Thursday, 14 July 2011

TRUST HIM, THE ONLY ONE


Kadangkala manusia memang sangat manusiawi untuk lebih mempercayai apa yang bisa dilihatnya daripada yang tidak bisa dilihatnya. Mungkin, itu yang kemudian menyebabkan manusia, kita, kadangkala sulit mempercayai keberadaan dan kehadiran Tuhan, keterlibatan-Nya yang aktif dan penuh dalam setiap langkah dan detik kehidupan kita, setiap manusia ciptaan-Nya yang begitu Ia kasihi. Beberapa kemudian memilih untuk menuduh-Nya ini dan itu, lalu mundur dari langkah iman menjadi seorang agnostik atau ateis. Mereka, kita, manusia, mungkin tidak tau apa kemudian respon Tuhan: entahkah Dia menangis disana, entahkah Dia terluka. Bayangkan saja bagaimana perasaan seorang ibu, atau ayah, yang anak kandungnya sendiri yang sangat dicintai dan diperjuangkannya, akhirnya memilih untuk tidak peduli, jauh daripadanya. Mungkin, seperti itulah.

Kadangkala manusia memang sangat manusiawi untuk lebih mempercayai apa yang bisa dilihatnya daripada yang tidak bisa dilihatnya. Itulah mungkin, yang menyebabkan manusia cenderung memilih untuk mencoba percaya kepada manusia lainnya. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, mereka, kita, manusia, kemudian mempercayakan sepenuhnya – seutuhnya – semuanya dari cerita kita, diri kita, hidup kita, kepada manusia lainnya. Tapi banyak yang bilang, memang tidak ada satupun manusia yang sempurna. Manusia tidak sempurna. Kepercayaan yang dilimpahkan tidak terjaga: ujung-ujungnya, kecewa. Tapi manusia toh masih belum berhenti melakukannya, memilih mempercayakan dirinya kepada manusia daripada Tuhan, dan kecewa. Lagi, dan terus lagi. Tapi manusia tidak berhenti.

Kadangkala manusia memang sangat manusiawi untuk lebih mempercayai apa yang bisa dilihatnya daripada yang tidak bisa dilihatnya. Entah kenapa kemudian manusia enggan untuk mempercayai Tuhan, yang walaupun tidak bisa dilihat saat ini, namun ada, hadir, dan begitu rindu ingin mendampingi setiap kehidupan setiap manusia ciptaan-Nya yang dikasihi-Nya. Entah kenapa kemudian manusia enggan untuk mempercayai Tuhan, dan memilih untuk berlari kepada manusia – padahal manusia, yang tidak sempurna, selalu memiliki potensi untuk saling mengecewakan. Tidakkah bisa manusia mencoba mempercayai Tuhan sepenuhnya, tanpa ragu, sekali saja – dan berhenti mempercayakan dirinya dulu kepada manusia lainnya.

Saat itu mungkin mereka, kita, manusia akan mengerti betapa Tuhan selalu dapat dipercaya. Kadangkala memang mereka, kita, manusia merasa Tuhan tidak bisa dipercaya, ketika apa yang terjadi kemudian tidak berjalan sesuai dengan apa yang manusia harapkan, apa yang dimintakan kepada-Nya, Yang Mahakuasa. Tapi, tidakkah manusia seharusnya melihat lebih jauh ke depan, ketika apa yang terjadi – yang dipilihkan oleh-Nya untuk kita – walau kita tidak suka, selalu berujung kepada kesukaan dan kebaikan, semata-mata? Dia yang lebih tau, apa yang ada di depan.

Kadangkala manusia memang sangat manusiawi untuk lebih mempercayai apa yang bisa dilihatnya daripada yang tidak bisa dilihatnya. Tapi jika yang bisa dilihat ternyata cenderung selalu dapat mengecewakan, tidakkah lebih baik mencoba percaya kepada Dia, yang tidak bisa dilihat tapi tidak pernah mengecewakan?




"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu,
dan jalan-Ku bukanlah jalanmu,
demikianlah firman Tuhan.
Seperti tingginya langit dari bumi,
demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu
dan rancangan-Ku dari rancanganmu."


Yesaya 55 : 8 – 9

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."

Yeremia 29 : 11

Thursday, 7 July 2011

HAPPY MORNING


Satisfy us in the morning with Your unfailing love, that we may sing for joy and be glad all our days.



Psalm 90 : 14, NIV