MENERJEMAHKAN KESENDIRIAN

by - June 20, 2012


Bagaimana kita menterjemahkan "kesendirian"? Apakah kesendirian adalah sesuatu yang menakutkan? Atau mungkin, kesendirian adalah sesuatu yang dihindari, berusaha kita jauhkan. Bagaimana kita menterjemahkan kesendirian? Apakah kesendirian adalah sesuatu yang tidak membuatmu nyaman dan merasa aman?

Aku menemukan diriku ada di dalam kondisi yang ku terjemahkan sebagai kesendirian itu beberapa hari terakhir kemarin ini. Ketika saudara-saudara sepergerakanku sedang bermisi pelayanan kasih ke gereja-gereja di Lampung. Ketika teman-teman sepelayanan sibuk dengan perihal magang, dengan pulang ke rumah masing-masing. Ketika kakak rohaniku (baca: PKK) sibuk dengan deadline pengumpulan skripsi. Ketika di kosan, tidak lagi ada ka merry. Ketika teman-teman dekat sejurusan seangkatan juga tidak lagi intens ke kampus ketika sudah memasuki masa liburan ini. Ketika keluarga jasmaniku, jauh secara jarak fisik daripadaku. Ketika sahabat-sahabatku semenjak SMA, sedang disibukkan dengan UAS dan tugas-tugas pra-UAS di kampusnya masing-masing. Ketika aku sedang menghadapi masalah pelik. Kemarin.

Rasanya nyaris tidak ada yang bisa diajak bercerita dan berbagi masalah pelikku. Rasanya tidak ada yang bisa diminta membantuku dalam doa. Rasanya tidak ada yang bisa diajak berkumpul dalam kelompok kecil, sekedar berdoa sharing ataupun berbagi rhema atau firman. Tidak tega sih, tidak tega mengganggu dan tidak tega merepotkan.

Ketika itu hanya bisa mengambil waktu berdiam di kamar kosan, sambil merenungi rhema-rhema yang ku dapati lagi sebagai hadiah daripada-Nya di waktu-waktu teduhku, berdua dengan-Nya. Hanya Dia saja, yang takkan pernah membiarkanku sendirian. Untuk sekian kalinya, aku menyadari itu kembali. Untuk sekian kalinya, Dia memang menyatakan itu kembali, padaku.

Aku mengaminkan kesendirian sebagai suatu ruang; tempat berhenti, berteduh, berdiam sejenak di dalam hati Tuhan. Ruang dimana aku tidak perlu meributkan diri dengan segala hal sosial sementara waktu. Bukannya anti sosial, tapi memang orang-orang yang menjalin relasi sosial denganku sedang tidak sedang "available" untuk dihubungi, untuk diajak bercerita, untuk diajak bertemu. Aku mengaminkan kesendirian sebagai cara-Nya mendekatkan aku kembali intim di hati-Nya, cara-Nya menyatakan padaku bahwa hanya Dia-lah harapanku dan tempatku bergantung ekstrim selama-lamanya.



Bagaimana aku menterjemahkan kesendirian? Setelah segala perenungan setelah menuliskan tulisan ini, aku ingin bilang, aku ternyata tidak mengenal kesendirian. Tidak mengenalnya lagi, semenjak bertemu Yesus. Aku tidak lagi mengenal kesendirian, karena nyatanya aku memang tidak pernah sendirian. Aku tidak mengenal kesendirian, karena Dia selalu bersamaku. Dan tidak sedetikpun, Ia beranjak pergi daripadaku. Penyertaan-Nya tetap, setetap kasih-Nya, setia-Nya, tegak seperti langit. Selalu beserta. Allah Emmanuel.



Experience God.
Experience Christ Jesus.

It is always beatiful. It is always wonderful.

You May Also Like

1 comments

  1. Cool kak ...
    Salut buat postnya :)

    2 thumbs up ..

    ReplyDelete