Sunday, 16 December 2012

MENANTI SAATNYA CHECK-OUT


Perenungan iseng, ngomong-ngomong, akhir-akhir ini saya berpikir saya sangat ingin cepat menutup usia. Maksudnya, cepat mengakhiri hidup. Ya, bukan berarti bunuh diri juga -.- tapi seperti berharap Tuhan panggil lebih cepat, jangan lama-lama. Umur 30-an, sudahlah ya. Ahaha, perenunganku x)

Entahlah, bukan berarti bosen hidup, tapi untuk satu dan dua atau beberapa hal mungkin, keinginan ini semakin besar. Kalau boleh sih, kalau di-acc sama Tuhan di sorga, mati cepat itu keuntungan. Saya sama sekali tidak takut mati. Justru itu tadi, saya ingin cepat-cepat saja. Dasarnya adalah, saya tahu kemana tujuan saya setelah saya check-out dari kehidupan yang ini. Suatu tempat dimana saya bersama-sama Tuhan selama-lamanya, tak terpisahkan lagi, jadi kenapa saya harus takut mati?

Ini juga bukan sebuah keyakinan tanpa alasan. Bukan juga karena keyakinan, karena saya merasa saya sudah cukup baik selama hidup di bumi ini.

Keyakinan saya karena saya sudah pernah mati, dan sudah hidup kembali. Jadi kematian yang nanti akan menunggu itu tidak lagi menakutkan bagi saya. Pernah mendengar mengenai hidup lama dan hidup baru? Ya, soal itu. Itu maksud saya. Saya tidak takut mati karena saya sudah pernah mati bersama kematian Yesus, dan sudah (di)-hidup-(kan) lagi dalam kebangkitan Yesus. Ini rahasia besar. Dan jujur saja, mungkin tidak semua orang kristen juga menyadari atau mengetahuinya, karena memang pada kenyataannya belum semua orang yang menyebut dirinya kristen atau beridentitas kristen di kartu pengenalnya (kartu apapun itu) pernah mengalaminya. Tidak semua orang kristen sudah mengalami hidup (baru) dan mati bersama Yesus.

Pengalaman hidup baru ini biasanya akan menjadi begitu spesifik dan khusus bagi setiap orang yang mengalaminya. Yang ekstrim, mungkin seperti salah satu bapak pendeta yang pernah berkhotbah di gereja saya yang semenjak muda langganan keluar-masuk penjara karena hidupnya hancur semenjak masih muda di jalanan yang keras, tapi setelah bertemu Yesus, Yesus mengubah total hidupnya dengan mengajaknya mati terhadap hidupnya yang lama itu dan masuk kepada hidup baru. Atau saya, haha, andaikan kalian tahu bagaimana saya ketika SMA kelas 1. Dan rute-rute kehidupan saya yang sungguh tidak teratur sebelum itu, sampai akhirnya saya bertemu Yesus di kelas 2 SMA di semester kedua, dan diubahkan tahap demi tahap—masih terus diubahkan sampai saat ini. Pengalaman paling indah seumur hidup.

Kadang, kebanyakan kita terlalu fokus kepada kematian Yesus. Tapi sebenarnya itu bukan esensi satu-satunya. Yesus tidak sekedar mati, Dia bangkit dan hidup. Kedua hal ini seperti koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Intinya, disambungkan ke keyakinan saya soal saya yang pasti akan ke surga dan hidup tenang bahagia disana selama-lamanya: karena Yesus sudah mati buat saya—saya pun sudah mati buat hidup lama dan dosa saya yang lalu, dan karena Yesus sudah bangkit-hidup buat saya—saya pun turut ikut bangkit-hidup dari dosa dan hidup lama itu menuju hidup baru. Semuanya terjadi setelah saya percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya, secara personal. Bukan secara massal. Ini penting, saya yakin dan ingin meyakinkan siapapun itu bahwa agama (atau, saya lebih senang menyebutnya keyakinan karena agama itu buatan manusia supaya dunia ini tidak kacau-balau) tidak seharusnya kita terima dengan “taken for granted”. Simpelnya, karena nyokap-bokap gue beragama A ya gue beragama A juga. Atau, karena keluarga gue dari kakek-nenek buyut udah percaya agama A ya udah gue mesti ikutan dong agama A, masa gue lain sendiri. Bukan seperti itu. Yang terpenting dari keyakinan yang kita pegang adalah kita punya relasi dengan Siapa Yang Kita Puja itu, dengan Tuhan. Bukan sekedar kenal, Tuhan itu baik, penuh kasih, pengampun, dst dst tapi ya mengalami kalau memang Tuhan itu baik untukku, penuh kasih untukku, mengampuni aku. Itulah, iman.

Dalam kesemuanya itu, saya bersyukur karena saya sudah bertemu Yesus. Yesus, bukan semata-mata kekristenan. Dia, bukan saya, yang sudah menemukan saya. Dia, bukan saya, yang sudah memanggil. Dia memanggil dan memberi saya jaminan di sorga itu juga bukan karena saya cukup baik. Dia memberi saya hidup baru, hidup kekal, dan jaminan di sorga itu semata-mata karena Dialah Yang Paling Baik—karena Dia terlalu baik. Dia tahu saya tidak layak dan saya tidak baik, akhirnya Dialah yang mengubahkan saya di dalam kematian-kebangkitan-Nya itu agar saya layak dan saya menjadi baik. Berlimpah syukur.

Teman saya pernah bercerita kepada saya, sebuah perumpamaan seperti ini: misalnya ketika kamu bertamu ke rumah seseorang dan dibuatkan minum. Tapi ketika si pemilik rumah membuatkanmu minum, kamu secara tidak sengaja tahu, kalau dia membubuhkan sedikit (sedikit saja!) racun tikus ke minumanmu. Katakankanlah hanya 1%. Sedikit kan ya? Tapi, apa kamu masih mau minum minuman segar "beracun-tikus-dengan-kadar-hanya-1%" itu kemudian, sehaus apapun kamu saat itu? Orang berakal sehat manapun pasti memutuskan untuk cepat-cepat pulang dan tidak mau tahu soal minuman segar "beracun-tikus-dengan-kadar-hanya-1%" itu. Seperti itulah juga Tuhan, dan kita.

Meski rajin berbuat baik setiap hari, tapi setiap hari pula kita rajin menabung dosa, dan membuat diri sendiri terlihat kotor di hadapan-Nya, apa bedanya kita dengan minuman segar "beracun-tikus-dengan-kadar-hanya-1%"? Ingatlah, Tuhan itu Maha. Tidak ada kompromi untuk itu. Dan, ngomong-ngomong, Tuhan itu Mutlak Maha Kudus. Akankah menurutmu dia akan kompromi dengan dosa kita meski hanya 1%? Karena Dia tahu sampai kapanpun manusia tidak akan bisa membuat dirinya bersih di hadapan-Nya, justru itu kemudian Tuhan turun tangan membersihkan kita, dalam penebusan dosa Yesus Kristus. Jadi jelas bukan karena saya baik, tapi karena Dia baik. Setelah itu, selama masih hidup di dunia rentan dosa, memang kita mungkin saja jatuh lagi dalam dosa, tapi darah Yesus sudah-dan-akan-selalu menguduskan kita dari segala dosa-dosa itu, asal kita percaya. That's the way.



Beratus-ribu orang sudah mengalami mati-dan-hidup di dalam Yesus, di seluruh muka bumi ini. Dan, saya sungguh bersyukur sudah menjadi salah satunya.

Nah, jadi kapan saatnya check-out darisini, Tuhan Terkasih? #masihtetep :D

Saturday, 15 December 2012

DEAR DECEMBER 14TH


02:05 am, saya masih terbangun, seperti akhir-akhir ini. Semenjak bergaul sangat akrab dengan skripsi, harus diakui jadwal tidur dan jadwal mata-melek berubah banget. Saya mungkin hanya tidur 4-6 jam setiap hari (masih banyak ya?) tapi dibandingkan yang sebelumnya, saya bisa tidur dari 6-8 jam sehari. Hm, mungkin karena kondisi badan yang kadang, suka cepat letih kalau sudah menjelang petang, gelap, dan banyak kerjaan seharian kesana-kemari.

Tapi tengah malam ini, saya sedang rehat bergaul akrab dengan skripsi :)

Baru saja kemarin, 14 Desember 2012, draft skripsi dikumpulin ke jurusan. Deadline, tahap-I. Rasanya masih merasa luar biasa dalam His perfect providence: 5 bab, 130-an halaman belum termasuk lampiran (yang output SPSS saja bisa mencapai 39 halaman),  dan 2 rangkap untuk jurusan dan mas riki, dosen pembimbing saya, tadi.

Memandangi sampul cover skripsi itu, saat ini, rasanya: bersyukur melimpah!

Masih suka merenung kalau ingat, keinginan saya sebenarnya tidak ingin lulus cepat-cepat. Tetapi Yang Terkasih itu, yang mengintervensi. Berkali-kali bergumul, berdoa, menanyakan pada-Nya. Ceritanya (ya, tentang skripsi ini) dimulai dari nyaris, setahun lalu, bahkan di malam natal, 24 Desember 2011. Sekali-sekali menawar siapatau Tuhan berubah keputusan jadi acc untuk gak tiga setengahan. Tapi Tuhan Yesus tidak pernah berubah. Kata-Nya, ini saatnya akselerasi. Sisa waktunya, sudah sangat singkat. Dan, kita harus bersiap-siap untuk itu. 

Mengingat bagaimana pemeliharaan-Nya dari awal sampai saat ini, rasanya mau nangis. Meski rasanya saya anteng-anteng saja di publik (misalnya, di blackberry messenger atau social networking media), cuma saya dan Dia yang tahu bagaimana titik-titik ter-drop saya sepanjang perjuangan skripsi ini. Begadang nyaris tiap hari. Harap-harap cemas kadang kalau pembimbing belum balas sms, untuk jadwal bimbingan, mungkin sangkin sibuknya hehe atau ketika merasa guilty feeling pada-Nya karena hal-hal perintilan di penelitian saya yang saya kurang total. Tapi, tetap di tengah badai-badai ini, kekuatan ekstra melimpah dari Tempat Maha Tinggi. Ah, You are awesome forever, Dear Jesus :")
 
Sejujurnya, saya juga belum tahu akan pergi kemana, kerja apa, jadi apa, tepatnya setelah lulus tahun depan. Hanya berusaha taat meski seperti Abraham, masih belum tahu percis kemana Dia ingin kita melangkah. Karena itulah, pergumulan panggilan hidup sepertinya akan semakin serius dilanjutkan :) Yang jelas, saya tidak mau salah kerja, salah menjalani hidup dunia alumni menjadi seorang orang dewasa. Saya ingin berbuat sesuatu buat masyarakat, ya setidaknya buat orang-orang di sekeliling saya, bukan hanya kerja untuk mencari makan. Berbuat sesuatu yang seturut kehendak-Nya, Yang Terkasih. Semoga.



Tapi, sekali lagi, saya sungguh bersyukur untuk grand design-Nya dalam cerita skripsi saya ini. Mengerjakan skripsi yang gak sekedar buat lulus itu, rasanya beda. Mengerjakan skripsi bukan karena ambisi saya pribadi, tetapi karena ikut kata hati Tuhan itu, sesuatu hal yang luar biasa bagi saya. Mengerjakan skripsi yang mengandung sebuah misi itu, menantang banget. Mengerjakan skripsi dengan memegang janji-Nya dari Pengkhotbah 3:11 itu, benar-benar menenangkan.

Bersyukur, bersyukur, bersyukur.
Berjuang, berjuang, berjuang. Karena perjuangan belum selesai, sedikit lagi.


p.s. :
terima kasih, Tuhan Terkasih.
terima kasih, Tuhan Yesus.