Friday, 17 January 2014

STOP JUDGING, START HUMBLING


Masa perang ideologi, kurasa itu sebutannya. Bisa dibilang begitu. Ketika orang-orang ribut. Membenarkan diri. Membenarkan kelompoknya. Terkesan rohani, kadangkala. Padahal Tuhan, Yang Di Atas Sana, mungkin geleng-geleng kepala, memperhatikannya. Siapapun, agama apapun. Itu naluri alamiah, dari seorang manusia. Pengakuan. Power. Itu harta penting yang selalu dikejar-kejar.

Sungguh, di titik ini akhirnya, bisa juga memahami bagaimana orang-orang memilih untuk menjadi agnostik. Keletihan terhadap agama. Pencarian akan Tuhan yang melelahkan ketika prosesnya terlalu panjang, berbelok-belok, berliku-liku. Keletihan terhadap para rohaniawan, terhadap sederet judgement yang diucapkan serampangan. Para rohaniawan yang ternyata masih manusia yang daging juga. Tidak unity. Menolak rendah hati.

Akhirnya, daripada ikut terjebak dalam apa yang tak-tahu-benar-salahnya, atau justru tersudutkan dalam perang ideologi yang melelahkan kepala dan hati: lebih baik menarik diri. Mundur. Menutup mata. Memalingkan wajah. Memilih untuk tak mau tahu. Terserah saja. Itu urusan mereka.

Masa degradasi belum berakhir? Ritme up-and-drop masih mendominasi grafik hari-hari? Masa dimana ada perasaan benci jatuh. Benci jauh. Benci bingung. Benci menangis berhari-hari tanpa ada yang tahu. Benci membagikan cerita. Tapi cerita itu perlu dituliskan, kadangkala. Dituliskan, bukan dibagikan. Keduanya tidak sama. Menuliskannya, bukan berarti kau ingin membagikannya. Orang tak perlu membacanya. Orang tak harus membacanya. Cerita itu perlu dituliskan, meski tidak ingin dibagikan. Untuk meyakinkan bahwa manusia itu daging, manusia itu lemah. Baik yang lelah akan perang, lelah akan kelompok-kelompok rohani, lelah akan agama, lelah akan masa degradasi. Atau justru bagi yang tak lelah, yang terus ngotot berperang, terus ngotot meraih power untuk dikenakan sebagai mahkota di atas kepalanya, terus ngotot untuk membentuk banyak pencitraan. Kita semua masih manusia, daging semata-mata, kata orang berdosa. Tak tahu apa yang kita ingini, tak tahu apa yang kita cari, tak tahu apa yang kita lakukan, tak tahu maksud status yang kita kenakan, tak tahu. Benar-benar tak tahu. Berhati-hatilah dengan dirimu sendiri, jadi.



p. s. :
Anak bungsu itu, masih tidak mau pulang. Dia terlalu lelah untuk kembali. Dia terlalu sedih. Terlalu sendiri. Terlalu bingung. Terlalu lemah. Terlalu daging. Ingin menyerah saja. Dia butuh dijemput, dicari. Tak sekedar ditunggu, untuk pulang ke rumah. (Mungkin, jika kau membaca catatan di salah satu social media milikku, kau akan mengerti apa maksudnya).

Wednesday, 15 January 2014

K-DRAMA THE HEIRS 2013: IN SOCIOLOGY

Kali pertama saya ingin me-review film drama Korea disini, saya memilih K-drama berjudul The Heirs, atau The Inheritors ini. Sebenarnya saya bukan benar-benar K-drama, atau Korean-lover, dan K-drama ini bukan film Korea pertama yang saya tonton. Tapi, saya memilih The Heirs ini sebagai K-drama yang saya review karena film ini membekas saja buat saya. Lebih dari yang K-drama lain yang pernah saya tonton. K-drama ini baru saja keluar dan main di Korea, oktober-desember tahun 2013 yang lalu. Berikut saya tampilkan keterangan K-drama ini.

Drama: The Heirs / The Inheritors
Revised romanization: Wangkwoneul Sseuryeoneunja, Keumugyeruel Kyeondyeora - Sangsokjadeul
Hangul: 왕관을 쓰려는자, 그무게를 견뎌라-상속자들
Director: Kang Shin-Hyo, Boo Sung-Chul
Writer: Kim Eun-Sook
Network: SBS
Episodes: 20
Release Date: October 9 - December 12, 2013
Runtime: Wed. & Thu. 21:55
Genre: Romance
Language: Korean
Country: South Korea

The Heirs, seperti namanya, bercerita soal tema yang sebenarnya sudah sering diangkat dalam K-drama: kepemilikan warisan. Setidaknya ada beberapa tokoh yang jadi the heirs (ahli waris) di drama ini: Kim Tan, Kim Choi, Rachel, Young-Do, dan Sunbae Hyo-Shin. Tapi film ini unik, berbeda, menurut saya, karena tokohnya yang banyak (yang membuat ceritanya jadi cukup kompleks, dan membuat pasangan tokoh utama tak seperti merasa dunia hanya milik berdua dalam kisah percintaannya, haha). Untuk sinopsis The Heirs, sudah terlalu banyak website hasil pencarian yang mungkin bisa kita googling dan baca, termasuk versi sinopsis resminya. Jadi, untuk sinopsis, saya lewatkan saja ya. Nah, pada intinya, saya suka sebenarnya dengan K-drama ini karena menurut saya, kisah ceritanya sosiologis. Mungkin film ini bisa kali dijadiin tugas review film buat mahasiswa sosiologi (kan asik, ngerjain tugas sekalian nonton K-drama, andaikan ada dosen sosiologi UI yang K-drama lover ya), haha. Meskipun, saya setuju juga dengan review singkat teman saya, Galuh Setyari, atas K-drama ini, yang berpendapat bahwa dari episode ke-17, ceritanya udah men-drama banget; tapi menurut saya, setiap scene memang dirancang dengan tepat, gak asal-asalan (saya suka sebal kalau melihat sinetron Indonesia yang sangat ngasal untuk beberapa scene-nya, membuat ceritanya jadi “apa sih” dan kelihatan maksa banget). Scene ini juga saling menyambung dari awal sampai akhir, jadi kelihatan menarik dan pintar, menurut saya. Misalkan, soal benda bernama “dreamcatchers” atau plaster luka yang diberikan Eun-Sang ke Young-Do.

Ini dia tokoh utamanya: Eun-Sang (Park Shin-Hye) dan Kim Tan (Lee Min-Ho)

Memang sih, hal-hal yang sudah saya sebut ini membuat saya mesti beberapa kali flashback ke episode atau scene sebelumnya, apalagi di episode awal 1-5. Tapi menurut saya, justru seru saja. Bisa banyak berpikir dan menganalisis. Nah itu juga yang saya suka dari K-drama Korea, apalagi yang ini. Karena, maksud ceritanya disiratkan, bukan disuratkan (gak dibilang langsung ke penonton oleh para tokoh). Itu membuat tim pembuat film mikir banget kan, gimana menyusun alur ceritanya. Jadi, menarik menurut saya. Kalau sinetron di negara saya sih, sepertinya gak mau repot gitu. Jadi, jelek dan bodoh banget kadang-kadang -.- Oke, kenapa menurut saya film ini sosiologis? Berikut.

1. Kisahnya soal the heirs, atau kepemilikan warisan ini, pasti mengarah soal tema kelas sosial-ekonomi. Apalagi, pasangan tokoh utama memang berbeda kelas sosial-ekonomi. Saya suka salah satu scene dimana Chan-Young, menceritakan pada sahabatnya itu, Eun-Sang, mengenai empat kelas sosial hierarkis yang ada di sekolah mereka. Kelas itu, pasti didasarkan soal identitas sosial-ekonomi murid bersangkutan, apakah orang tuanya punya hak milik perusahaan, dsb. Ini yang menurut saya, unik. Bahkan, soal kelas sosial, K-drama ini memaparkan secara langsung.

2. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya suka karena maksud cerita dalam drama ini disiratkan. Karena itu, pasti ada adegan-adegan yang menyimbolisasi maksud-maksud tertentu, termasuk soal kenyataan kelas sosial tadi. Banyakan yang kalau dipikir-pikir dalam realitasnya, kejam sih ternyata, kelas sosial itu. Misalkan, ketika si Eun-Sang, mau menemui pasangan tokoh utamanya, Kim Tan, di lantai dua rumahnya. Eun-Sang yang memang hanya tinggal di kamar belakang rumah yang sempit, karena ikut ibunya yang jadi house-maid di rumah itu, agak ragu ketika mau menjejakkan langkah pertamanya, menaiki tangga. Tangganya sendiri dibuat dalam kesan mewah, yang membuat kenyataan soal kelas sosial semakin merajalela. Setelah akhirnya dia berhasil melewati tangga, ketika sampai di depan kamar Kim Tan, dan dipinta masuk, adegan simbolisasi lain semakin menegaskan yang pertama. Ketika Eun-Sang mau memasuki kamar Kim Tan, dia “melanggar” batas kelas sebenarnya. Dalam cerita ini juga, batas itu ditegaskan dengan memang adanya garis putih di bawah pintu kamar Kim Tan (bagian dari desain rumahnya, kali yaa) yang secara tak langsung membatasi antara ruang luar kamar dan kamarnya Kim Tan. Di adegan ini, Eun-Sang juga kelihatan ragu-ragu ketika mau melanggar batas itu, meski Kim Tan sudah mengajaknya masuk ke dalam kamar. Buat ngobrol ya, bukan yang lain, haha.

3. Saya suka sekali tema keluarga yang diangkat dalam K-drama ini. Dan, menurut saya, cukup kompleks. Sarat makna. Interaksionisme simbolik, dalam sosiologi. Pertama, setelah menonton drama ini, saya mengamini bahwa pernikahan tidak hanya jalinan yang terikat antara si laki-laki dan perempuan yang menikah, tapi juga jalinan antara dua keluarga (besar). Jadi, benar kata orang, sebuah pernikahan itu tidak hanya membuat kamu menikahi pasanganmu, tetapi juga menikahi segenap keluarga besarnya. Itu kenapa, pernikahan jadi kompleks dan tidak jadi “sebebas yang gue mau”. Justru karena, pernikahan adalah ikatan antara dua keluarga besarlah, makanya orang tua kadang mengintervensi banyak soal pernikahan anaknya. Kedua, soal cerita mengenai sosok ibu, dan relasi antara ibu-anak. Hm, ayah-anak juga sih sebenarnya, tapi untuk kisah ayah-anak, menurut saya, tidak semua yang happy ending dan unyu-unyuan (misalkan, soal kisah antara Young-Do dan ayahnya, atau bahkan Kim Tan dan ayahnya). Cuma kisah Chan-Young dan ayahnya yang menurut saya ideal dan happy ending dalam kisah ini (dan ngomong-ngomong, dari awal memang mereka udah cocok, dan happy banget sih, haha). Nah, kembali soal kisah mengenai sosok ibu dalam drama ini menohok banget.

Pertama, sosok ibunya Eun-Sang. Sosok ibu yang bekerja keras demi anak-anaknya, yang bahkan setelah dibohongi anaknya (kakaknya Eun-Sang, yang katanya ke USA untuk kuliah, ternyata malah berakhir jadi pelayan cafe pinggir pantai), masih begitu legowo untuk maafin anaknya itu. Padahal, ibunya tuna wicara lho. Kedua, sosok ibunya Kim Tan. Sosok ini yang juga sedih menurutku. Ibunya Kim Tan ini sebenarnya perempuan simpanan ayahnya, yang akhirnya hamil dan melahirkan Kim Tan itu (jadi Kim Tan itu illegitimate child). Karena beberapa pertimbangan, akhirnya istri ayahnya Kim Tan memperbolehkannya tinggal di rumah suaminya. Tapi, tetap saja, publik (luar rumah) tidak boleh tahu kalau dia istri simpanan ayahnya Kim Tan, dan dialah ibu yang melahirkan Kim Tan sebenarnya. Itu membuatnya sangat tersiksa, karena identitasnya sebagai ibu dan istri  abu-abu. Ketiga, antara Choi Young-Do dan ibunya. Ini happy ending banget menurutku (dan saya senang, haha). Setidaknya, meskipun Choi Young-Do gak happy ending dengan Eun-Sang, dia happy-ending soal ibunya :”) Oh ya, adegan pintar lainnya menurutku adalah soal pengalaman sama yang diulang antara Choi Young-Do, dan mantan sahabatnya, Kim Tan. Soal ibu yang mau buru-buru pergi karena bermasalah dengan ayahnya, dan butuh dicarikan anaknya di sekolah karena mau bertemu anaknya untuk yang terakhir kalinya. Ini menyentuh banget kalau berpikir jadi Choi Young-Do :”) Keempat, ibunya Rachel. Agak tragis sebenarnya, tapi bener sih: pohon tak jatuh jauh dari buahnya, huhu. Dalam kisah ini, ibu dan anak ini sama-sama membatalkan pertunangannya. Oh ya, soal cerita keluarga juga dalam K-drama ini, kisah Sunbae Hyo-Shin juga membuatku sedih kadang (menyadari banyak temanku yang juga seperti dia di dunia nyata). Kisah klasik sebenarnya, anak yang dipaksa turut penuh dengan segala cara pada kemauan orang tuanya, apalagi soal masa depan dan cita-citanya. Tapi, film ini menggambarkan kisah ini dengan baik. Ikutan sedih. Untungnya, (setengah) happy ending. Kan orang tuanya belum tahu kalau dia akhirnya benar-benar pergi untuk sekolah militer? Hehe

4. Kisah cintanya, cukup masuk akal—menurutku. Hm, memang sih sepertinya takdir banget gitu kan. Pasangan tokoh utama, ketemu di USA (Eun-Sang terlunta-lunta setelah ditinggal kakaknya dan Kim Tan kebetulan adalah pelanggan di cafe tempat kakak Eun-Sang bekerja). Dan ternyata, di Korea, baru tahu mereka tinggal di rumah yang sama, meski dalam status yang amat berbeda (Eun-Sang anak house-maid, dan Kim Tan anak ahli waris). Tapi, scene-nya memang disusun rapi, jadi masuk akal. Selain itu, alasan kenapa Kim Tan atau Choi Young-Do menyukai Eun Sang juga unik. Gak sekedar “karena dia cantik” atau “karena dia baik, dsb dsb”. Dari cerita ini sih, yang kutangkap, Kim Tan menyukai Eun Sang, karena merasa ada kesamaan nasib juga. Soal ibu mereka berdua, yang karena Jeguk Group (perusahaan  milik ayahnya), terasa menderita. Selain karena, cinta lokasi juga kali ya, di USA, haha. Dan Choi Young-Do mulai tertarik ke Eun-Sang, semenjak tahu kalau Eun-Sang itu sama sepertinya (kesamaan lagi-lagi). Sama-sama bisa keras dan berani melawan orang yang kejam terhadapnya (scene dimana Eun-Sang melawan laki-laki pegawai bengkel tempat Choi Young-Do servis sepeda motornya, atau bahkan melawan Rachel yang adalah calon-adik-tiri Choi Young-Do). Oh ya, saya juga setuju banget sama Galuh, soal pasangan yang chemistry-nya paling dapat: Chan-Young dan Lee Bo-Na ;)

5. Ini makna tersirat yang paling yang ku suka dari film ini: beberapa perempuan (seperti ibunya kedua tokoh utama) digambarkan sangat tidak punya pilihan, karena mereka powerless. Tapi tidak semua perempuan. Film ini juga menggambarkan kalau ada perempuan yang punya banyak pilihan, karena dia powerful. Ibunya Rachel misalnya, yang bisa dengan mudah, memutus ikatan pertunangan dan rencana pernikahannya, karena calon-suaminya tersandung masalah di usaha hotel yang dimilikinya.

6. Kisah Young-Do juga membuat sedih dan mengamini fakta sosial yang lainnya. Karena Young-Do tidak bisa mengalahkan ayahnya (yang menghajarnya dengan pukulan fisik, banyak kali sengaja dalam pertandingan bela diri yang saya tidak tahu nama tepatnya apa...), akhirnya mencari pelarian lain di sekolah. Tahap sosialisasi tak sempurna. Dia jadi anak yang suka bullying teman-temannya. Sedih. Untung pada akhirnya, dia menang juga melawan ayahnya ketika mereka tanding bela diri itu.

7. Masih soal cerita anak sebagai korban keluarga, saya prihatin soal Kim Tan pada awalnya. Adegan ketika dia menangis frustasi, setelah ditinggal Eun-Sang, menurut saya tidak sesederhana itu. Menurut saya, Kim Tan nangis bukan hanya karena ditinggal Eun-Sang (ya ampun, itu sih cengeng banget jadi cowok #genderbanget, haha). Tapi, karena dunianya memang sudah hancur, runtuh. Dan setelah Eun-Sang pergi, tambah runtuh. Menurutku, dia juga menangisi keluarga dan nasibnya untuk dilahirkan dalam keluarga itu. Menangisi ayahnya (yang bisa sekejam itu padanya dan pada Eun-Sang, hanya karena masalah kelas sosial-ekonomi), ibunya (yang serba salah), kakaknya yang beda ibu tapi sama ayah (yang benci terhadapnya).

8. Masih soal keluarga. Saya terharu mengingat adegan dimana di hari ulang tahunnya ke-18, Kim Tan malah memberi kado kalung indah dan mengatakan pada ibunya, “terima kasih sudah melahirkanku, ibu.” Jangan anggap ini kisah remeh-temeh. Ingat latar belakang kisahnya: Kim Tan itu (maaf) anak haram, yang tidak diinginkan. Ada berapa banyak ibu lain yang tega aborsi ketika kehamilan tak diinginkan semacam itu terjadi? Alasan terbesar menurutku, salah satunya adalah tekanan sosial, yang kejam banget sih sebenarnya. Tapi meski berat, ibunya Kim Tan bertahan mengandung dan melahirkannya juga. Kim Tan pun dibesarkannya dengan kasih sayang (meski di awal, dalam cara yang salah). Tapi akhirnya, unyu kok ;)

9. Saya juga belajar dari film ini, dua sisi maaf yang berat. Sangat kontekstual. Dan, conditional. Adegan yang saya maksud ini, dua-duanya membuat saya kaget. Pertama, soal Choi Young-Do yang akhirnya mencari-menemui lagi teman sekolah (dari kelas sosial paling rendah di sekolah) yang pernah di-bully-nya sampai akhirnya pindah sekolah. Dia minta maaf. Tapi, gak dimaafkan, huhu. Kasian Choi Young-Do :( Meskipun resiko sih. Memang dia keterlaluan bullying-nya. Mengajarkan bahwa manusia memang tak mudah memaafkan orang lain. Di sisi lain, hal sebaliknya terjadi. Eun-Sang, yang udah diperlakukan sekejam-kejamnya oleh kakak kandungnya sendiri (bayangkan saja, dibohongi kalau kakaknya ke USA untuk kuliah bahkan mau menikah, ternyata gak kuliah, jadi pelayan cafe, dan tinggal bareng dengan pacar bule-nya yang pemabuk dan suka memukul; ketika ketemu Eun-Sang yang mencarinya ke USA, malah merampok uang titipan ibunya yang dibawa adiknya, dan pergi lari meninggalkan adiknya—tak peduli adiknya ada di sebuah negara antah-berantah tanpa kenalan atau kerabat yang tak pernah dikunjunginya). Sekejam itupun, Eun-Sang masih bisa memaafkan kakaknya, huhu, rasanya Eun-Sang luar biasa. Kesimpulanku, apakah maaf itu mungkin terjadi karena mereka masih punya ikatan darah?

10. Pertanyaan dalam buku essay Kim Tan, yang sebelum pulang ke Korea, diberikannya juga (akhirnya! Dia belum pernah mengumpulkan buku tugas essay-nya) ke gurunya. Gurunya akhirnya mengirimkan buku itu balik ke Korea setelah dibaca. Kim Tan menulis: “Whoever wants to bear the crown, own the crown.” Untuk mengakhiri essay-nya. Gurunya merespon di lembar kertas yang sama, “Which crown, do you want to have? Is it money, fame, or love?” Ini kenyataannya. Memang tiga hal itu kan yang dicari orang? Mari kita tuliskan dalam bahasa sosiologis: power, prestise, previllege.

11. Saya senang, karena menurut saya, judul dan tema K-drama ini terus menaungi keseluruhan cerita, sampai akhir. Saya jadi merasa film ini lebih ke cerita keluarga dan realitas sosial, daripada percintaan (dan itu lebih seru, kadang menurut saya, hehe). Di episode terakhir, akhirnya Eun-Sang menyimpulkan perenungannya sendiri soal hidup kaya yang terus diimpikannya sebelum bertemu Kim Tan: kalau jadi ahli waris (the heirs) itu, tidak mudah, tidak enak, berat, membebani bahkan, dan tak sepele. Bukan berarti juga kalau kita kaya (atau anak orang kaya), kita bisa punya pilihan yang serta-merta banyak. Buktinya, sad-ending yang dipertanyakan teman saya, Galuh, soal tokoh Kim Won (kakak Kim Tan)—yang harus memilih bukan wanita yang dicintainya, karena “mahkota” (crown) tahta perusahaan, yang dikejarnya.



Meski begitu, ada juga yang tidak saya suka dari film ini—meski tak banyak :) Satu, adegan yang lamaa gitu ketika momentum puncak tertentu. Tahu kan? Seperti sinetron Indonesia, misalkan ketika sebuah rahasia besar terbongkar, lalu jadi tanpa dialog gitu, efek dan kamera juga seolah-olah dihiperbola-in jadi “teneng-teneng!”. K-drama ini gak begitu sih, hehe. Tapi untuk beberapa momen romantis (momen romantis aja sih), yang penyorotannya kadang terlalu hiperbolis menurut saya. Tapi masih mending banget kalau dibandingkan sama sinetron, karena pengambilan kamera dan settingan-nya (tempat, apalagi) bagus. Misalkan, pas mobil Kim Tan balik lagi menghampiri Eun-Sang yang hopeless, di depan rumah kakaknya di USA setelah sempat pergi meninggalkan. Entah ya, menurut saya sih hiperbolis, hehe. Dua, soal tokoh antagonisnya. Terlalu kejam, rasanya. Hm, sempat mikir itu masuk akal gak ya. Meskipun masuk akal sih kalau gak dipikirin #loh, haha. Misalkan, tokoh ayah Kim Tan (dalam caranya memusuhi dan membuang Eun-Sang). Atau, tokoh Rachel (dalam caranya mem-bully Eun-Sang). Kadang di bagian merasa mirip sinetron, meski sedikit, hehe ^^v Ketiga, ending-nya. Gak tahu ya, sebenarnya sih udah pas dengan keseluruhan ceritanya tapi menurut saya, kurang nancep. Saya mungkin terlalu berharap endingnya bisa lebih cetar-membahana, haha. Tapi, tetap bagus kok, bagus. Keempat, hm, beberapa kalimat yang digunakan para pasangan dalam cerita dalam interaksinya satu sama lain, yang agak kasar, menurut saya, haha. Salah satunya, adegan ketika Chan-Young mengatakan “akan mematahkan lengan” Bo-Na, pacarnya, ketika kesal karena Bo-Na mesra sekali dengan seorang laki-laki tak ia kenal di pesta. Yang ternyata, kakak kandungnya Bo-Na. Hiyaa, failed amat, haha. Tapi adegan ini lucu, apalagi setelah Bo-Na mengenalkan kakaknya ke paarnya itu, kakaknya Bo-Na bilang ke Chan-Young, “Nah jadi, bisa kita bicarakan soal lengan adikku?” Haha, kocak :D

Poin terakhir, sebenarnya bukan saya tidak suka, tapi saya suka bertanya-tanya mengingat tokoh utama yang masih SMA: memangnya anak SMA tahu apa? Aduh, maaf banget jika ada anak SMA yang membaca ini, tapi sungguh, saya merasa dalam konteks Indonesia, anak SMA belum tahu realitas hidup. Soal kuasa, soal kenyataan sosial, soal cinta. Mungkin karena terlalu banyak mendengar berita anak SMA tawuran, putus sekolah, atau yang lain kali ya (makin sedih mengingat negara sendiri). Apalagi kalau dibandingkan sama salah satu sinetron dengan tema cerita yang agak mirip (soal anak SMA, musuh yang menyukai perempuan yang sama, masalah keluarga—yang lagi tayang di salah satu stasiun tv yang tak bisa saya sebut, kalian tahulah ya~ hehe), rasanya jauuuh banget. Indonesia kelihatannya masih begitu tak dewasa ketika bicara soal anak SMA. Tapi di cerita ini, beda jauh. Meskipun SMA, penonton bisa percaya, kalau mereka sudah sedewasa itu dan meski tadinya belum tahu banyak soal realitas hidup, mereka bisa tahu pada akhirnya karena mereka belajar untuk itu. Makanya, saya bertanya-tanya, apakah di Korea memang realitasnya seperti itu? Atau karena di drama ini, pemainnya memang rata-rata sudah dewasa? (20 tahunan ke atas, apalagi Lee-Min-Ho, haha).

Sekalian, untuk tokoh favorit versi saya, yang menurut saya, karakter tokohnya berkesan dan acting tokohnya bagus. Pertama, tokoh Sunbae Hyo-Shin (diperankan oleh Kang Ha-Neul). Gak tahu. Rasanya tokohnya luar biasa saja untuk berani melawan sistem orang tuanya yang diktator (karena dia juga the heirs). Tokoh ini juga terasa sangat santai, pintar, dan friendly-enough. Meski di sisi lain, juga ternyata ada saat-saat rapuhnya juga.


Kedua, tokoh yang disukai oleh tokoh pertama, hehe tokoh Jeon Hyun-Joo (diperankan oleh Lim Ju-Eun) tapi sayang, mereka gak happy-ending. Apa karena mereka guru-dan-murid, dan perempuannya lebih tua? Tapi tokoh ini menurut saya, istimewa. Dia perempuan yang kuat, mandiri, dan tegas dengan pilihannya. Apalagi ketika berusaha tak menangis ketika memutuskan hubungannya dengan Kim Won (kakaknya Kim Tan). Apalagi, kalau ingat latar belakangnya, yang adalah orphan :( Ah, tapi saya baru sadar kalau dia pun tak happy-ending sama sekali! Ah, sedihnya.


Ketiga, tokoh Choi Young-Do (diperankan oleh Kim-Woo-Bin). Meskipun saya sebal kadang, dengan tingkahnya yang justru mem-bully perempuan yang disukainya, tapi menurut saya, caranya untuk menunjukkan Eun-Sang perasaannya pada akhirnya, unik saja ^^ Tokoh ini juga keras, bandel, dan pantang menyerah (soal mengalahkan ayahnya dalam tanding bela diri). Tokoh Young-Do menurut saya sukses memerankan bad-boy keren, haha


Keempat, tokoh yang adalah sahabatnya Eun-Sang, Chan-Young (diperankan oleh Kang Min-Hyuk), karena dia sukses memerankan tokoh laki-laki yang terkesan (lumayan) lembut tapi tetap tegas (dan saya terkejut setelah tahu ternyata Kang Min-Hyuk ini seorang drummer band CNBLUE, seorang drummer untuk tokoh ini? wah), dan sukses menjadi sahabat yang luar biasa baik.


Maaf kalau postingan ini panjaaang, haha. Sebelum menutup, saya ingin say thanks ke dua teman saya, terkait K-drama ini. Pertama, untuk Sapta, yang berbagi drama ini ke saya (apalagi ketika saya butuh refreshing diri), menghibur banyak loh ta, haha. Dan kedua, untuk Galuh, yang sudah me-review singkat mengenai K-drama ini dan membuat saya cukup penasaran akhirnya, hehe

Saya menutup tulisan ini dengan harapan, sinetron Indonesia bisa ber-revolusi-maupun-ber-evolusi, menjadi jauh lebih baik. Jempol yang banyak untuk The Heirs!!! Mungkin, saya akan merindukan tokoh-tokoh yang sudah saya sebut sebelumnya, haha :3

Monday, 13 January 2014

ADIK KECIL YANG BERJALAN KAKI DENGAN KARUNG GONI


Siang itu panas, terik. Apalagi di sepanjang jalan Margonda Raya, Kota Depok. Yang gersang tanpa pohon. Aspal jalan panas, berdebu. Apalagi, baru ada pembangunan, renovasi bagian pinggir jalan oleh pemerintah, belum selesai. Aku baru saja menyelesaikan makan siang, sekaligus sarapan pagiku, di salah satu rumah makan di sisi jalannya. Yang menjual Bakso Malang, yang menurutku cukup istimewa. Meski kepanasan, aku senang, aku kenyang. Aku menikmati waktu makan siangku hari itu, apalagi setelah merasa kelaparan sebelum makan tadi.

Jam satu siang, nyaris. Aku baru saja akan berbelok mengambil jalan kecil menuju kampusku, ketika melihat dari kejauhan, seorang adik. Seorang gadis kecil berusia delapan tahun, kira-kira. Baju kaosnya berwarna merah, tapi sudah terkesan sangat kusam dan berdebu. Luntur. Tidak lagi berwarna merah cerah, yang simbolisasi makna dari warna ini, menurut orang seksi, atau berani. Tapi menurutku, adik itu masih sangat berani. Untuk semua yang dilakukannya, dalam panas siang itu. Dia memakai topi, yang aku lupa warnanya. Topinya juga kumal. Sama juga, dengan rambutnya yang pendek sedagu lewat. Warna rambutnya itu menunjukkan bahwa ia sering terpapar dan terbakar sinar matahari, seperti siang ini.

Yang paling membuatku gelisah sebenarnya, bukan itu. Yang paling membuatku gelisah sebenarnya adalah sebuah karung goni yang ditariknya sambil berjalan di punggungnya. Karung goni, istilah untuk sebuah karung beras kosong yang besar, berwarna putih seperti umumnya karung beras. Isinya barang-barang rongsokan, yang tak semua bisa kulihat jelas. Yang jelas, aku menyadari ada sebuah besi bekas panjang warna hitam, yang mungkin berat, di dalam sana. Ini hal pertama. Masih ada hal kedua. Yang membuatku gelisah.

Hal yang kedua, dialah gadis kecil yang ku lihat, yang menarik hatiku yang kaget melihatnya, ketika aku masih di dalam angkutan umum—menuju warung bakso malang, kira-kira setengah jam lebih lalu. Waktu itu, waktu aku melihatnya itu, jaraknya masih jauh sebelum aku sampai di tempat tujuanku, warung bakso malang itu. Masih sebelum Depok Town Square, sebuah mall yang jaraknya lumayan kalau ditempuh dengan berjalan kaki dari tempat itu. Aku sendiri tak pernah membayangkan, mau berjalan kaki untuk menempuh jarak itu. Apalagi dalam hari siang panas terik. Aku terenyuh. Sementara setengah jam lebih aku makan tadi, menikmati bakso malang istimewaku (nama menu yang kupesan memang bakso malang special), ternyata gadis kecil itu berjalan dari tempat tadi sampai kemari. Bisa ku bayangkan sejenak, dia kepanasan, kehausan, keletihan. Apalagi, dengan karung goni berisi berat yang dibawa, ditarik-tariknya menyeret aspal jalan. Aku tiba-tiba merasa bakso malang yang ku makan tadi tidak lagi seistimewa itu.

Namanya Yani, gadis kecil itu. Akhirnya aku berlari membelikan dia sebungkus biskuit yang menurutku lumayan mengandung nutrusi. Setidaknya bisa menolongnya, meski hanya siang ini.  Begitu pikirku. Aku merasa bersalah karena ketika dia berjalan kepanasan, bekerja dengan barang rongsokan, aku makan dalam kenikmatan. Dalam kenyamanan. Tidak kepanasan. Meski sebenarnya, jelas, itu bukan salahku juga. Sayang, aku lupa membelikannya minuman. Terlalu panik, takut dia menghilang dari pandangan. Karena untuk membeli biskuit gandum itu, aku harus masuk ke jalan menuju kampusku. Yang menjual ada disitu. Aku setengah berlari lagi mendapatkannya, ternyata sedang duduk termenung, mungkin juga kelelahan, di pinggir jalan. Dia menjawabku dengan nada yang begitu polos, ketika ku tanya lembut. Tersenyum padaku, ketika aku berinisiatif untuk menyapanya di tengah panas terik siang itu. Aku tak percaya dia harus melakukan pekerjaan semacam itu, pada akhirnya. Dia masih kecil, masih polos, masih tak tahu banyak tapi dituntut untuk tahu banyak. Tapi, dia memang melakukannya. Pekerjaan orang dewasa, yang tak semua orang mau melakukannya. Prestise masalahnya, kata mereka. Hanya kaum kecil, yang tak berpunya, yang mau melakukannya. Yang harus melakukannya, mungkin lebih tepat begitu. Mau tak mau, karena tak ada pilihan.

Aku bertanya berapa penghasilan yang rata-rata bisa adik kecil itu capai satu harinya. Katanya polos, dia menjualnya ke pasar minggu. Aku membayangkan, dia tak mungkin kesana dengan angkutan umum, yang ongkosnya nyaris menghabiskan sepertiga bagian dari pendapatannya hari itu. Dia pasti menuju kesana dengan berjalan kaki, lagi. Aku meringis membayangkan itu dalam kepalaku, dan hatiku. Sejauh itu. Depok-Pasar Minggu, jalan kaki. Hanya untuk sepuluh ribu sehari. Ah, aku meringis lagi, sendiri. Setelah pergi, setelah berpisah dengan adik kecil itu, dan sibuk merenung sendiri dalam perjalananku menuju kampus. Bahkan bakso malangku tadi, harganya lebih dari sepuluh ribu.



P.S. :

aku bertemu dengannya, jumat itu, 10 Januari 2014, ketika adikku, klara puspita, akhirnya menyelesaikan perjuangan meraih gelar S.Sos-nya yang tinggal sedikit lagi saja.
 

Wednesday, 8 January 2014

LOVE, IN ITS TRULY FORM


He always has 1001 ways to reach me, to call me back, to draw me back, to love me truly, to show His perfect and unfailing love to me, to give me His warm cares, to make me stay calm inside the storm, to be with me, to convince me that His presence is existed for me. 1001 ways to never let me go. 1001 ways to show that His faithfulness reaches to the skies, and His love reaches to the heavens. Unstoppable. Unfailing. Everlasting. One, for forever. After the fall of myself again. After my another failure, to make Him smile because of me. After my another  failure, to love Him, to give Him, my all in all.

Love that stands firm and stay in faithfulness, through failures of the other. Though the other was failed, to love.

That is, love. That is, faithfulness.
In their truly form.


A reckless love too wild to understand
Breathing the world to life in Your romance
So here I am
Your love has got me up in arms again
And this hope won't let me go

My joy is boundless
My soul knows its worth
In arms stretching wider
Than my heart could ever fall

You own the skies and still You want my heart
Casting Your throne aside to lift me up
So here I am
Your love has got me up in arms again
And this hope won't let me go

My joy is boundless
My soul knows its worth
In arms stretching wider
Than my heart could ever fall

Your word is final
Your name above all
The cross my reminder
Your love is forever
Cause here I am
Your love has got me up in arms again
And this hope won't let me go

My joy is boundless
My soul knows its worth
In arms stretching wider
Than my heart could ever fall

Your word is final
Your name above all
The cross my reminder
Your love is forever
Cause here I am
Your love has got me up in arms again
And this hope won't let me go
Here I am
Jesus take my life and all I have
Now this hope won't let me go


"Up In Arms"
© Hillsong United, 2012
Zion Acoustic Session (Live) Album


p.s. :

Sebuah pesan singkat yang masuk ke dalam inbox ponsel blackberry-ku, dari seorang teman baik yang tinggal jauh dari pulau tempatku berpijak hari ini—membuatku sadar betapa Dia mencintaiku. Mencintaiku dengan begitu banyak cara. Yang bisa ku tebak, tak bisa ku tebak. Yang sudah ku tahu, yang belum ku tahu. Yang sudah bisa ku pahami, yang belum bisa ku pahami. Salah satunya, dalam cara dimana Dia menuntun orang lain untuk setia berdoa bagiku, meski dari jarak yang jauh. Nusa Tenggara Timur, cukup jauh kan? Ketika aku memarginalisasi dan mengalienasi diri sendiri. Dalam kekecewaan akan ketidaksempurnaan manusia, termasuk ketidaksempurnaan yang hadir di dalam diriku sendiri. Ketika akhirnya, memang benar-benar tertinggal dan ditinggalkan. Terjauhkan. Oleh banyak manusia. Ketika aku merasa yakin, kalau tidak ada yang sungguh-sungguh mendoakanku. Ya, temanku itu: teman baikku (meski kami baru bertemu sekali saja), saudaraku, masih berdoa bagiku dengan setia, dari jarak jauh. Dia sungguh pendoa yang setia berdoa bagi banyak orang. Banyak hari telah menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menyapaku, meski kadang ku acuhkan, ku abaikan, ku diamkan. Pura-pura tidak menyadari, kali itu, kalau Tuhan datang mengunjungi dalam cara itu. Tuhan yang memperhatikanku melaluinya itu, yang tak ku gubris. Tapi kali ini, tidak bisa. Aku terharu, kagum. Atas tangan Tuhan. Atas cinta Tuhan. Menyadari bahwa sungguh bukan hal mudah, untuk berdoa bagi orang lain. Meski Tuhan datang tak melalui cara itu lagi pertama-tama, kali ini, Dia datang melalui cara lain—yang membuatku celik akan kebutaanku soal cara-Nya sebelumnya, dan cara-Nya sesudahnya. Termasuk cara yang pertama kali kusebutkan tadi, temanku itu. Doanya. Bagiku.

Memang mudah, dan terkesan cenderung sepele, ketika kita mengatakan pada orang lain, “doakan aku ya” atau, “aku doakan”. Padahal, seringkali, barangkali, kita lupa pertanggung-jawaban atas kata-kata itu. Kita berkata akan mendoakan, tapi ternyata lupa mendoakan. Seperti sekedar formalisasi, basa-basi, iya kan? Atau, kita mungkin memang mengambil waktu untuk berdoa. Tapi hanya dalam waktu yang sangat sebentar, mungkin terburu-buru, dan cukup berdoa sekali saja. Tak lebih. Atau, kalau ingat. Kita lupa kalau doa, meski kelihatannya kecil dan sepele, tetapi sebenarnya tak bisa kita sepelekan sesepele itu. Doa itu ritme dari sebuah kehidupan, yang menjaga hidup tetap bernyawa. Menjaga hidup kita tetap hidup. Doalah nafas. Yang menjagamu tetap terkoneksi, dengan Bapa Surgawi. Bukan sekedar Pencipta Agung tak terjangkau, tapi Sahabat yang selalu tinggal ketika semua orang pergi. Tapi pada kenyataannya, doa seringkali dianggap sepele. Meski sepele pun, kita tak melakukannya. Atau justru, karena merasa itu hal sepele maka kita memilih untuk tidak mau melakukannya? Sungguh, tak mudah kan berdoa bagi orang lain? Karena itu, aku mengapresiasi hadiah ini. Ini hadiah besar dari Atas. Doanya. Doa teman baikku itu.

Jatuh-bangkit dalam alur cerita ini sebenarnya, sungguh, membuatku lelah. Tapi aku bersyukur, karena tak peduli seberapa banyak aku jatuh, kesetiaan-Nya selalu lebih dari cukup untuk membantuku kembali bangkit berdiri. Dan, berlari lagi. Terus, lurus, menuju titik tujuan.

You, Christ Jesus. Breathing the world to life in Your romance. So unpredictable and always surprising. Your love has got me up in arms again. Deepest thanks, for The Highest. Then, i found it. A beatiful song to be lifted up to You, as my thanksgiving. I am singing now: Up In Arms, Hillsong United.


"Your love, O Lord, reaches to the heavens, Your faithfulness to the skies." Psalm 56:5 NIV. "I will declare that Your love stands firm forever, that You established Your faithfulness in heaven itself." Psalm 89:2 NIV.

Saturday, 4 January 2014

IT MAY (WILL) CHANGE SOMEDAY


I wrote this posting, randomly. Not important, so you may skip it. I just wanna write this to have fun: when reminding about many things i like recently, when realizing there are many things i don’t like too. But these lists are temporary. It may change, someday. Or maybe, it may change tomorrow? How fast. I don’t know, let’s see. I write this thing too, as a symbolization. If you really wanna know what things are inside my head recently, maybe after read these lists, you’ll get it. The last, you need to do the same with me, if you wanna relax your mind and enjoy your time. Yap, write about things you don’t like (whatever it may be), and also about things you like (whatever it may be)—for balance. I suggest that you must think and get the-things-you-like more than the-things-you-don’t-like. Have fun, then ;)

Things-I-Don’t-Like-In-Recent-Days

(1) Rain, or rainy day. Also, thunder and the dark-sky too. (2) Sinetron of Indonesia. Very bad scene and plot, dissapointed much :( (3) Eating something, if i am not in right mood. (4) To be asked about something. Please, don’t. (5) Youtube and downloading. I haven’t found videos that i heart there. (6) Thinking much about past time, about bad and confusing memories. (7) Thinking about future. The same with the sixth point. (8) Sharing my stories to others. Especially if there is no trust. Or if they can’t keep my trust. Trust is one of the very expensive things in the world, i think. Do you have this very expensive thing? (9) Sociology, for some reason that i can’t tell you. Not now. (10) Reality of life. It hurts, sometimes. (11) White coffee. It makes your heart beats. Uncomfortable, and unhealthy. (12) Ice cream, biscuits, chocolate: much fat. (13) Hypnotist, and hypnotic session on television. You will often watch those sessions in recent days. How poor, their victims. It's really not funny for me. (14) Spiritual books. To be honest, i am not in good mood to read those. (15) To be judged. Who are you? Are you worthy to me, so you may do it? (whoever you are). (16) Sad song, and slow music. Overly emotional. Cengeng. Unhealthy. (17) To do nothing. It makes frustration. (18) Ants. Why they like to “clean” my pigswill? (19) Animals. I don’t hate them, but i don’t like them. (20) Getting fatter. Ah, i love to be thin. Do not need comment. (21) Thinking about poverty and social problems in Indonesia, but do not know what must i do then. (22) Thinking about that vision, and realizing that i still have no partner to do that vision. Hm. Related to last point, by the way. (23) To get unimportant messages in my blackberry’s inbox. (24) The year of 2013. To be honest. I didn’t close it on my good way. (25) Instant-noodles. Makanan bermecin. Another unhealthy food to consume. (26) Weekdays. Not need explanation. I am sure many peoples hate it too.

Things-I-Like-In-Recent-Days

(1) Bright day. Sunshine. It wakes up my morning joy. And also, makes my laundry will dry sooner, haha. (2) Blue sky. With the white cloud. Very perfect day to be enjoyed. (3) The Heirs. Korean-drama ;) The plot is lovely. Better than Indonesian-dramas, unfortunatelly. (4) Scrapbook, and other creative-unique things. Awakening my spirit :*) (5) Headphone, listening to rock music (by the way, Christian rock music is still in my playlist) (6) High-school bestfriends! Memorable, irreplaceable. I call their name here, then: olind, utari, angel, oni, cidhu, carina, fanni :”) (7) Soekarno, 2013. An Indonesian film about nationalism. I loved to sing a song of Indonesia Raya, five minutes before the film was started. (8) Pencil, sketch, and draft. A room to escape. (9) Shopping, not really but, (10) High heels and wedges. I appreciate those who can walk beatifully with those things. (11) My netbook, blackberry, pink-camera, modem, and hard-disk. Technology helps us to live. Thanks to you, all. (12) To be alone, sometimes. (13) Indomilk. Melon and strawberry flavour. Delicious and healthy, recommended. (14) Fitbar. It has a unique taste. Try it. (15) Roti Boy. Fresh from the oven. Many peoples heart this bread! (16) Fruits. It is good for your health and your diet ;) (17) To go off from many social-media-accounts. Like whatsapp or blackberry messenger. I learn to be anti-social, after studied much about social science. Very good decision :x (18) Korea. K-Drama, especially. I think i start to like them ^^ (19) Christmas-message from my besties and my AKK(s) on twitter. I was happy to be remembered. (20) Red color. It makes your appearance live. (21) YOU C 1000. Orange water. It is fresh. (22) Planetshakers. I heart their rock songs. It helps me to calm down when my mood gets chaotic. (23) Feminisim. But not the radical one, of course. I am still heterosexual for sure. (24) Back to high school times: re-watch Will Smith’s films. My favorite actor when i was still a high school student. Bad Boy I and Bad Boy II, for example. (25) Sunday. Even i don’t know the reason why. (26) Fairy tale. From Disney World. Reminding my childhood. Rapunzel. Aurora. Ariel. Cinderella. Slepping Beauty. And their dolls in Toys Kingdom :p (27) Pizza Hut. It keeps many stories. But without cheese, please. (28) Bakso-Malang, beside Alfamart, Margonda Raya Depok. Near Kober-UI-area. Reccomended for your culinary-tour. (29) Fresh-vegetables. Vegetable foods. But it’s hard to get sometimes, or i am too lazy to cook it, if it is just for myself breakfast or myself dinner. (30) Student Congress III Bali 2012. For some memories inside. (31) Bookmark from my church, a mini-gift for opening new year 2014. | 32. Simple-sport-activities. You need it to stay healthy, and not get fatter, i think. | 33. High-school memories, the photo album, and the photo collections. A very special period of life. | 34. A profound sleep. It kills your bad mood. Remember what thing that my AKK, riris, said. I absolutely agree. I had proved it. Many times. | 35. Writing, though it’s not really important like this one. Sorry.


As an epilogue, i will end this writing with one conclussion: thanks to The Almighty, because i have more points in the list of things-i-like, than in the list of things-i-don’t-like. My relief. Okay then, how about you?