Friday, 30 December 2011

AGOODBYE


Let it be.
Peoples come, and
go away.

Meninggalkan 2011 dan memasuki 2012 saya ingin berterima kasih untuk kalian yang sempat mampir entah lama atau pun sebentar di hidup saya, beberapa sebenarnya dengan begitu istimewa, siapapun kalian, teman-teman seperjuangan, tapi kemudian mungkin (saya merasakannya) kalian pergi. Tahun ini. Saya maklum. Karena memang tidak akan pernah ada yang abadi selain Tuhan Terkasih itu sendiri. Seperti saya, dan kita, yang sedang beranjak melangkah ke depan, dan meninggalkan setahunan 2011 - begitupula saya sudah menetapkan hati untuk meninggalkan yang lalu di belakang. Selamat tinggal. Selamat datang, tahun baru! Terima kasih!

Saturday, 24 December 2011

MERAYAKAN KESELAMATAN


Natal kali ini saya tidak merayakan kebersamaan bersama keluarga. Natal kali ini saya tidak juga merayakan sebuah jamuan makan, atau pohon terang. Natal kali ini juga tidak ada sinterklas bagiku – memang tidak terlalu penting sih – tapi terima kasih untuk klara puspita dengan kado natal mininya ;)

Natal kali ini saya juga tidak merayakan hari libur. 24 25 jatuh pada hari sabtu minggu, weekend. 26 yang ditetapkan pihak universitas libur juga sama seperti tidak libur bagiku. Ya hari senin saya memang tidak ada kelas sama sekali.

Natal kali ini seorang teman berkomentar – seperti kata Durkheim – jangan-jangan apa yang membuat setiap hari raya besar keagamaan itu meriah, berarti, dan ditunggu adalah social effervescence-nya. Karena kita bersama-sama merayakannya dengan orang lain. Berkumpul. Bersukacita.

Apa memang iya, seperti itu?

Natal kali ini saya merayakan sesuatu yang lebih esensial daripada sekedar kebersamaan dengan keluarga, daripada sekedar jamuan makan, daripada sekedar sebuah pohon terang, daripada sekedar kado-kado natal. Natal kali ini saya merayakan, keselamatan. Dan keselamatan tidak bergantung dari hal-hal material seperti itu – sebagaimana keselamatan tidak bergantung pada usaha manusia.

Natal tetap natal tanpa social effervescence. Karena natal bukan sebuah hal yang ada di luar – tetapi di dalam. Sebuah respon hati yang sungguh. Terhadap kasih Yesus Kristus Tuhan. Natal kali ini saya merayakan sesuatu yang lebih abadi daripada sekedar kebersamaan dengan keluarga yang akan ada batasnya ketika umur kami habis, daripada sekedar jamuan makan yang hanya terasa sebentar di dalam perut dan lidah, daripada sekedar pohon terang yang hanya dinyalakan ketika natal masih hangat di penanggalan romawi. Saya merayakan keselamatan. Dan keselamatan itu, kekal.

Karena itulah kenapa  kita menyebutnya, Christmas : karena Christ (Kristus) lebih utama dari segala pernak-pernik material yang memeriahkan natal. Christ is the priority, the center of our Christmas celebration. Natal adalah sebuah perayaan kasih dan keselamatan, perayaan kerendahan hati mendalam dari Tuhan dalam keputusan-Nya untuk ikut memposisikan diri sebagai manusia ciptaan, satu-satunya cara untuk bisa merasakan apa yang kita rasakan – menanggung apa yang kita tanggung, segala dosa dan kesalahan kita, satu-satunya cara agar kita dapat memahami keberadaan-Nya. Bahwa Tuhan itu begitu dekat. Dia tidak jauh dan kita bisa mengenal-Nya. Dia bukan Tuhan yang tidak peduli di atas sana. Dia bukan Tuhan yang sesukanya mengatur ini-dan-itu, seperti seorang penguasa yang otoriter. Sebaliknya, Dia penuh kasih dan kerendahan hati, hikmat dan keadilan. Dan Dia ingin kita mempercayai-Nya sepenuhnya, mengenal-Nya sepenuhnya, mencintai-Nya sepenuhnya. Maka keselamatan itu pun kekal untuk kita. Keselamatan itulah sebuah kado anugerah. Sebuah anugerah, dimana diberikan kepada mereka yang tidak layak menerimanya tetapi tetap diberikan karena kasih yang mendalam.


Dan akhirnya – saya begitu menyadari kalau segala jadwal kuliah yang tidak bersahabat ini memang bisa merampas kebersamaan saya dengan keluarga, memang bisa merampas kemeriahan perayaan natal saya dengan segala hal material itu. Tetapi tidak akan pernah bisa merampas keselamatan saya. Karena keselamatan itu abadi. Sebuah janji dan jaminan bahwa saya akan menuju “tempat itu”, dan akan bertemu dengan Tuhan Terkasih. Sesederhana itu. Saya tidak terlalu berharap ada pernak-pernik apapun disana. Bertemu Tuhan secara langsung dan kebersamaan selama-lamanya dengan-Nya, sudah begitu lebih dari cukup. Dan saya masih terus selalu bisa merayakannya, dalam kondisi seperti apapun di moment natal kali ini :)


“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” 

(Yohanes 3:16)




Happy dan Merry Christmas 2011, Everyone! :D

Thursday, 22 December 2011

BE +


just say it loud : I CAN!