Thursday, 8 August 2013

(SETENGAH) KOMITMEN

Akhir-akhir ini, aku baru benar-benar bisa menyadari betapa tidak menyenangkannya menghadapi-maupun-menjadi orang yang tidak/kurang berkomitmen kepada Yang Terkasih itu. Baik tulisan, maupun perenungan ini, disadarkan bukan semata-mata seperti menghakimi orang lain—tetapi juga diarahkan kembali kepada diriku sendiri: harus diakui aku juga memang sedang merasa seperti itu, kurang berkomitmen kepada Yang Terkasih itu.

Bagaimana mengungkapkan maupun menjelaskan ini, aku juga sejujurnya bingung, tetapi yang ku tahu hanyalah perasaan tak menyenangkan yang tak nyaman di dalam diriku. Cukup gelisah membayangkan Yang Terkasih itu juga gerah dan letih dalam kesabaran-Nya untuk menunggu radikalisme kita pulih kembali dalam mengikuti-Nya.

Sebelumnya, mungkin aku perlu membagikan mengenai kurang berkomitmen. Itu seperti isi buku Christian Atheist dari Craig Groeschell. Kita percaya betul pada Yesus sebagai Yang Terkasih dan Juruselamat secara pribadi (bukan karena orang  tua kita sudah kristen lebih dulu jadi kita ikut-ikutan, atau sejak lahir memang kita sudah dilahirkan sebagai seorang kristen misalnya, jadi menerima begitu saja...), tetapi tak benar-benar memusatkan dan menyerahkan keseluruhan hidup kita pada Yesus Tuhan itu. Kita masih saja melakukan apa yang kita suka (yang sayangnya, Yang Terkasih tidak suka)—dan ngomong-ngomong, ini artinya dosa. Dari bahasa aslinya, dosa sebenarnya berarti “meleset dari sasaran”—maksudnya, jangan kira dosa hanyalah apa yang saat ini “salah” secara moralitas. Berdasarkan bahasa aslinya, kita sudah “berdosa” (bersalah di hadapan Yang Terkasih itu) bahkan ketika kita sedikit saja pun “meleset” dari melakukan keinginan Yang Terkasih itu, sekalipun sebenarnya yang kita lakukan (yang “meleset” dari keinginan itu) adalah hal baik secara moralitas.

Kurang berkomitmen pada Yang Terkasih juga adalah ketika kita mengaku percaya Tuhan, tapi kurang berdoa (baca: betah diam dalam hadirat Tuhan dan berbincang dengan-Nya). Ketika kita mengaku percaya Tuhan, tapi masih kuatir-takut-dan-mengandalkan-diri-sendiri untuk mengurus (permasalahan) hidup kita. Ketika kita mengaku percaya kepada Tuhan, tapi masih mengejar kebahagiaan diri sendiri semaksimal mungkin. Ketika kita mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi pada kenyataannya, kurang mengenal Tuhan karena hanya mengenal Tuhan dari "apa kata orang" atau "apa kata pastor atau pendeta".

Kurang berkomitmen kepada Yang Terkasih itu juga seperti kita malas-malasan untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Yang Terkasih. Seperti ketika kau punya kekasih yang bilang ia mencintaimu, tetapi pada kenyataannya untuk meluangkan waktunya untuk bertemu denganmu saja dia sesusah itu. Ah, aku tahu aku sangat terbatas menjelaskan ini, tetapi kira-kira seperti itulah.

Rasanya sangat tidak menyenangkan dan tidak menyamankan. Entah itu menghadapi mereka yang mungkin sedang kurang berkomitmen kepada Yang Terkasih, ataupun menjadi salah satu dari mereka yang kurang berkomitmen kepada Yang Terkasih. Aku merindukan radikalisme itu, ketika aku bisa memusatkan dan menyerahkan seluruh kehidupanku kepada-Nya, ketika aku bisa se-serta-merta dan seringan itu untuk ikut keinginan atau permintaan-Nya sekalipun secara manusiawi itu susah untuk dilakukan atau bahkan mustahil, ketika bertemu Yang Terkasih menjadi salah satu momen yang diingini-ditunggu-dan-dinikmati seleluasa dan sepenuh itu.

Dalam perenunganku, menjadi-maupun-menghadapi mereka yang kurang berkomitmen kepada Yang Terkasih tidak menyenangkan, karena kita (yang kurang berkomitmen kepada Yang Terkasih) cenderung memusatkan segala sesuatu pada diri kita, bukan pada-Nya. Ketika itu, penyakit yang disebut egosentrisme itu menyerang seperti bom waktu yang disembunyikan, yang berpotensi sangat besaar untuk menghancurkan kita dan relasi kita dengan orang lain. Egosentrisme membunuh kepedulian kita akan orang lain, dan sikap semena-mena (disadari maupun tidak disadari, diakui maupun tidak diakui) cenderung muncul secara alamiah dalam porsi yang mungkin berbeda-beda.

Aku kembali membayangkan bagaimana Yang Terkasih itu menghadapi kita, yang kurang berkomitmen pada-Nya ini: kadang bersyukur karena Dia bisa sesabar itu, karena kalau Dia mau, Dia bisa saja mengeliminasi dengan gampang. Aku membayangkan seperti namaku dicoret dari agenda-Nya. Atau ketika tidur, kau tidak akan terbangun lagi. Kesempatan untuk hidup telah berakhir, karena kita tidak bisa mempertanggung-jawabkan hidup kita sebagaimana Sang Pencipta ingini sedari awal. Tapi Dia tidak lakukan. Aku menyadari itulah bedanya aku dan Dia. Aku begitu terbatas dan bodoh dalam emosi yang kadang meledak-ledak dan menghasilkan keputusan yang salah tapi Yang Terkasih tidak. Dia begitu penuh kasih setia, dan konsisten. Dia luar biasa ya?

Tapi kesedihanku lagi adalah ketika menyadari betapa tidak menyenangkannya menjadi orang yang kurang berkomitmen kepada-Nya itupun, aku merasa belum benar-benar bisa kembali radikal ikut Tuhan. Berasa aku tidak sekuat dulu untuk melakukan itu. Atau terlalu fokus pada kelemahan pribadi? Dan melupakan bahwa sampai kapanpun, untuk ikut Dia memang tidak bisa mengandalkan kekuatan diri sendiri—melupakan bahwa Dia menganugerahkan kekuatan dari Roh Kudus yang sudah ada di dalam kita semenjak kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.



Menurutku, baik dunia (dan sekarang juga) termasuk aku, sedang benar-benar “sakit” dalam kondisi kurangnya komitmen dan radikalitas ini dalam mengikut Yang Terkasih. Siapa orang sakit yang tak ingin sembuh? Semoga dunia dan juga aku, cepat dipulihkan, seutuhnya.