Wednesday, 20 March 2013

DEGRADASI


Lega setelah lulus dan wisuda—itulah yang sesekali ku dengar dari orang-orang di sekitarku belakangan ini. Kalau mendengar hal itu, aku hanya tersenyum tipis kadangkala—jika malas berdebat membantah ataupun mengoreksi perkataan pendapat itu agar terasa lebih benar. Sambil berpikir bahwa justru, perjalanan hidup baru akan dimulai setelah ini. bagaimana hal itu bisa disebutkan banyak orang, sebagai sebuah kelegaan besar? Aku justru merindukan kuliah: tugas-tugas review, penelitian kelompok, minggu riweh ujian, belajar dan santai bersama teman-teman dekat dan teman-teman seangkatan, kelas, buku catatan dan binder kuliah. Aku merindukannya.

11 Januari 2013 lalu, seusai sidang skripsi, cerita mengenai panggilan hidup ini benar-benar ku mulai dengan serius. Selama ini, aku memilih sosiologi dengan pilihan bebas dan kesadaran penuh—tanpa memikirkan benar-benar mengenai masa depanku. Hanya berpikir aku hanya ingin belajar soal kemiskinan di sosiologi. That’s it. Aku tak se-realistis anak-anak sekarang, yang memilih jurusan yang menjamin lapangan kerja yang luas atau prestiseous atau gajinya dianggap dapat lebih mensejahterakan hidup manusiawi ini. Itulah kenapa ilmu komunikasi UGM yang Tuhan juga sudah anugerahkan padaku setelah tes UM UGM di pekanbaru tidak ku ambil. Aku memilih “mencintai” sosiologi, dibandingkan komunikasi, untuk 3,5 tahun ke depan setelah itu. Meski kata orang, komunikasi justru lebih menjamin, dibandingkan sosiologi. Nekat? Tidak. Aku menyebutnya, panggilan hidup. Yang aku pun belum tahu, belum benar-benar tahu, apa itu.

Hari-hari berikutnya setelah 11 Januari itu, Ia memang memberitahukan kepadaku panggilan itu dengan jelas, setelah aku benar-benar merendahkan diri dan hati untuk bertanya kepada-Nya mengenai rencana-Nya itu dalam hidupku. Mengenai kemana langkah dan tapak kakiku akan ku tujukan setelah menyelesaikan jenjang S1 Sosiologi ini. Dia mengingatkanku akan apapun yang sudah ku lalui selama ini, apalagi selama aku menjalani kuliah di sosiologi. Banyak cerita dan kisah-kisah hidup selama ini yang disingkapkan maknanya, kaitannya, maksudnya. Semuanya saling terkait-terikat, terjalin manis: menjadi sebuah cerita yang tak pendek mengenai panggilan hidupku. Aku bersyukur. Bersyukur untuk dapat mengetahui panggilan hidupku dengan begitu jelas.

Dan, setelah itu, cerita penjawaban masih terus berlanjut: Ia terus memberitahukanku hal-hal lain di masa depan yang harus kukerjakan, terkait panggilan itu. Untuk kesemuanya itu, aku harus mengakui, kalau aku terkejut kemudian. Terkejut dalam kesiapanku yang ternyata belum seratus persen sempurna seutuhnya.

Salahkah aku kalau aku terkejut?

Keraguan kadang datang begitu saja: bukan keraguan mengenai apakah benar memang itu adalah panggilan daripada-Nya yang sudah begitu apik disiapkan-Nya untuk kujalani. Tapi keraguan akan diriku sendiri—apakah aku sanggup, apakah aku se-passionate itu untuk menjalaninya hingga di suatu titik nanti akhirnya, ya di ujung nanti, aku bisa mengatakan, “sudah selesai.” Finishing well. Sungguh, kadang aku meragukan diriku sendiri.

Masa-masa itu ku sebut masa degradasi—masa dimana semua hal terasa drop untuk dijalani masalah utamanya ada di keraguan itu: yang berefek kepada relasi personalmu dengan Yesus, dan seluruh aspek kehidupanmu, bahkan. Aku merasa begitu lemah dan letih. Aku merasa begitu tak searah dengan-Nya, Perancang Abadi Hidupku (dan bahkan hidup siapapun itu yang bernafas di muka bumi ini).


Dan kadang, ku pikir, disitulah kita memerlukan tempat berbagi. Teman, saudara, keluarga. Sebutlah begitu.

Tapi akhir-akhir ini, dari kedalaman hatiku, aku harus mengakui bahwa aku malah dikecewakan dalam kebutuhan sosial itu. Harusnya aku tak berekspektasi terlalu berlebihan, sehingga akhirnya ketika realita tak memenuhi ekspektasi—segala sesuatu malah terasa tambah tak nyaman di dalam jiwaku. Banyak orang, dan banyak teman datang, dan pergi. Dalam kata-kata yang mencoba memotivasi. Sering tanpa telinga yang cukup sabar untuk mendengarkan, dan tentu, untuk berbagi.

Aku kadang berpikir, aku jera. Aku enggan memulainya lagi. Ya, memulai untuk bercerita-berbagi kisah panggilan hidupku kepada orang lain. Aku tak siap akan respon apapun itu dari mereka. Aku tak ingin berurusan lagi dan menjadi kesal (dalam masa suram degradasiku) akan telinga yang ternyata tak siap dan tak cukup sabar untuk mendengarkan. Aku letih dengan kata-kata motivasi dan semangat yang ditujukan padaku—tanpa mereka berusaha mencoba memahami kehidupan-ku. tanpa mereka coba berempati, mencoba menjadi aku. Mereka menggampangkan semuanya, dan mengabaikan kelemahan manusiawiku, yang masih belum benar-benar dapat ku singkirkan. Kadang, aku berharap mereka memahami Verstehen Weber. Atau mungkin, belajar lebih menghayati dan melakukannya?

Aku hanya membutuhkan seorang kawan yang lapang sabar untuk mau mendengarkanku, dan doa, untuk menyokongku bahkan ketika aku tak tahu dia berdoa untukku. Bukan puluhan atau bahkan ratusan kata-kata atau motivasi semangat lagi. Aku sudah tahu. Hanya saja dalam segala kemanusiawianku saat ini, aku hanya ingin dimengerti sebagai seorang manusia yang juga mungkin sekali akan jatuh atau tak kuat, sesederhana itu. Aku membutuhkan orang yang dapat memahami kelemahanku, dan mendoakannya di belakang, bukan menyorotinya dan mengkomentarinya di depanku. Yah, karena dear all, aku sudah tahu kelemahanku-kekuranganku: justru itulah masalahnya. Aku tak merasa perlu diingatkan lagi akan itu, atau kondisi ideal yang saat itu terasa begitu sulit untuk digapai. Kenapa kita tak coba beristirahat sejenak dalam ruang dimana kita bisa sekedar berbagi?

Tapi aku pun tak ingin menyalahkan siapapun dari semua teman-teman yang baik yang mencoba menanyakan kabarku atau memberikan kata-kata motivasi itu. Aku bersyukur setidaknya mereka mencoba melakukan sesuatu meski tak sempurna. Ku harapkan memang semuanya itu dilakukan tanpa keterpaksaan, dengan ketulusan. Dan ngomong-ngomong, itulah sosok manusia, bahkan sosokku sendiri: selalu terbatas. Tak sempurna. Semua manusia memang sedang dalam rute perjalanan, atau dalam kelas kehidupan, dimana setiap kita belajar menjadi yang lebih baik lagi hari demi hari demi hari. Belajar menjadi sempurna. Bukan salah mereka. Di baliknya semuanya, setidaknya aku bersyukur sekali lagi untuk pelajaran hidup yang diajarkan-Nya padaku melalui semuanya itu—

Tempat perteduhan dan pengharapan abadi—ruang berbagi—telinga yang siap mendengar setiap detik—dan bahkan, tangan yang siap dengan intervensi pertolongan yang sempurna, hanya ada pada Yang Terkasih. Memang ada kalanya Dia akan menyelinap di dalam sosok orang-orang di sekelilingmu untuk sekedar mendengarkanmu, atau untuk menguatkanmu, atau bahkan untuk mengintervensimu dengan bala bantuan—tapi tak juga selalu begitu. Dia tak akan menyelinap di dalam sosok orang-orang di sekelilingmu, ketika kau lupa bahwa Dialah yang ada di balik orang-orang, manusia-manusia itu. Ketika kau mencari manusia, bukan Dia. Ketika kau lari kepada manusia, bukan Dia. Dan inilah masalahku. Ini salahku—yang mungkin memang berlari menuju menara perlindungan yang salah. Ya, karena relasiku dengan-Nya, sedang tak baik karena aku memilih meragu dibanding percaya pada-Nya.

Tapi Dia memang Bapa yang luar biasa sabar dan setia. Meski kita, aku, kadang tak hormat pada-Nya. Kurang menghargai-Nya. Bahkan mengabaikan-Nya. Seperti kisah anak yang hilang di dalam Alkitab, Dia menungguku letih berlari dari-Nya, dan pulang. Pulang ke rumah di dalam hati-Nya, dan tinggal lagi—tak sekedar untuk berteduh, tetapi diam menetap. Ini sudah terjadi berulang kali beberapa minggu lalu. Semoga aku tak terus-terusan menjadi anak yang membandel lagi bagi-Nya.




Ku pikir Dia juga maklum akan semua keterkejutan di dalam jiwaku ini. Karena itu Ia juga sabar luar biasa menunggu keterkejutan itu mereda, dan hilang lenyap. Dan aku mulai belajar dan terus belajar untuk meyakinkan diriku bahwa ada titik dimana aku akan siap seutuhnya. Sebuah momentum yang tenang dan mantap. Karena mengatakan tidak dan menolak apa yang sudah Ia rancangkan bahkan semenjak kau belum dilahirkan ke muka bumi ini, itu tidak mungkin. Live life for your destiny. Live life the way it designed to be lived by Him :”)