Saturday, 31 March 2012

BERITA DUKA

Sekali lagi. Ada berita duka sampai kepadaku tadi pagi. Setelah akhir-akhir kemarin – di bulan maret ini – sepertinya cukup banyak berita duka yang terdengar. Mulai dari awal maret, bouku (sebutan untuk tante dalam bahasa batak) yang paling tua, kakak dari ayahku, dipanggil pulang ke dalam kekekalan. Tepat beberapa hari setelah ayah seorang teman sepelayanan dan sepersekutuanku di kampus juga dipanggil pulang ke dalam kekekalan. Setelah itu, berita duka dari kampus, seorang dosen senior sosiologi, yang juga salah satu pendiri FISIP UI, dipanggil juga pulang ke kekekalan. Dan yang terakhir, baru ku terima tadi pagi. Amangboruku (sebutan om, suami dari bou/tante dalam bahasa batak) akhirnya dipanggil pulang juga.


Aku jadi banyak merenung mengenai kematian akhir-akhir ini. Sungguh manusia paling kaya dan berkuasa sekalipun tidak berkuasa atas umurnya sendiri. Di titik dimana setiap manusia harus menemui ajal dan kematian – disitulah ada pengakuan akan keberadaan Yang Mahakuasa, Tuhan yang mungkin selama ini teracuhkan oleh kesibukan realitas dunia. Sebuah kekuatan di luar kekuatan manusia. Jauh melebihi kekuatan manusia.


Jangan naif. Bagaimanapun juga di dalam kedalaman dasar hati manusia sebenarnya setiap kita manusia pasti takut mati. Siapa yang tau ada apa setelah nafas kita berhenti? Tapi untuk mengatur umur kitapun, kita tidak mampu.


Aku sendiri yakin, ada dua hal menanti setelah kematian kita. Kehidupan kekal setelah kematian. Atau kematian kekal setelah kematian. Yang mungkin didefenisikan kebanyakan orang sebagai surga dan neraka. Yang dikenal nyaris dalam setiap agama di seluruh dunia ini.


Menurutku kesedihan terbesar ketika menerima kabar duka adalah ketika aku tidak yakin akan pergi kemana orang yang ku kasihi itu setelah mereka bertemu dipanggil pulang. Ketika aku tidak yakin apakah orang-orang yang ku kasihi ini akan berbahagia setelah mereka dipanggil pulang. Bukankah yang paling diingini seseorang untuk orang yang dikasihinya adalah kebahagiaan orang yang dikasihinya tersebut?


Kesedihan terbesar ketika menerima kabar duka bagiku adalah ketika aku tidak yakin orang-orang yang ku kasihi itu akan masuk ke dalam kehidupan kekal setelah kematian.


Di kehidupan kekal, setiap orang akan pasti berbahagia. Kenapa? Karena di dalam kehidupan itu, setiap orang akan bersama-sama dengan Tuhan Yang Mahakasih dan Mahakuasa, selama-lamanya.


Justru karena itu.


Aku jadi ingat kisahku sendiri. Harus diakui, dulu juga aku adalah salah seorang yang tidak suka memikirkan kematian. Kenapa? Karena aku tidak siap. Kematian itu menyedihkan, dan sangat tentatif. Aku tidak yakin akan pergi kemana setelah aku mati nanti. Tetapi sekarang tidak lagi. Aku yakin, yakin penuh. Kehidupan kekal menjadi tujuan, dan kematian untuk mengakhiri kehidupan sementara ini nanti sama sekali bukan sesuatu yang harus ditakuti.


Kenapa? Karena kematian kekalku sudah digantikan oleh Dia yang mati untuk setiap manusia. Pernah berpikir mengapa Tuhan harus menjadi manusia dan mati untuk kita? Ya. Untuk menggantikan kita supaya kematian kekal tidak menjadi bagian kita. Supaya kita beroleh: hidup. Kehidupan yang kekal.


Tidak ada manusia yang cukup baik untuk kehidupan kekal. Manusia sarat dosa dan kesalahan. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia memang sudah dirancang untuk bergantung penuh pada Sang Pencipta. Jika manusia mengandalkan kebaikannya untuk pergi ke tempat yang disebut-sebut surga, yang ku sebut kehidupan kekal, lalu sebenarnya dimana tempat Sang Pencipta dalam kehidupan manusia?


Yesus Kristus Tuhan sudah melakukannya bagiku. Dia mati untuk menggantikan kematianku. Dan dia juga mati bagi setiap orang untuk menggantikan kematian mereka, mereka yang mau percaya kepada kedatangan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Hanya sesederhana menaruh kepercayaan dan bergantung penuh pada-Nya, Yesus Kristus, dan masuki hidup baru yang akan mengantarkan kita ke kehidupan kekal. Tidak ada jalan lain. Tuhan bukan seperti kita yang berubah-ubah dan tentatif. Dia tetap untuk selama-lamanya dalam segala hal mengenai Dia. Satu dan esa. Seperti jalan menuju kehidupan kekal itu. Hanya ada satu.


Apa kamu juga termasuk salah satu orang yang takut menghadapi kematian, temanku?


Apa kamu sudah tau dan yakin akan pergi kemana setelah kamu dipanggil pulang ke kekekalan, temanku? Apakah ke kematian kekal atau ke kehidupan kekal?


Pikirkan lagi. Bagaimana jika hari ini, setelah kamu membaca tulisan ini, ternyata waktumu bernafas sudah habis, siapkah kamu? Jangan sampai salah memilih jalan temanku. Aku sudah menceritakan padamu kebenaran yang sudah ku temukan. Sekarang terserah padamu. Aku hanya ingin bilang, carilah jalan yang pasti. Bukalah hatimu. Carilah siapa Tuhan itu sebenarnya. Dia begitu dekat, dan Dia amat menyayangimu.


“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3:16.