika dia berjalan kepanasan, bekerja dengan barang rongsokan, aku makan dalam kenikmatan. Dalam kenyamanan. Tidak kepanasan. Meski sebenarnya, jelas, itu bukan salahku juga. Sayang, aku lupa membelikannya minuman. Terlalu panik, takut dia menghilang dari pandangan. Karena untuk membeli biskuit gandum itu, aku harus masuk ke jalan menuju kampusku. Yang menjual ada disitu. Aku setengah berlari lagi mendapatkannya, ternyata sedang duduk termenung, mungkin juga kelelahan, di pinggir jalan. Dia menjawabku dengan nada yang begitu polos, ketika ku tanya lembut. Tersenyum padaku, ketika aku berinisiatif untuk menyapanya di tengah panas terik siang itu. Aku tak percaya dia harus melakukan pekerjaan semacam itu, pada akhirnya. Dia masih kecil, masih polos, masih tak tahu banyak tapi dituntut untuk tahu banyak. Tapi, dia memang melakukannya. Pekerjaan orang dewasa, yang tak semua orang mau melakukannya. Prestise masalahnya, kata mereka. Hanya kaum kecil, yang tak berpunya, yang mau melakukannya. Yang harus melakukannya, mungkin lebih tepat begitu. Mau tak mau, karena tak ada pilihan.

Aku bertanya berapa penghasilan yang rata-rata bisa adik kecil itu capai satu harinya. Katanya polos, dia menjualnya ke pasar minggu. Aku membayangkan, dia tak mungkin kesana dengan angkutan umum, yang ongkosnya nyaris menghabiskan sepertiga bagian dari pendapatannya hari itu. Dia pasti menuju kesana dengan berjalan kaki, lagi. Aku meringis membayangkan itu dalam kepalaku, dan hatiku. Sejauh itu. Depok-Pasar Minggu, jalan kaki. Hanya untuk sepuluh ribu sehari. Ah, aku meringis lagi, sendiri. Setelah pergi, setelah berpisah dengan adik kecil itu, dan sibuk merenung sendiri dalam perjalananku menuju kampus. Bahkan bakso malangku tadi, harganya lebih dari sepuluh ribu.



P.S. :

aku bertemu dengannya, jumat itu, 10 Januari 2014, ketika adikku, klara puspita, akhirnya menyelesaikan perjuangan meraih gelar S.Sos-nya yang tinggal sedikit lagi saja.
 

You May Also Like

0 comments