Monday, 9 September 2013

I GIVE UP EVERYTHING


Banyak pertanyaan. Terlalu banyak. 
Mereka tidak melahirkan jawaban-jawaban yang melegakan, sayangnya. Mereka melahirkan kebingungan yang mewabah.


Aku terjepit.

Tidak ada jalan lain selain larut, ikut menikmati-atau-memaki kebingungan yang memenuhi kepala dan hati. 

Waktu merangkak-kadang berlari-kadang berjalan, terseok. Tapi dia tak pernah berhenti. Dia tahu kemana akan pergi, tak sepertiku. Sebenarnya aku bukannya tak tahu, aku tak yakin. Tak lagi yakin. Inikah ujian? Untuk apa ujian? Aku sudah lulus berbagai tingkat pendidikan meletihkan itu, ah.

Bukannya aku tak tahu kemana harus berlari, tapi aku meragukannya. Ketika pintu tertutup, apa yang harus kuperbuat? Menggergaji pintu?

Kompak, kebingungan dan keraguan merangkulku kemudian. Mengajak berhenti. Mengajak pulang. Pulang, entah kemana. Saat itu, kesabaran lenyap. Melarikan diri, meninggalkanku. Kenapa mereka berdua begitu kompak ketika kesabaran tak lagi berpihak padaku?


Aku masih mencari-cari jawaban. Atau pintu yang lain.
Dimana, tapi?

Aku mulai lelah mencari, aku mulai lelah bertanya, aku mulai lelah melanjutkan perjalanan. Lagipula, sepertinya aku tidak berkawan. Aku sendirian. Semuanya semakin melelahkan.

Bodohnya, mirisnya, aku juga mulai lelah berharap.
Banyak hal mengecewakan, tak dapat disangkal. Banyak hal mengecewakan, kadang tak terkendalikan.



I give up everything.
I give up.


Akankah penantian (akan banyak hal ini) melahirkan akhir dengan air mata bahagia? Atau sebaliknya, jangan-jangan malah air mata depresi?

Akhirnya kalau benar nanti aku menyerah, jangan lihat padaku. Karena aku juga manusia yang berdosa.


I, I give up everything.
I am tired, i am bored of this world.
I want to end these stories.