Saturday, 18 May 2013

BATAK, YANG ISTIMEWA


Lahir dari ayah dan ibu yang berbeda latar belakang suku, membuat saya cukup menikmati multikulturalisme. Yang entah lucu, atau sebenarnya agak sedih (haha), ayah saya yang batak bisa fasih berbahasa Jawa, dan ibu saya yang Jawa-Jogja bisa juga fasih berbahasa Batak (karena ayah-ibu saya menikah dalam adat Batak, dan ibu saya akhirnya diberi marga, menjadi boru Aritonang Rajagukguk, bagian dari keluarga pariban ayah, pariban dari opung ayah saya--dan ayah-ibu saya ketemu di perantauan ketika berada di Jakarta, hehe). Tapi saya, yang seharusnya bisa kedua-duanya juga, ternyata tidak bisa, haha. Mungkin pengaruh dari domisili di kota, Medan cukup multikultural dengan adanya budaya dan etnis-etnis lain, seperti Chinese, Melayu, dan Minang—yang menurut saya membuat Budaya Batak tidak terlalu menonjol merangkul anak-anak muda suku Batak, tidak seperti di daerah luar Medan. Teman-teman saya yang berasal dari luar Medan, umumnya pasti bisa fasih berbahasa Batak.

Dulu, saya merasa baik-baik saja tidak terlalu mengenal “siapa saya”. You know what I mean. Suku juga merupakan salah satu dari sekian banyak identitas sosial seseorang. Jadi, karena Budaya Batak adalah sebuah budaya patriarkhal, dan ayah saya Batak bermarga Nainggolan, jadilah marga itu turun ke saya sebagai “boru”-nya, melengkapi nama saya yang sudah panjang menjadi lebih panjang, haha. Dulu, saya (yang sepertinya memang lebih mendapat pengaruh dari ibu saya soal raut wajah) malah asyik-asyik aja kalau dianggap bukan orang Batak (tapi karena ini juga, saya bersyukur pada Yang Terkasih, tidak terlalu sulit beradaptasi di lingkungan budaya baru ketika merantau kuliah di UI, hehe). Ya, tetap pengakuan dosa, saya juga lebih jarang memakai marga di belakang nama saya. Di dokumen-dokumen resmi memang tetap memakai, tapi tidak kalau di acara dan lain-lain. Sedih jadinya, hehe sebenarnya ketika study tour di kelas 3 SMA dulu ke Pulau Samosir, saya sudah cukup diajak mulai “mengenal” Batak lebih dekat dan dalam. Tarombo Batak, salah satu yang kami teliti dan pelajari di trip study tour itu, membuat saya terkesima juga. Sangat kompleks, tetapi luar biasa. Hanya saja setelah merantau, semuanya terasa menjadi biasa-biasa saja lagi. Tarombo Batak yang mengagumkan bagi saya ketika itu, atau apapun itu soal Batak, cukup teracuhkan oleh saya, dengan kondisi harus membaur dengan kebudayaan-kebudayaan lain di tempat baru: Jakarta, Depok, dan Pulau Jawa.

Tapi belakangan ini, setidaknya mulai tahun ini, saya mulai merasa agak ganjil dengan keadaan itu. Saya ganjil merasa tidak terlalu memiliki keterikatan yang kuat dengan marga saya, cuek-cuek saja ketika sebenarnya ayah saya aktif luar biasa di Medan sebagai pengurus inti dari perkumpulan marga Nainggolan Parhusip daerah rumah saya, atau yang mungkin dikenal di seluruh Indonesia dengan nama “PATOPA”, atau merasa biasa saja dengan “kebatakan” saya. Saya mulai merasa ada sesuatu yang istimewa soal “kebatakan” saya. Bukan kebetulan saya lahir sebagai orang Batak, meski ibu saya bukan Batak—dan bukan kebetulan saya lahir di Pematang Siantar, salah satu bagian dari Tanah Batak, dan memang besar di kota Medan, yang cukup kuat dengan Budaya Bataknya. Bukan kebetulan, sahabat-sahabat saya kebanyakan orang Batak (bahkan ketika di lingkungan kampus, apalagi di persekutuan. Bahkan, adik-adik AKK saya, semuanya boru Batak, haha, meski tidak semua masih berdomisili di Sumatera Utara). Bukan kebetulan juga, Nomensen diutus Tuhan untuk memulihkan Tanah dan Suku Batak, sampai sekarang, meski belum semua, tapi sudah banyak orang-orang dari suku Batak yang dijamah dan dipakai Tuhan luar biasa. Membuat saya, terharu :”) Bukan sebuah kebetulan juga, saya percaya, saya dilahirkan sebagai seorang perempuan dengan darah Batak mengalir di dalam tubuh saya, sebagai seorang boru Nainggolan. He had planned something big and great about that, I know ;)

Semenjak kejadian “pemulihan” kembali dengan ayah saya beberapa bulan lalu, saya mulai “mengenakan” kembali marga saya, di belakang nama saya. Termasuk di semua akun social media yang saya punya. Entahlah. Rasanya guilty feeling saja, ayah saya dan adik saya sangat bangga mengenakan marga itu di belakang nama mereka, dan saya dulu itu bersikap biasa saja. Bagaimanapun, itu nama keluarga saya loh. Itu identitas saya. Saya baru sadar harusnya saya bangga mengakui identitas keluarga sendiri. Dan kalau diingat, hati buat Tanah Batak dan Suku Batak itu mulai dihidupkan lagi oleh Yang Terkasih, semenjak dua tahunan lebih lalu—saat itu, saya sedang liburan pulang ke rumah di Medan, dan diajak ikut ke sebuah acara pesta nikah adat Batak dari sanak saudara jauh kami, di salah satu daerah di Tanah Batak. Ketika itu, melihat kembali lebih dekat kondisi Tanah Batak—gereja-gereja amat sederhana, bahkan dari kayu, berdiri di tengah-tengah sawah, apalagi—saya tertegun saja. Saya rindu Batak kembali dipulihkan, seutuhnya.

Hati saya untuk Tanah Batak, Medan, Sumatera Utara, dan suku Batak terasa makin diperbesar kapasitasnya ke depan ini oleh Yang Terkasih. Meski panggilan hidup saya, dari jawaban doa sejauh ini, bukan berdomisili di Sumatera Utara (saya tidak tahu akan berubah lagi atau tidak, tapi sementara ini sepertinya tidak dulu), tapi saya merasakan keterikatan yang lebih dalam terhadap suku dan Tanah Batak. Dan, ehem, sudah cukup lama, demi hal “memperjuangkan identitas” ini, saya berpikir jadi ingin menikah dengan seorang laki-laki dari suku Batak. Ya, yang bisa mengajari lebih banyak soal adat-budaya-bahasa Batak, yang bagi saya sekarang, sangat istimewa itu ;) Haha, ini sepertinya terlihat random banget untuk mengakhiri tulisan ini, tapi saya totally serious. Sekarang ini, saya yakin jika saya menikah, saya akan menikah dengan seorang laki-laki dari suku Batak. Oh ya, dan saya bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki di kampung Nainggolan, di Tanah Batak—karena jujurly, kakek atau opung saya sudah jadi perantau yang pergi ke daerah lain di Tanah Batak semenjak dulu kala. Saya ingin tahu saja, bagaimana sih kampung milik marga Nainggolan itu :* Jadi kesimpulan dari tulisan ini adalah, demi memperjuangkan kembali kebatakan saya, dan darah Batak yang mengalir di dalam tubuh saya, peer ke depan saya: belajar bahasa Batak! :))

Wednesday, 15 May 2013

REMEMBER YOU


"O God, You are my God, earnestly I seek You, my soul thirsts for You, my body longs for You, in a dry and weary land where there is no water. I have seen You in the sanctuary and beheld Your power and Your glory. Because Your love is better than life. My lips will glorify You. I will praise You as long as I live, and in Your name I will lift up my hands. My soul will be satisfied as with the richest of foods, with singing lips my mouth will praise You. On my bed I remember You; I think of You through the watches of the night. Because You are my help, I sing in the shadow of Your wings. My soul clings to You; Your right hand upholds me."



Psalm 63:1-8
A psalm of David. When he was in the Desert of Judah.


 


p.s. :
Sama seperti yang diingatkan saat teduhku dari Manna Sorgawi hari ini, kadang, aku merasa jadi seperti Petrus yang mulai tenggelam, ketika fokusnya teralihkan dari Yesus kepada ombak dan badai di sekelilingnya, padahal, dia sudah berjalan di atas air--dia sudah mengalami bahwa Yesus yang dipercaya hatinya adalah Tuhan yang benar-benar berkuasa membawanya melakukan hal-hal yang sulit, bahkan mustahil baginya. Aku tahu, bahwa Ia sedang memperbesar kapasitas imanku.

Memusatkan seluruh fokus kepada Yesus adalah satu-satunya hal yang perlu untuk ku lakukan. Fokus, pada janji-Nya, rencana-Nya, panggilan-Nya, dan cinta-Nya. Dia mungkin tak selalu menjanjikan tidak akan ada tantangan atau ujian di sepanjang perjalanan, tapi Dia selalu menjanjikan cinta kasih yang sebegitu dalam-luas-lebar-dan-tingginya, untuk terus menemani-mendampingiku sepanjang perjalanan. Ah, bukankah cinta kasih Yesus itu harusnya cukup untuk setiap kita?

Dalam masa penantian dan pergumulan mengenai panggilan hidup ini, banyak hal Tuhan singkapkan bagiku. Rasa kagum dan syukur meluap dan melimpah begitu saja, ketika lagu-lagu pujian penyembahan dari Hillsong, ku naikkan kepada-Nya, Yesus Yang Penuh Kasih itu. Aku terkesima ketika merenungkan bahwa 1 Korintus 2:9 benar-benar tergenapi di hidupku. Hadiah istimewa. Amazing grace. Aku semakin menyadari betapa Dia begitu mengasihiku. Rancangan-rancangan-Nya dan mimpi-mimpi-Nya bagiku membuktikan hal itu. Dan kemudian, aku menyadari bahwa, sekali lagi, aku kembali jatuh cinta lagi pada-Nya. "Ayah" Yang Luar Biasa :*