Wednesday, 27 November 2013

FATHERLESS GENERATION


Seorang anak perempuan berumur 14 tahun diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri, setelah ternyata lebih dulu dia sudah berkali-kali diperkosa oleh abang kandungnya sendiri, bahkan pemerkosaan oleh abangnya itu sudah dimulai semenjak ia masih duduk di bangku kelas 4 SD. Enam tahun lamanya, sudah. Waktu yang tidak singkat untuk sebuah pengalaman akan tindakan pelecehan seksual seperti itu, yang dilakukan berulang kali. Bahkan setelah enam tahun pelecehan seksual oleh abang kandungnya, ayah kandungnya, yang seharusnya sanggup membela-melindunginya malah justru semakin memperburuk keadaan dengan ikut-ikutan memperkosanya juga. Miris.

Lebih miris lagi, ketika diwawancarai, ayahnya berkata seperti ini, "ya, daripada 'jajan' di luar keluar uang, ya 'minta' aja sama anak, uangnya kan bisa buat kebutuhan keluarga." Pas dengar perkataan ayahnya itu, rasanya patah hati luar biasa membayangkan si adik perempuan itu, perasaan-pikiran-harga-diri-dan-kondisinya. Patah hati luar biasa juga menyadari mindset si ayah yang, sedemikian tega pada anak kandungnya sendiri.

Akhirnya, sang ibu hanya bisa menangis meraung-raung ketika mengetahui kabar buruk itu dan mengunjungi suami-anaknya yang sudah mendekam di penjara.

Berita ini kusaksikan sendiri dalam berita tengah malam di SCTV sekitar satu atau dua minggu yang lalu. Sungguh, tak sanggup memikirkan-membayangkan adik perempuan berusia 14 tahun itu, masih begitu muda, yang "dikorbankan" demi hasrat nafsu seksual kedua laki-laki yang seharusnya menjadi sosok laki-laki yang paling penting dalam hidupnya selain suaminya nanti: ayah kandungnya, dan abang kandungnya.

Adik perempuan itu: aku tak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya hatinya, dirinya, hidupnya, dunianya karena kejadian itu. Tak sanggup membayangkan bagaimana traumatisnya dia, apalagi terhadap sosok laki-laki. Tak sanggup membayangkan bagaimana dia akhirnya memandang dirinya sendiri kemudian. Tak sanggup membayangkan bagaimana kepercayaannya terhadap orang-orang di sekelilingnya runtuh, dan hancur.

Pernahkah kalian membayangkannya? Punya ayah kandung dan abang kandung sekejam dan setega itu? Miris ceritanya :"( Dari dulu aku sebenarnya ingin punya abang kandung, karena aku anak sulung dan hanya punya seorang saudara kandung laki-laki, adikku. Tapi kalau abangnya seperti abang adik perempuan ini, aku tak yakin aku masih ingin punya abang kandung. Aku juga tak yakin kalau adik perempuan itu ingin punya abang jika sebelumnya sudah tahu abangnya malah menghancurkan keperawanannya, bukan melindungi keperawanannya. Ah, sedih. Menyadari betapa kacaunya institusi keluarga saat ini.



Sedih, karena adik perempuan ini kehilangan sosok ayah dan sosok abang, sosok laki-laki yang baik dan bertanggung-jawab dalam hidupnya. Ya, dalam tulisan ini, sebenarnya aku lebih ingin menyoroti soal masalah kehilangan sosok ayah. Sebuah kenyataan dari generasi kita ini, yang bisa disebut fatherless generation.

Fatherless generation adalah salah satu masalah serius yang harus ditangisi-didoakan-dan-diperjuangkan dari generasi kita: betapa begitu banyak anak-anak dan anak muda kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Kehilangan sosok ayah ini tak sekedar seperti kasus di atas, ketika ayahmu benar-benar melakukan suatu perbuatan sedemikian tega dan kejam padamu. Kehilangan sosok ayah juga terjadi ketika ayahmu benar-benar pergi darimu, mungkin yang paling banyak terjadi adalah ketika keluarga dilanda perceraian atau perselingkuhan. Kehilangan sosok ayah juga terjadi ketika ayahmu kurang memainkan perannya sebagai ayah dengan baik, meski ayahmu mungkin tidak kemana-mana (tidak pergi menghilang, atau bercerai). Tapi mungkin ayahmu terlalu cuek, diam, masa bodoh, sibuk, kasar, atau bahkan sampai KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) terhadap istri dan anaknya. Fatherless generation menunjuk pada generasi yang kehilangan gambaran tentang dan pengalaman dengan ayah yang baik dan ideal.

Permasalahan fatherless generation ini tentu saja mengkuatirkan, karena sosok ayah sebenarnya sosok yang penting dalam hidup seseorang. Dalam kekristenan pun, seorang anak yang kehilangan sosok seorang ayah duniawi juga terancam akan kehilangan gambaran mengenai sosok Ayah, Bapa Surgawi. Kekristenan memang menyebut Tuhan sebagai Allah Bapa Surgawi, untuk mengajarkan bahwa hubungan antara Tuhan dan manusia memang seharusnya sedekat itu, senatural itu, dan sehidup itu. Jika seorang anak tidak mengalami hubungan yang dekat dengan ayah duniawinya, bagaimana ia bisa membayangkan hubungan yang dekat dengan Bapa Surgawinya?

Tapi di beberapa kasus, justru Tuhan bekerja lebih tak terduga dan tak terselami. Karena ada juga anak-anak yang kehilangan sosok ayah duniawinya, ternyata bisa (mendapat anugerah) merasakan-memiliki sosok Bapa Surgawi itu. Pdm. Jeffry S. Tjandra, salah satunya. Jika kamu pernah mendengar lagu "Seperti Bapa Sayang Anaknya", ya itu lagu yang dinyanyikan oleh Pdm. Jeffry S. Tjandra, dan diciptakan oleh Julita Manik dari hasil perenungan dan pengalamannya sendiri: keduanya memang korban fatherless generation juga. Kesaksian hidup dari Pdm. Jeffry S. Tjandra bisa dilihat disini :)

Bapa, besar sungguh kasih setia-Mu
Nyata sungguh perlindungan-Mu
Tak satu kuasa mampu pisahkan
Aku dari kasih-Mu
      
Bapa, ajarku s'lalu hormati-Mu
      Ajarku kuturut perintah-Mu
      B'rikan ku hati, tuk menyembah-Mu

Dan bersyukur s'tiap waktu
 
Reff  :
S'perti Bapa sayang anaknya
Demikianlah Engkau mengasihiku
Kau jadikan biji mata-Mu
Kau berikan s'mua yang ada pada-Mu

     
    S'perti Bapa sayang anaknya
    Demikianlah Kau menuntun langkahku
    Hari depan, indah Kau beri
     Rancangan-Mu, yang terbaik bagiku 

Pdm. Jeffry S. Tjandra ini ditinggalkan begitu saja oleh ayahnya ketika masih kecil, karena ia berasal dari keluarga yang broken home. Jadilah dia besar hanya bersama ibu dan saudara-saudaranya, dengan kehilangan sosok ayah yang diimpikannya. Julita Manik juga kehilangan sosok ayah yang ideal, awalnya banyak kekecewaan yang ia dan saudara-saudaranya rasakan terhadap ayahnya.

Tapi seperti yang sudah kubilang tadi, Tuhan memang sangat baik, terkhusus kepada mereka. Keduanya mengalami kasih Bapa Surgawi yang membuatnya merasa puas, tak lagi menyesali nasibnya yang fatherless di dunia ini. Pdm. Jeffry S. Tjandra sanggup mengampuni ayah duniawinya, dan akhirnya dipakai Tuhan luar biasa untuk menolong orang-orang yang juga mengalami kepahitan dan kekosongan karena kehilangan sosok ayah duniawi. Karena diberi talenta dalam bidang musik, bisa menciptakan lagu dan menyanyi, Pdm. Jeffry S. Tjandra akhirnya melayani dengan talentanya itu sampai sekarang. Sedangkan ayah dari Julita Manik, setelah pergumulan dan doa yang begitu panjang dan setia, Tuhan mengubahkan ayahnya dalam pertobatan menjadi ciptaan yang baru: ayah yang kepadanya Tuhan berkenan.

Sekitar sebulanan lalu, Pdm. Jeffry S. Tjandra melayani di kebaktian minggu di gerejaku di depok. Ini sudah yang ketiga kali, jika aku tidak salah ingat, aku ikut dalam ibadah yang dilayani oleh Pdm. Jeffry S, Tjandra. Dan itu artinya, sudah tiga tahun berturut-turut, karena Pdm. Jeffry S. Tjandra hanya berkunjung untuk pelayanan sekali setahun ke gerejaku di depok itu. Dan, aku selalu merasa, i'm very blessed. Praise God :") Dia adalah salah satu korban dari permasalahan fatherless generation, yang berhasil mengubah masa lalunya menjadi berkat bagi orang lain, bukan menjadi kepahitan atau kenangan buruk yang hanya ingin dilupakan. Kenapa bisa?

Jawabannya hanya satu: ia mengalami kasih Bapa Surgawi yang sangat dalam, lebar, tinggi, luas itu; tak terukur. Memulihkan. Memenuhi. Menjadikannya, baru.



Aku berharap semua korban masalah fatherless generation juga dapat mengalami hal yang sama. Dan bisa menyanyikan lagu "Bapa, Sentuh Hatiku" dengan mendalam, tulus. Lagu yang dibawakan oleh Maria Shandy, dan pernah booming karena jadi soundtrack sebuah film di televisi. Nah, tahukah kalian? Kalau lagu ini ditulis berdasarkan kisah seorang korban fatherless generation juga? Ya, lagu ini ditulis oleh Jason Irwanto Chang, berdasarkan pengalaman hidup teman sekolahnya. Temannya itu, seorang perempuan, yang diperkosa oleh ayah kandungnya sendiri. Lagu ini kemudian ditulis Jason berdasarkan kisah temannya itu. Lagu ini ditujukan kepada Bapa Surgawi, yang begitu mengasihi kita bahkan ketika ayah duniawi kita mungkin kurang atau bahkan tidak mengasihi kita. Kasih Bapa Surgawi itu, selalu untuk kita: kekal.

Betapa ku mencintai / Segala yang t’lah terjadi
Tak pernah sendiri / Jalani hidup ini / Selalu menyertai
Betapa ku menyadari / Di dalam hidupku ini
Kau selalu memberi / Rancangan terbaik
Oleh karena kasih...

Reff :
Bapa.. sentuh hatiku
Ubah hidupku / Menjadi yang baru
Bagai... emas yang murni / Kau membentuk bejana hatiku
Bapa... ajarku mengerti
Sebuah kasih yang selalu memberi
Bagai air mengalir / Dan tiada pernah berhenti...


Aku sendiri, juga salah satu korban fatherless generation: dulunya, sebelum pemulihan besar-besaran terjadi dalam hidupku dan hidup keluargaku. Keluargaku baik-baik saja, tidak bercerai. Tapi relasiku dengan ayahku memang kurang baik. Ayahku tipikal yang agak cuek dan kurang perhatian, terhadap anak dan keluarganya. Ayahku tipikal sanguin yang suka bergaul, teman-temannya banyak. Jadi kadang terlalu sibuk di luar, reuni ini-itu, panitia acara ini-itu, ketemu teman lamanya yang ini-itu. Ayahku juga cenderung galak kalau marah. Entah pada mama, entah pada kami anak-anaknya. Pernah juga ayah dan ibuku berantem hebat, ketika aku mau UN SMP, dan nyaris keluar kata-kata "cerai" (meski sebenarnya secara kristen tidak bisa).

Ketika SMA, aku merasa kepahitan terhadap ayahku. Pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan dalam karakternya yang terkalkulasi sempurna. Sedih saja rasanya ketika membanding-bandingkan dengan teman-temanku yang punya ayah superhero banget.

Tapi, kasih Bapa Surgawi melawatku ketika aku transisi dari kelas II SMA ke kelas III SMA, seiring dengan aku kenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat atas hidup dan hatiku pribadi (bukan atas hidup dan hati orang lain, yang kata pendeta lagi). Tiba-tiba saja rasanya lepas, lega. Aku bisa memaafkan siapa saja yang bersalah padaku seberat apapun, termasuk ayahku dalam perannya yang tak dijalankan maksimal tak sesuai dengan sosok ideal yang kuinginkan.

Kepulihan yang melandaku memang tak serta-merta melanda ayahku. Aku masih mendoakan ayahku agar relasi kami dipulihkan. Sampai ketika aku masuk kuliah dan merantau ke UI, pemulihan besar dari Tuhan Yesus melanda keluarga kami. Relasiku dengan ayahku dipulihkan total. Di tahun pertama kuliah, ayahku bisa telfon satu sampai dua kali, rutin setiap hari, meski dalam 1-3 menit saja, meski hanya menanyakan hal-hal yang kelihatannya sepele: kabarku, aku dimana, sudah makan, kuliah. Itu tak pernah terjadi sebelumnya. Ketika aku pulang ke medan, keluarga juga menjadi lebih hangat. Ayah dan ibuku, semakin mesra. Lawatan kasih Yesus dan jawaban doa yang luar biasa. Sampai hari ini, Tuhan masih terus mengerjakan pemulihan dalam keluarga kami. Aku bersyukur saat ini tidak hanya punya satu ayah yang luar biasa, tapi akhirnya punya dua ayah yang luar biasa! Bapaku di surga, dan ayahku di dunia saat ini. Bersyukur, banyak. Melimpah :) Itu cerita kesaksian pribadiku, apa ceritamu? Hehe :)

Sudahkah kamu merasakan dan mengalami betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dalamnya, luasnya, kasih kekal dari Bapa Surgawi itu? :)


p.s. :
(berikut, aku copy-kan tulisan mengenai kesaksian true story di balik lagu "Bapa Sentuh Hatiku" itu. Tulisan ini disadur dari website majalah Praise, visit them here ;)
Lagu ‘Sentuh Hatiku’ mempunyai cerita yang sungguh menyentuh hati kita semua. Lagu ini merupakan refleksi hidup yang diilhami oleh kisah seorang gadis, teman sekolah Jason, yang diperkosa ayah kandungnya sendiri hingga hamil. Gadis yang tidak mau disebutkan identitasnya ini awalnya tidak bisa mengampuni perbuatan ayah, meskipun dilakukan dengan tidak sengaja, karena saat itu ayahnya dalam kondisi mabuk berat. Tetapi apa yang dilakukan ayahnya tersebut telah menghancurkan masa depannya. Gadis tersebut sempat mau bunuh diri. Bahkan karena musibah yang menimpanya itu, kemudian gadis ini menjadi gila dan dipasung dengan rantai di rumahnya selama belasan tahun lamanya.
    Jason sering datang dan mendoakan sahabatnya itu sambil sesekali menulis lirik lagu. Waktupun berlalu. Jason pun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri. Suatu ketika anak perempuan itu menelponnya dan ia sangat terkejut. Karena setahunya, anak perempuan itu gila dan juga dipasung. Mengapa bisa lepas bahkan menelponnya?
    Akhirnya anak perempuan itupun bercerita. Suatu hari, rantai yang membelenggu dia bertahun-tahun itu, entah karena sudah berkarat atau apa, tiba-tiba lepas. Satu hal yang langsung diingatnya saat itu adalah ingin membunuh ayahnya. Tetapi waktu dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata : “Kamu harus memaafkan papamu!” Anak  perempuan itu mengatakan tidak bisa. Ia pun terus menangis, memukul dan berteriak sampai akhirnya Tuhan Yesus memeluk dia sambil berkata : “Aku mengasihimu”. Walaupun bergumul, akhirnya anak perempuan itupun bisa memaafkan ayahnya. Mereka sekeluarga menangis terharu melihat apa yang telah dibuat Tuhan dalam memulihkan keluarga mereka. Apalagi hal itu terjadi sebelum ayahnya meninggal karena stroke.
     Kisah nyata ini sangat luar biasa. Betapa tidak, kasih Tuhan dapat menyentuh hatinya yang paling dalam. Kebencian diganti dengan luapan kasih Tuhan sehingga anak perempuan itu dapat mengampuni bahkan menceritakan kasih Tuhan dalam hidupnya. Ketika dia menoleh ke belakang hidupnya, hal itu tidak membuatnya pahit lagi. Awal lirik lagu ‘Sentuh Hatiku’ benar-benar merupakan kesaksian hidup seseorang yang disentuh kasih Tuhan: “Betapa ku mencintai, segala yang t’lah terjadi...” Apakah peristiwa kelam yang lalu membuat Saudara saat ini hidup dalam kepahitan ? Izinkan Kasih Agape Tuhan itu menjamah Saudara saat ini dan mengubah hidup Saudara sehingga menjadi baru. (Sumber : Praise #3 & #6) (kisah selengkapnya dapat dibaca di Story Behind The Song terbitan Yis Production).   

Sunday, 17 November 2013

IF ONE DAY I LOSE MY HOPE



Yes God, please, reminding me---
 Give me faith, give me "a way" to come back home, to the room of hope, that is Yours, where i will wait patiently, once again, for You . . .


Seen that ray of light
And it’s shining on my destiny
Shining all the time
And I wont be afraid
To follow everywhere it’s taking me
All I know is yesterday is gone
And right now I belong
To this moment to my dreams

So I won’t give up
No I won’t break down
Sooner than it seems life turns around
And I will be strong

Even if it all goes wrong
When I’m standing in the dark I’ll still believe
Someone’s watching over me



(Hillary Duff, 
Someone's Watching Over Me Lyrics)