WHO AM I IN HIS EYES?

by - May 23, 2012



Sore ini aku merenung lagi: ada dua hal acara besar yang Tuhan izinkan untuk aku ikut di dalamnya. Sekali lagi. Setelah hal-hal besar lainnya. Liburan tiga bulan mendatang inipun menjadi sesuatu yang ditunggu. Bulan agustus.

Mungkin aku tidak bisa menyebutkan acara apa secara pastinya kedua acara yang akan ku ikuti itu saat ini – yang jelas aku melihat betapa tangan Tuhan memang mengatur dan mengendalikan. Ku pikir tadinya aku memang harus memilih salah satu di antara dua: karena jadwalnya benar-benar bentrok. Baru saja aku mengatakan pada temanku, nana, kemarin sore, bahwa aku sepertinya sudah pasti tidak akan bisa ikut yang satunya – sampai tadi pagi membaca sms dari mas agus, dan mengetahui bahwa acara yang ku pilih prioritas untuk ikut itu diubah tanggalnya. Setelah semingguan tidak ada lagi kabar terbaru dari acara itu. Perubahan tanggal itu menjadi jawaban Tuhan bahwa aku bisa ikut keduanya, dan Dia memang memintaku ikut keduanya. Aku terkesima saja.

Aku sadar kedua acara – big events – ini bukan main-main. Sesuatu yang istimewa. Untuk ikut juga memang harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu. Tapi Tuhan berikan. Tapi Tuhan izinkan. Aku merenung beberapa hari ini: siapa aku ini sampai Tuhan mau mempercayakan hal-hal besar ini kepadaku?

Aku sungguh merasa tidak layak. Dalam segala kelemahan, kekurangan, hal-hal yang ku lakukan yang kadang mendukakan hati-Nya – semuanya itu membuat aku sadar betapa sebenarnya Tuhan bisa tidak mempercayakan semua itu padaku. Tapi tidak. Dia tetap memilih mempercayakannya padaku.

Aku merasa tidak layak – dan memang begitulah seharusnya seorang manusia melihat dirinya. Renungkanlah betapa kita sebenarnya tidak memiliki suatu milik apapun yang bisa kita sombongkan di hadapan Tuhan Yang Maha Kaya itu! Apa yang menurut kita, adalah milik kita: kekayaan, kepintaran, rupa wajah, atau apapun itu – sadarilah kalau semuanya itu berasal daripada-Nya saja. Itu sesungguhnya bukan milik kita. Tuhan bisa ambil kapan saja.

Aku teringat kisah Beethoven yang dikutip buku saat teduh-ku hari ini – bagaimana seorang komposer musik seterkenal dan “se-cakap” dia dalam musik akhirnya kehilangan pendengarannya – pendengarannya! Apa jadinya seorang komposer musik tanpa bisa mendengar musik yang ia ciptakan atau musik yang dimainkan orang lain?  Dan Beethoven sudah seterkenal itu? Apa jadinya kalau dia kehilangan pendengarannya? Nyaris mustahil ia bisa terus bertahan menjadi seorang komposer musik. Di titik itu dia menyadari bahwa segala sesuatu ini hanyalah titipan Tuhan Yang Mahakuasa itu. Tidak ada yang patut kita sombongkan. Sama sekali tidak ada. Semuanya daripada-Nya dan (sudah seharusnya kita) kembali(-kan) pada-Nya.

Sama. Aku berpikir siapakah aku ini sebenarnya – rasanya begitu biasa-biasa saja. Beberapa teman mungkin berpikir, aku bisa ikut acara-acara itu karena aku “cukup” memenuhi syarat – “cukup” layak. Tetapi hanya aku dan Dia saja yang tau bagaimana kondisiku sebenarnya. Hanya aku dan Dia yang tau segala kegagalan dan kekurangan yang masih terus ku perjuangkan untuk benar-benar berubah dalam segenap kekuatan daripada-Nya. Dalam segenap kesalahanku, yang mendukakan hati-Nya, kadangkala aku berpikir aku benar-benar tidak layak untuk memperoleh kepercayaan-Nya lagi sebenarnya. Tapi tidak begitu. Dia masih tetap percaya padaku. Dia masih tetap mengasihiku.

Seringkali aku berpikir hal ini tidak seperti dalam kisah cinta manusia – seseorang akan terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia memang layak untuk dicintai pasangannya: entah karena dia cantik – entah karena dia kaya – entah karena dia pintar – entah karena dia bisa menarik hati pasangannya. Tapi aku sadar bahwa cinta kasih Tuhan tidak seperti itu. Tuhan tidak mengasihi kita karena kita cukup cantik. Tuhan juga tidak mengasihi kita karena kita cukup pintar. Tuhan juga tidak mengasihi kita karena kita kaya. Tuhan mengasihi kita bukan karena kita cukup baik. Menurutmu Tuhan tidak mengasihi orang-orang yang berdosa? Big no, readers. Tuhan mengasihi kita karena Dia mau mengasihi kita.

Tuhan mengasihi kita bukan karena apa yang kita (seolah-olah) miliki. Seperti yang sudah ku tuliskan di atas – apakah ada sebenarnya yang benar-benar kita miliki yang bukan miliknya Tuhan? Sama sekali tidak ada.

Di titik inilah aku sadar bahwa cinta kasih Tuhan begitu berbeda dengan cinta kasih manusiawi kita. Kita mengasihi atau mencintai seseorang karena dia “cukup layak” untuk kita kasihi. Karena dia baik, dia pintar, dia menawan, dia kaya, dia idola. Tapi Tuhan tidak. Tuhan mengasihi kita sekalipun kita sungguh tidak layak untuk mendapatkan kasih-Nya itu. Tuhan mengasihi kita sekalipun kita cemar dalam kesalahan-kesalahan kita yang kita sadari maupun tidak kita sadari.

Adakah manusia yang cukup baik untuk dikasihi oleh Tuhan? Yang tidak pernah berbuat dosa sekalipun? Remember, readers. Tuhan itu Maha Suci – Dia tidak tersentuh dan tidak tercemar oleh dosa. Setitikpun dosa tidak ada pada-Nya. Dan apakah kita merasa layak mendekati Tuhan dan dicintai oleh Dia Yang Mahasuci dengan dosa kita yang tidak hanya setitik – tetapi mungkin berpuluh-ribu titik selama kita hidup?

Tetapi bersyukurlah dengan sepenuh hatimu kepada-Nya: karena justru dalam kasih-Nya yang masih tetap dicurahkan-Nya untuk kita di tengah kondisi ketidaklayakan kita itu, Dia mendemonstrasikan betapa dalam dan tidak terselaminya kasih-Nya itu.

Salib Tuhan cukup untukku: untuk membuktikan Tuhan memang mengasihiku di tengah segala keberdosaan dan ketidaklayakanku. Kalau saja kalian tau betapa bandelnya aku dulu. Yang mau mati untuk orang baik – apalagi yang baik terhadapnya – mungkin banyak. Tetapi siapa yang mau mati untuk orang berdosa? Kalau bukan karena kasih yang luar biasa? Dalam salib itu, ada pengampunan yang melampaui akal manusia. Ada kasih yang tidak terselami dari Tuhan untuk setiap manusia ciptaan-Nya. Karena itulah, memang harus ada penebusan pada kayu salib. Tuhan bisa saja memilih untuk tidak mati di salib – Tuhan bisa saja memilih untuk TIDAK mengasihi kita – (aku pernah merenungkan ini) toh ada bermilyar manusia di dunia, Tuhan tinggal cabut nyawa kita ketika kita terus membandel dan berdosa – dan menyayangi orang lain saja yang “mungkin” cukup tidak membandel kepada-Nya. Kata orang, neraka mungkin sudah siap menampung kita. Untuk apa Tuhan berletih-letih memperjuangkan kita supaya kembali sadar akan keberdosaan dan kebandelan kita itu? Menurutmu ada berapa milyar manusia di dunia yang melakukan hal yang sama? Berapa banyaknya manusia yang harus “diperjuangkan” oleh Tuhan? Tapi tidak. Tuhan tidak membiarkan kita mati dalam keberdosaan dan kecemaran, dan terhilang daripada-Nya. Dia justru menggantikan kita – Dia mau mati untuk setiap manusia ciptaan-Nya: karena kasih yang luar biasa – entah kita terus membandel atau membandel kadang-kadang pada-Nya. Entah dosa kita sampai dosa membunuh orang lain atau sepertinya “hanya” berkata-kata kotor. Sadarilah dosa tetap dosa, readers. Dan Tuhan tetap Yang Maha Suci, yang tidak tersentuh oleh setitik dosa APAPUN. Dosa tetap dosa. Dan kasih Tuhan tetap luar biasa atas setiap dosa kita.

Kisahnya tidak selesai sampai disitu saja. Dan inilah pengharapan tetap-ku untuk tidak menyerah dalam perjuangan apapun. Tidak sekedar mati karena kasih-Nya, Dia juga bangkit dari kematian dan kebangkitan itulah yang memampukan setiap manusia yang percaya pada-Nya itu, ikut bangkit pula dari setiap kesalahan, dosa, dan kebandelan. Like what i had experienced. Like what i have experienced.


Dua hadiah besar ini menjadi sebuah awal perenungan kembali akan kasih Tuhan yang begitu panjang, lebar, tinggi, dan dalam itu: tidak terselami. Have you experienced the same love, readers? Let’s experience the same love – God loves everyone on earth. Because we belong (only) to Him.

Let’s celebrate His love for us forever-ever :’)

p.s. (epilog) :

“Semakin kita sadar bahwa kita sungguh tidak layak untuk dicintai oleh Tuhan, semakin dalam kita akan memahami betapa dalam dan luar biasa kasih-Nya itu telah dan selalu Ia anugerahkan untuk setiap kita. Semakin kita sadar bahwa kita sungguh tidak layak untuk dicintai oleh Tuhan, semakin dalam kita akan terus belajar mencintai-Nya – seperti Ia telah terlebih dulu mencintai kita.”

 

You May Also Like

0 comments