Friday, 30 December 2011

AGOODBYE


Let it be.
Peoples come, and
go away.

Meninggalkan 2011 dan memasuki 2012 saya ingin berterima kasih untuk kalian yang sempat mampir entah lama atau pun sebentar di hidup saya, beberapa sebenarnya dengan begitu istimewa, siapapun kalian, teman-teman seperjuangan, tapi kemudian mungkin (saya merasakannya) kalian pergi. Tahun ini. Saya maklum. Karena memang tidak akan pernah ada yang abadi selain Tuhan Terkasih itu sendiri. Seperti saya, dan kita, yang sedang beranjak melangkah ke depan, dan meninggalkan setahunan 2011 - begitupula saya sudah menetapkan hati untuk meninggalkan yang lalu di belakang. Selamat tinggal. Selamat datang, tahun baru! Terima kasih!

Saturday, 24 December 2011

MERAYAKAN KESELAMATAN


Natal kali ini saya tidak merayakan kebersamaan bersama keluarga. Natal kali ini saya tidak juga merayakan sebuah jamuan makan, atau pohon terang. Natal kali ini juga tidak ada sinterklas bagiku – memang tidak terlalu penting sih – tapi terima kasih untuk klara puspita dengan kado natal mininya ;)

Natal kali ini saya juga tidak merayakan hari libur. 24 25 jatuh pada hari sabtu minggu, weekend. 26 yang ditetapkan pihak universitas libur juga sama seperti tidak libur bagiku. Ya hari senin saya memang tidak ada kelas sama sekali.

Natal kali ini seorang teman berkomentar – seperti kata Durkheim – jangan-jangan apa yang membuat setiap hari raya besar keagamaan itu meriah, berarti, dan ditunggu adalah social effervescence-nya. Karena kita bersama-sama merayakannya dengan orang lain. Berkumpul. Bersukacita.

Apa memang iya, seperti itu?

Natal kali ini saya merayakan sesuatu yang lebih esensial daripada sekedar kebersamaan dengan keluarga, daripada sekedar jamuan makan, daripada sekedar sebuah pohon terang, daripada sekedar kado-kado natal. Natal kali ini saya merayakan, keselamatan. Dan keselamatan tidak bergantung dari hal-hal material seperti itu – sebagaimana keselamatan tidak bergantung pada usaha manusia.

Natal tetap natal tanpa social effervescence. Karena natal bukan sebuah hal yang ada di luar – tetapi di dalam. Sebuah respon hati yang sungguh. Terhadap kasih Yesus Kristus Tuhan. Natal kali ini saya merayakan sesuatu yang lebih abadi daripada sekedar kebersamaan dengan keluarga yang akan ada batasnya ketika umur kami habis, daripada sekedar jamuan makan yang hanya terasa sebentar di dalam perut dan lidah, daripada sekedar pohon terang yang hanya dinyalakan ketika natal masih hangat di penanggalan romawi. Saya merayakan keselamatan. Dan keselamatan itu, kekal.

Karena itulah kenapa  kita menyebutnya, Christmas : karena Christ (Kristus) lebih utama dari segala pernak-pernik material yang memeriahkan natal. Christ is the priority, the center of our Christmas celebration. Natal adalah sebuah perayaan kasih dan keselamatan, perayaan kerendahan hati mendalam dari Tuhan dalam keputusan-Nya untuk ikut memposisikan diri sebagai manusia ciptaan, satu-satunya cara untuk bisa merasakan apa yang kita rasakan – menanggung apa yang kita tanggung, segala dosa dan kesalahan kita, satu-satunya cara agar kita dapat memahami keberadaan-Nya. Bahwa Tuhan itu begitu dekat. Dia tidak jauh dan kita bisa mengenal-Nya. Dia bukan Tuhan yang tidak peduli di atas sana. Dia bukan Tuhan yang sesukanya mengatur ini-dan-itu, seperti seorang penguasa yang otoriter. Sebaliknya, Dia penuh kasih dan kerendahan hati, hikmat dan keadilan. Dan Dia ingin kita mempercayai-Nya sepenuhnya, mengenal-Nya sepenuhnya, mencintai-Nya sepenuhnya. Maka keselamatan itu pun kekal untuk kita. Keselamatan itulah sebuah kado anugerah. Sebuah anugerah, dimana diberikan kepada mereka yang tidak layak menerimanya tetapi tetap diberikan karena kasih yang mendalam.


Dan akhirnya – saya begitu menyadari kalau segala jadwal kuliah yang tidak bersahabat ini memang bisa merampas kebersamaan saya dengan keluarga, memang bisa merampas kemeriahan perayaan natal saya dengan segala hal material itu. Tetapi tidak akan pernah bisa merampas keselamatan saya. Karena keselamatan itu abadi. Sebuah janji dan jaminan bahwa saya akan menuju “tempat itu”, dan akan bertemu dengan Tuhan Terkasih. Sesederhana itu. Saya tidak terlalu berharap ada pernak-pernik apapun disana. Bertemu Tuhan secara langsung dan kebersamaan selama-lamanya dengan-Nya, sudah begitu lebih dari cukup. Dan saya masih terus selalu bisa merayakannya, dalam kondisi seperti apapun di moment natal kali ini :)


“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” 

(Yohanes 3:16)




Happy dan Merry Christmas 2011, Everyone! :D

Thursday, 22 December 2011

BE +


just say it loud : I CAN!

Tuesday, 20 December 2011

PERCAYA SIAPA


Di kelas sosiologi agama kemaren, dosen saya menjelaskan pemikiran Durkheim mengenai agama, yang lahir dari penelitiannya di salah satu masyarakat Aborigin, Australia. Salah satu statement-nya menarik – bahwa Tuhan sebenarnya adalah masyarakat itu sendiri. Ketika ada social effervescence – yang istilahnya diambil mungkin seperti lukisan luapan soda dalam Coca Cola – kolektivitas manusia dalam sebuah komunitas ini pun merasa “berbeda”. Tuhan dan masyarakat, sama-sama abstrak bagi kita, katanya – tidak bisa kita lihat.

Hanya sebuah refleksi personal kritis. Saya secara personal, masih begitu yakin bahwa ada Tuhan disana – sebuah tempat yang mungkin belum bisa kita tuju saat ini. Ini bukan soal religiusitas, hal-hal doktrinal berbagai agama yang sering diperdebatkan banyak orang itu. Ini hanya sebuah iman, yang sederhana, yang lahir dari proses mengalami. Saya yakin kalau setiap orang sebenarnya memilikinya – tetapi kadang kita suka mengacuhkannya, menganggap itu bukan sebuah perjalanan dengan Tuhan. Kita menggantikannya dengan hal-hal yang rasional, mencoba merasionalisasi segala kemungkinan dan segala sesuatu. Ya, mungkin karena itu tadi, seperti mata kuliah saya: terlalu banyak orang yang memang pada kenyataannya memperTuhankan masyarakat – sadar atau tidak sadar. Walau masyarakat tidak bisa dilihat – tapi bagian dari masyarakat itu bisa dilihat – kolektivitas individu, yang walaupun kata dosen saya, masyarakat (juga menurut Durkheim) tidak bisa sekedar dikatakan sebagai kumpulan atau kolektivitas individu. Masyarakat memang “lebih” dari itu, “lebih” dari sekedar kolektivitas individu. Orang-orang di sekelilingmu. Peer group. Keluarga. Komunitas.

Agak kacau, atau juga mungkin menarik ketika kuliah pertama saya, membahas soal spirituality and health – sosiologi kesehatan – dengan fokus penekanan pada keberadaan Tuhan yang punya andil dalam segala pengobatan dan sakit-penyakit. Tapi kuliah kedua, dalam sosiologi agama, sebaliknya – cenderung mengatakan tidak ada Tuhan seperti yang dipikirkan banyak orang dalam konsepsi umum selama ini. Tuhan itu ada, tapi Tuhan itu ya, masyarakat itu sendiri. Kita yang “memunculkan” Tuhan. Hari kuliah yang kontradiksi ya.

Percaya kepada hasil penelitian dan pemikiran Durkheim, bahwa masyarakat adalah Tuhan – atau Tuhan adalah masyarakat, sebenarnya menurut saya dalam beberapa hal sama saja dengan percaya kepada kitab suci agama. Lalu kenapa kemudian banyak orang lebih percaya kepada “hasil penelitian dan pemikiran Durkheim” dari kitab suci agama sendiri? Kalau itu kembali pada apa yang disebut “bisa dibuktikan” dan “apa yang tidak perlu dipertanyakan lagi” – cobalah berpikir. Kenapa juga harus percaya dan meng-kitab-sucikan “hasil penelitian dan pemikiran” Durkheim yang salah satunya mengatakan, mungkin Tuhan adalah masyarakat itu sendiri? Apa memang itu sudah cukup “terbukti”? Bukankah dalam penelitian, selalu akan ada siklus membantah dan membenarkan – suatu pengetahuan baru nantinya juga akan menggantikan pengetahuan lainnya, yang lama. Lalu yang mana yang bisa kita “imani” kalau akan ada dinamika seperti itu, dalam ilmu pengetahuan?

Lalu apa kitab suci agama tidak bisa “dibuktikan” secara empiris? Siapa yang bilang? Banyak penelitian arkeologis, misalnya, yang membuktikan bahwa hal-hal dalam kitab suci Kristiani, yang saya tahu misalnya, memang benar pernah terjadi di muka bumi ini. Itu yang saya tahu, belum lagi yang orang lain tahu, yang tidak saya tahu. Tapi intinya : apakah untuk percaya selalu harus menuntut pembuktian?

KEKUASAAN


Perenungan sejenak dari keyakinan yang saya imani pagi ini, setelah waktu saat teduh, sebuah jeda waktu menjelang natal. Memandang kembali tindakan kasih Tuhan, Kristus Yesus. Yang rela mengosongkan Diri-Nya dan mengambil rupa seorang manusia. Padahal Yesus adalah Tuhan – Tuhan Yang Berkuasa atas segala sesuatu, tetapi Dia tidak mempertahankan kekuasaan-Nya dengan egoisme dan kesombongan. Dia melepas hak-Nya sebagai Tuhan, karena Dialah Tuhan Mahakasih. Melirik sebentar ke teori-teori sosiologi. Teori bahwa yang bawah selalu ingin mencapai posisi yang atas, dan kaum elite yang di atas akan terus mempertahankan posisinya sebagai yang di atas. Seperti pemikiran Karl Marx – proletar borjouis yang senantiasa rebut-rebutan kekuasaan. Atau, Vilfredo Paretto dengan “sirkulasi elit-nya”. Semuanya berdasar pada hal yang sama, yang berkuasa tetap ingin berkuasa. Menjadi sebuah perbandingan yang jauh sangat berbeda ketika melihat Yesus Kristus. Dia Tuhan yang tidak mempertahankan “kekuasaan-Nya” dan dalam kemanusiaannya, Yesus Kristus tetap sepenuhnya Tuhan dan sepenuhnya manusia, manusia yang tidak berdosa. Tuhan yang seharusnya tidak perlu repot-repot menjadi sama seperti manusia, tetapi Dia lakukan karena Dia Tuhan Mahakasih. Yang tidak bisa diukur-dan-dibatasi dengan rasionalitas manusia.


“Your attitude should be the same as that of Christ Jesus: Who, being in very nature God, did not consider equality with God something to be grasped, but made Himself nothing, taking the very nature of a servant, being made in human likeness.”

Phillipians 2 : 5 – 7 NIV.

Saturday, 3 December 2011

A SIMPLE WAY

Kadangkala tidak perlu berpikir terlalu berat ketika melakukan atau terlibat sesuatu: jalani saja dengan sederhana. Jangan membuatnya kompleks.


29 November 2011
@yoeels, twitter

Thursday, 1 December 2011

Always Listening, Always Understanding


God would always listen to you and would always understand you. But please, you also need to listen to His words and understand His heart.


morning reflection :
@sandysinagajr, twitter

Thursday, 1 September 2011

FRIENDS ♥


menemukan quote indah ini dari www.thingsweforget.blogspot.com,
dan tersenyum sendiri...


Yap, friends are God's hugs!
Aku menemukan mereka, lagi, di Ilo-ilo. Yang tidak pernah direncanakan, tidak pernah dipikirkan. Tidak pernah dibayangkan. Tapi Dia sediakan, dan pertemukan. Teman-teman yang, luar biasa. From God :)


chatlin, evangeline, alvi, dalam foto pertama,
ate liza, ate ruchel, dan ate joyce, dalam foto yang kedua :)

dan oh ya, juga pasti untuk seluruh teman-teman setim yang terkasih (brother adhi, liza, yola, yudha, arini, richard, dan ka defrina), dan mas agus, ka ine. terima kasih karena selama sekitar tiga empat bulanan ini sabar melangkah denganku, berjuang, juga belajar banyak hal bersama-sama :)


menemukan kalian, merupakan sebuah cerita menyenangkan,
terima kasih karena sudah menemani perjuangan bulan agustus, yang sudah ditutup dengan happy ending, kemarin. hope you will always dwell in God's love, forever





will miss iloilo so much

Wednesday, 31 August 2011

A SHIELD


He will cover you with His feathers, 
and under His wings you will find refuge; His faithfulness will be your shield and rampart.



Psalm 91 : 4, NIV

Tuesday, 30 August 2011

CERITA PINTU


Cerita pertama. Cerita ini tentang seorang yang mencari-cari pintu untuk suatu jawaban. Kisah klasik. Tetapi nyatanya, banyak manusia kadang gagal melakukannya. Seperti si seseorang yang mencari, ketika ia menemukan satu pintu, ia tersenyum dan berhenti. Sampai dia sadar kalau pintunya ternyata tertutup. Lalu dia akan apa dan harus apa? Itu tergantung. Manusia memiliki kehendak bebas, bukan? Ketika satu pintu tertutup, dia, ataupun kita, dapat memilih untuk terus berjuang mencari pintu-pintu lainnya. Pintu yang terbuka. Pasti ada. Walau tidak selalu mudah untuk menemukannya. Tapi ketika satu pintu tertutup, orang yang putus asa akan berhenti di depan pintu yang tertutup dan meratap. Akankah pintunya terbuka? Siapa yang tahu? Sebenarnya lebih sulit menunggu ketidakpastian seperti mengharap pintu yang tertutup akan terbuka, daripada mencari pintu-pintu yang terbuka lainnya, yang lebih banyak. Yang jelas, selalu ada harapan bagi orang yang tidak mau berhenti berjuang. Bagi orang yang tidak mau berhenti berjuang menemukan pintu yang benar-benar benar. Cerita kedua. Atau, adakah kita yang ternyata menutup pintu itu sendiri? Kadangkala, pintu itu ada di dalam hati. Ini bukan sekedar cerita melankolis, mengenai cinta manusiawi. Lebih dari itu, banyak dimensi mengenai cinta yang mungkin bisa, atau tidak akan pernah bisa kita pahami. Kadangkala banyak yang memilih untuk menutup pintu, walau sebenarnya mereka butuh membuka pintu. Kadangkala banyak yang memilih untuk menutup pintu, walau sebenarnya mereka tidak yakin apakah mereka kuat untuk tidak membukakan pintu. Pintu yang tertutup menceritakan sebuah keraguan dalam kisah ini. Tetapi mengapa harus ragu untuk sesuatu yang tidak perlu diragukan? Cerita lain, cerita terakhir. Mengenai banyak pintu, pintu-pintu yang tepat, yang terbuka. Pintu-pintu itu, akan selalu terbuka untuk kita bisa masuk. Dan kita butuh untuk masuk, untuk menemui jawaban. Kita butuh masuk karena kita tidak bisa bertahan di luar. Kita perlu masuk, karena kita sebenarnya adalah bagian dari dalam pintu. Tetapi seringkali kita menyangkali kebutuhan kita, tetap bertahan di luar dan memalingkan wajah dari pintu-pintu yang terbuka. Kita masuk ke dalam melalui pintu, tetapi pintu yang salah. Atau mungkin kita akan keluar lagi, tetapi terus menolak memilih pintu-pintu yang tepat. Tetapi, kita tidak tau sampai kapan pintu-pintu yang tepat terbuka. Mungkin ada batas waktu. Dan ketika pintu itu tertutup, siapalagi yang bisa masuk? Siapalagi yang bisa membuka?


Temukanlah pintu yang tepat, yang terbuka, masuklah cepat-cepat, sebelum pintunya tertutup.

Thursday, 14 July 2011

TRUST HIM, THE ONLY ONE


Kadangkala manusia memang sangat manusiawi untuk lebih mempercayai apa yang bisa dilihatnya daripada yang tidak bisa dilihatnya. Mungkin, itu yang kemudian menyebabkan manusia, kita, kadangkala sulit mempercayai keberadaan dan kehadiran Tuhan, keterlibatan-Nya yang aktif dan penuh dalam setiap langkah dan detik kehidupan kita, setiap manusia ciptaan-Nya yang begitu Ia kasihi. Beberapa kemudian memilih untuk menuduh-Nya ini dan itu, lalu mundur dari langkah iman menjadi seorang agnostik atau ateis. Mereka, kita, manusia, mungkin tidak tau apa kemudian respon Tuhan: entahkah Dia menangis disana, entahkah Dia terluka. Bayangkan saja bagaimana perasaan seorang ibu, atau ayah, yang anak kandungnya sendiri yang sangat dicintai dan diperjuangkannya, akhirnya memilih untuk tidak peduli, jauh daripadanya. Mungkin, seperti itulah.

Kadangkala manusia memang sangat manusiawi untuk lebih mempercayai apa yang bisa dilihatnya daripada yang tidak bisa dilihatnya. Itulah mungkin, yang menyebabkan manusia cenderung memilih untuk mencoba percaya kepada manusia lainnya. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, mereka, kita, manusia, kemudian mempercayakan sepenuhnya – seutuhnya – semuanya dari cerita kita, diri kita, hidup kita, kepada manusia lainnya. Tapi banyak yang bilang, memang tidak ada satupun manusia yang sempurna. Manusia tidak sempurna. Kepercayaan yang dilimpahkan tidak terjaga: ujung-ujungnya, kecewa. Tapi manusia toh masih belum berhenti melakukannya, memilih mempercayakan dirinya kepada manusia daripada Tuhan, dan kecewa. Lagi, dan terus lagi. Tapi manusia tidak berhenti.

Kadangkala manusia memang sangat manusiawi untuk lebih mempercayai apa yang bisa dilihatnya daripada yang tidak bisa dilihatnya. Entah kenapa kemudian manusia enggan untuk mempercayai Tuhan, yang walaupun tidak bisa dilihat saat ini, namun ada, hadir, dan begitu rindu ingin mendampingi setiap kehidupan setiap manusia ciptaan-Nya yang dikasihi-Nya. Entah kenapa kemudian manusia enggan untuk mempercayai Tuhan, dan memilih untuk berlari kepada manusia – padahal manusia, yang tidak sempurna, selalu memiliki potensi untuk saling mengecewakan. Tidakkah bisa manusia mencoba mempercayai Tuhan sepenuhnya, tanpa ragu, sekali saja – dan berhenti mempercayakan dirinya dulu kepada manusia lainnya.

Saat itu mungkin mereka, kita, manusia akan mengerti betapa Tuhan selalu dapat dipercaya. Kadangkala memang mereka, kita, manusia merasa Tuhan tidak bisa dipercaya, ketika apa yang terjadi kemudian tidak berjalan sesuai dengan apa yang manusia harapkan, apa yang dimintakan kepada-Nya, Yang Mahakuasa. Tapi, tidakkah manusia seharusnya melihat lebih jauh ke depan, ketika apa yang terjadi – yang dipilihkan oleh-Nya untuk kita – walau kita tidak suka, selalu berujung kepada kesukaan dan kebaikan, semata-mata? Dia yang lebih tau, apa yang ada di depan.

Kadangkala manusia memang sangat manusiawi untuk lebih mempercayai apa yang bisa dilihatnya daripada yang tidak bisa dilihatnya. Tapi jika yang bisa dilihat ternyata cenderung selalu dapat mengecewakan, tidakkah lebih baik mencoba percaya kepada Dia, yang tidak bisa dilihat tapi tidak pernah mengecewakan?




"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu,
dan jalan-Ku bukanlah jalanmu,
demikianlah firman Tuhan.
Seperti tingginya langit dari bumi,
demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu
dan rancangan-Ku dari rancanganmu."


Yesaya 55 : 8 – 9

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."

Yeremia 29 : 11

Thursday, 7 July 2011

HAPPY MORNING


Satisfy us in the morning with Your unfailing love, that we may sing for joy and be glad all our days.



Psalm 90 : 14, NIV

Thursday, 16 June 2011

HELLO JUNE


hello june, hello holiday.
berharap bisa pulang, ke rumah yang teduh, di medan sana, walaupun sebenarnya tidak se-ngotot itu juga untuk mengatakan aku harus pulang. memang aku tidak bisa bilang, aku harus. aku juga tidak sepenuhnya ingin bilang, aku harus pulang. masih banyak yang harus diselesaikan lebih dulu disini. walau entah kenapa tetap ingin pulang, ketika rasanya letih melanda. mengambil waktu dengan adik andre dalam cerita-cerita seru, mungkin asik juga. atau ikut ibu meramaikan kondisi dapur, meja makan, atau ruang televisi ketika malam hari. mengajak ayah wisata entah kemana. kembali ke kamar orens pucat tempat beristirahat sebelum ini. atau mengunjungi sahabat-sahabat yang lama tidak berjumpa.

hello june, hello holiday. tetapi rasanya dibilang 'holiday' juga tidak benar-benar benar. tiga setengah bulan memang jeda yang panjang untuk sebuah liburan. tapi ini bukan liburan, atau belum liburan.

hello june, hello holiday. titipkan salam untuk medan, keluarga, dan sahabat-sahabat disana, karena kali ini tidak bisa pulang kesana. mungkin tahun ini pun, tidak.

Friday, 3 June 2011

A WAY



God provides.
God always provides.

Tanpa terasa, semester IV sudah berlalu saja. Waktu empat bulan, rasanya terasa, tetapi juga tidak terasa. Memasuki bulan juni, tanggal 3 kemaren ujian akhir terakhir dari sosiologi 2009, Teori Sosiologi II, selesai – tetapi sebenarnya belum sih, masih ada seminar MPS yang menyambut di depan, di tanggal 9. Tanggal 6 deadline research design final-nya. Semua kelompok, sibuk. Sama saja. Belum bisa dihitung liburan juga.

Akhirnya semester ini, nyaris selesai. Semester dengan kelas double Statistika Sosial II dan Metode Penelitian Sosial Kuantitatif I yang mengambil jatah dua kelas seminggu. Semester dengan enam, atau tujuh, atau bahkan delapan mata kuliah. Semester dengan tugas-tugas penelitian mata kuliah, dan persiapan penelitian.

Penelitian. Cerita lainnya di semester ini.

Sosiologi 2009 memang cukup disibukkan dengan ini di semester ini. Dalam dua mata kuliah, sosiologi keluarga dan sosiologi pedesaan. Sebenarnya dibilang penelitiannya besar juga gak, kecil juga, ya tapi bukan berarti gak ribet.

Tugas penelitian sosiologi keluarga menjadi cerita sendiri bagi saya di semester ini. Topik lansia, yang menjadi topik bahasan yang sudah ditentukan tim pengajar untuk kelompok saya, saya akui cukup membuat bingung di awal. Penelitian sosiologi keluarga dengan topik lansia, kemungkinan paling mungkin, adalah dengan informan lansia. Dan itu sejujurnya sempat menjadi suatu kendala bagi saya pribadi di semester ini.

Awal mei lalu, tepatnya. Ketika hari senin, tepat seminggu sebelum presentasi, akhirnya pedoman penelitian dan pembuatan makalah diemail tim pengajar kepada kami. Tugasnya, sebenarnya cukup sederhana: masing-masing anggota kelompok mewawancarai dua lansia, mengenai masalah kebahagiaan mereka. Tapi ini menjadi kendala tersendiri buat saya. Saya, yang satu-satunya anak non-Jabodetabek di kelompok saya, harus berpikir keras untuk mencari informan lansia itu, sejujurnya. Pertama, karena saya sepertinya gak punya kenalan lansia di Depok. Kedua, karena sebenarnya pun, jika teman-teman satu kelompok pada mau wawancara kakek-nenek sendiri, saya juga sudah tidak lagi punya seorangpun kakek atau nenek dari pihak ayah, maupun ibu. Ketiga, masih mending kalau tadi saya ada di Medan. Saya berharap ayah atau ibu saya punya kenalan yang bisa membantu mempermudah saya. Tapi saya sedang jauh dari mereka, di Depok. Saya tidak bisa mengharapkan bantuan dari orang tua saya, jelas.

Timeline menjadi masalah selanjutnya. Karena hari jumat sampai hari minggu, di minggu itu, sosiologi 2009 ada turun lapangan sosiologi pedesaan juga, ke Gunung Pancar Kabupaten Bogor dan menginap disana, di rumah penduduk selama tiga hari itu. Padahal senin besoknya, sudah harus presentasi dan makalah jadi. Bingung. Sepakat dengan teman-teman, makalah harus selesai kamis. Berarti mencari informan juga selambat-lambatnya rabu. Padahal itu sudah hari senin.

Saya sempat berpikir sebelumnya ingin mewawancarai ibu kos saya.  Ya, lumayan bisa melengkapi satu informan. Ibu kos saya memang sudah lansia, tetapi umurnya masih 62 tahun. Sementara syarat informan lansia yang ditetapkan tim pengajar adalah 65 tahun ke atas, jadi bingung. Dan ternyata di minggu itu, walaupun ibu kos saya memenuhi syarat jadi informan, ibu kos saya juga sepertinya tidak bisa diwawancara, karena sedang sibuk keponakan ada yang nikahan, hoo.

Senin sepulang dari kampus itu saya terbingung-bingung. Kemana mencari informan. Ketika sms-an sama ismi, teman sekelompok saya, ismi mencoba membantu dengan menawarkan bagaimana kalau saya mewawancara salah satu kakeknya, atau kakek-nenek dari teman-teman saya yang tinggal di Jabodetabek lain. Saya kepikiran juga, sempat. Cuma itu artinya harus besok. Karena rabu, saya seharian dari pagi sampai sore ada kelas, jadi sebenarnya rabu sudah tidak memungkinkan lagi untuk mencari informan. Masalah ini jadi hal yang didoakan terus-menerus dalam setiap jam doa saya hari itu, sampai hari selasa…

Hari selasa itu, ismi gak datang. Harapan mungkin bisa wawancara salah satu kakek atau neneknya ismi memudar. Soalnya saya gak tau rumahnya ismi… Mulai panik menjelang siang. Sambil MPS-an sama temen-temen MPS B, teman saya adit mencoba menawarkan bantuan untuk mewawancara ibu kosnya, eh tapi kemudian ingat ibu kos adit lagi ke surabaya. Hoo.

Di titik itu beneran gak tau mau gimana -__- sempet kepikiran mau ke panti jompo (tahun lalu emang pernah bareng-bareng anak FISIPERS, kunjungan ke panti jompo) tapi tempatnya gak tau dimana dan sepertinya jauh. Di titik kritis saat itu, tiba-tiba ingat ka merry. Thanks God, udah diingetin >,< Jadi ka merry adalah salah satu temen satu kosan saya, yang pelayanan di depok, termasuk UI. Ka merry juga aktif di gereja, dan saat itu saya berpikir ada kemungkinan ka merry punya kenalan lansia. Mencoba sms ka merry tapi gak seperti biasa, kali ini cukup lama baru di-reply. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk pulang, ya buat menenangkan diri juga.

Di saat-saat seperti itu, doa menjadi harapan tersendiri. Yang saya temui selanjutnya selesai berdoa: God is on the way to help. Ka merry sms, bilang emang punya kenalan lansia, dan ada dua orang, oma dan opa suami-istri yang satu pelayanan di gereja. Ka merry kemudian langsung tanya kira-kira mau wawancara kapan. Dan beberapa menit kemudian, ka merry bilang, oma opa calon informan siap diwawancara sekarang juga, tinggal berangkat ke rumahnya di Kelapa Dua! wow. how great is God.

Setengah jam kemudian, percaya gak percaya, dengan tidak disangka, aku sudah ketemu dua orang oma dan opa yang jadi informanku di rumahnya ditemenin ka merry, siap wawancara. Padahal baru siang itu kalut mikirin mencari kenalan informan kemana. Ya ampun.

God provides, God always provides. He will never let you face the storm by yourself. He is always be with you, to strengthen and accompany, to help you!

Thanks Lord Jesus ♥


Singkat cerita, dengan tidak disangka, selasa sore itu saya dapat dua orang informan, kemudian hari kamis mengerjakan makalah bareng-bareng teman-teman sekelompok: ismi, uti, aby, dan mariska. Pas turun lapangan sospedes, memang makalahnya belum 100% selesai, masih harus diedit di beberapa bagian, tapi puji Tuhan, akhirnya selesai tepat waktu di hari senin itu.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya juga sempat khawatir ketika dengar kabar kalau UAS penelitian individual sosiologi keluarga ini mengikuti tema yang sama dengan tema penelitian kelompok sebelumnya, yang berarti saya akan dapat tema lansia lagi, haa. Sejujurnya saya gak bisa berhenti berdoa memohon sama Tuhan supaya jangan dapat topik lansia lagi, soalnya informannya susah (informannya minimal tiga orang, kali ini dong), hehe dan yes, God hears me. topiknya boleh bebas, puji Tuhan! Dan akhirnya, saya memilih topik extended family – menyeimbangkan dengan kapasitas dan waktu saya untuk penelitian. Saya meneliti mengenai perubahan kedekatan hubungan teman-teman sendiri yang merantau dari medan dengan keluarga luasnya di Jabodetabek setelah merantau. Dan sejujurnya, tema itu juga tiba tepat waktu sebagai jawaban doa dari Tuhan. Thankyou Beloved Lord Jesus ♥ tapi bukan berarti juga cari informannya segampang yang dibayangkan. Karena informannya harus yang emang sering kunjungan ke keluarga luas yang di Jabodetabek – dan ada hambatan minggu UAS juga, saya baru bisa mengurusi ini di weekend. Sementara dua teman dari tiga teman yang saya harapkan bisa menjadi informan ternyata lagi nginep di rumah keluarga luasnya weekend itu, jadi harus ganti informan. But yes, God provides. He always provides: tiga informan, tepat seperti yang saya butuhkan.



Do you need something right now, readers?
Humbly ask God, go meet Him in prayer. And, have a faith that God always hears and provides the best for you. Have a wonderful day in God’s safeguarding, people ;)

Monday, 30 May 2011

PERCAYA SAJA


hi-oo. sudah lama tidak main ke halaman ini. mau tidak mau, sebenarnya. semester IV di sosiologi ternyata penuh tugas, penelitian kecil. mengakrabkan dirilah dengan revisi MPS (metode penelitian sosial) yang nyaris tiap minggu, makalah penelitian UAS sosiologi keluarga dan sosiologi pedesaan. selalu ingin nulis, tetapi jarang ketemu waktunya, hoo.

tulisan ini cuma hi-hi doang sih. tapi memang ada yang ingin diceritakan...

iyaaa dalam segala jadwal yang cukup penuh dengan tugas dan makalah, juga masih urusan beberapa organisasi dimana saya masih terlibat, belakangan lalu ada beberapa masalah juga yang membuat fokus kabur, lagi-lagi. entahlah. rasanya letih menghadapi itu semua (something, that i can't tell to you, readers, sorry) tapi menghindar bukan pilihan. ketika itu, jam doa rasanya penuh dengan pertanyaan 'mengapa' kepada Tuhan, atau 'bagaimana bisa ya Tuhan'. harusnya itu tidak perlu ditanyakan.

ibadah pagi di gereja setengah sembilan kemaren, menjawab semuanya. menegaskan betapa Tuhan memang menyuruhku cukup melakukan dua kata singkat ini saja, sebuah hal sederhana :


PERCAYA SAJA!


don't ask for more. biarkan Tuhan yang bekerja dalam cara-Nya. no comment, from me. itu tepat sekali ketika aku baru saja bertanya tentang ini-dan-itu kepada-Nya. God is marvellous, forever.

So now, belive (Him).

Saturday, 2 April 2011

CERITA SEPANJANG UTS


Find rest, O my soul, in God alone;
my hope comes from Him.

♥ Psalm 62 : 5 NIV ♥

Minggu UTS sudah selesai – akhirnya. Weekend ini saya bisa bernafas lega dan merenggangkan tubuh sebentar hehe :D Setelah dua minggu UTS ini di FISIP UI, rutinitas kehidupan ‘sedikit’ berubah: aktivitas wajib – belajar dan baca buku! Gak ada acara makan bareng di kancil seperti biasa, sama sapta atau sociology 2009 family. Karena keluar kelas ujian juga udah beda-beda, jadi siap ujian, langsung balik ke kosan deh.

Dua minggu UTS ini puji Tuhan – jadwal ujiannya terdistribusi merata di minggu pertama dan kedua (hehe). Jujur saja, 21 sks dan 7 mata kuliah di semester ini yang seharusnya hanya ada 7 kelas dalam seminggu – semester ini nambah jadi 9 kelas dalam seminggu. Kenapa bisa? Statistika sosial II dan Metode Penelitian Sosial (MPS) Kuantitatif I minta jatah kelas 2 kali seminggu jadilah ada 9 kelas dalam seminggu saya di semester ini. Bahkan kelasnya lebih banyak 1,5 jam dari semester lalu yang 24 sks. Jadwal saya juga meruncing di tengah minggu – hari rabu menjadi hari yang beneran full dengan 3 mata kuliah dan masih ada jadwal rapat organisasi lagi sampai malam. Saya tidak bisa ngebayangin sebenarnya gimana kalo UTS-an numpuk hanya dalam seminggu seperti semester-semester lalu. Tapi puji Tuhan, God designed the best for this schedule! Di minggu pertama – saya hanya ada 3 mata kuliah yang ujian sit in, dan di minggu kedua – menyusul 3 mata kuliah berikutnya yang ujian sit in + 1 take home UTS. Puji Tuhan.

Walaupun sebenarnya jadwalnya asik dan cukup lapang, tapi dua minggu UTS lalu sejujurnya lagi, tidak selapang itu. Sabtu dan minggu di tengah-tengah dua minggu itu – salah seorang sepupu saya (anak pakde – abang mama saya), menikah :) mba iwul yang karena memang tinggal di depok – dulu pas saya masih menikmati masa-masa maba, suka berkunjung dan nolongin anak rantauan ini hehee nah, di pernikahan si mba semua sepupu dari pihak ayah dan ibunya diminta tolong menjadi pager bagus dan pager ayu (mba saya menikah dalam pernikahan secara Islam dan dengan adat jawa, unik deh :)). Jadi saya juga ikut menjadi pager ayu.

Itu pengalaman pertama jadi pager ayu. Bahkan pengalaman pertama, pakai pakaian adat jawa yang berkain-kain itu hehe senang rasanya bisa ikut mengantarkan mba saya itu ke pernikahannya. May God bless you, beloved sister :)

Ya tapi sejujurnya jelas sabtu minggu saya tidak sempat belajar. Kertas handout sosiologi industri masih dibawa-bawa sih di dalam tas, dipegang juga, tapi ya tidak konsen. Apalagi mama papa dan semua saudara mama (pakde bude dan sepupu-sepupu, oia mama saya ada 8 bersaudara hehe) yang tinggalnya beda-beda provinsi akhirnya berkumpul lagi di moment itu ♥

Tetapi Tuhan masih begitu melawat :)

Akhirnya, minggu malam jam sebelasan saya balik ke kosan bersama sepupu saya, yang juga sedang kuliah semester II di FEUI. Bela-belain soalnya sepupu saya malah ada ujian senin besoknya. Mama papa nginep di rumah bude di sunter dan senin selasa berusaha mempersiapkan ujian triple (statistika sosial – take home sosiologi pedesaan – sosiologi industri) buat rabu. Tapi ternyata saya salah. Rabu itu hanya ujian double. Percaya gak percaya, statistika sosial ternyata ujian hari selasa – dan saya gak tau – huoo!

Saya ingat selasa itu sekitar jam 10:00 belajar sosiologi industri. Statistika sosial II belum sempat saya sentuh sama sekali. Rencananya habis sosiologi industri – karena pertimbangannya, bahan sosiologi industri banyak banget, dan closed book. Saya sejujurnya masih kecapean karena pager ayu-an weekend itu jadi nyaris belajar sambil sedikit ngantuk -___- rabu besoknya mama papa pulang ke medan, jadi siang itu rencananya mama papa kunjungan terakhir sebelum pulang ke kosan saya, ya saya juga sambil menunggu mereka. Sampai salah seorang teman baik saya di sosiologi, sapta dwi putri, tiba-tiba telfon.

Sapta tanya, kenapa saya tidak ujian. Saya bingung. Ujian? Ujian apa hari ini, ta? Sapta jawab : statistika sosial II yoels! Wah saya langsung panik! Perasaan saya nyatet jadwalnya ujian statsos II hari rabu! Panik. Sungguh. Sapta bilang, beneran lo gak tau yul? Ya ampun, gue kirain lo sakit, ngampus aja dulu yul.

Ternyata saya salah jadwal. Sebenarnya ini agak membingungkan juga. Jadi ceritanya di jadwal ujian mata kuliah seluruh jurusan FISIP UI digabungin dan diacak gitu menurut hari di papan pengumuman. Dan jadwal ujian statistika sosial ada dua – selasa dan rabu. Masalahnya, saya hanya melihat dan mencatat yang hari rabu. Gak seperti biasanya, jadwal itu memang baru ditempelin beberapa hari sebelum ujian (kamis sebelum minggu pertama kalau gak salah) padahal biasanya kalo gak salah paling telat seminggu sebelum bahkan dua minggu sebelum udah ditempel. Dan karena sedang ribet urusan tugas kuliah – organisasi – dan lain-lain saya belum sempat catat kamis itu. Saya baru catat jadwal jumat malam sebelum pulang, setelah semua kegiatan selesai. Udah gelap – udah capek – dan gak konsen.

Nah ujian statsos jadinya selasa bukan rabu. Teman saya, kodik – selaku ketua kelas statsos II memang sudah menjarkom via message facebook dari group sociology 2009. Tapi saya tidak liat karena memang jarang facebook-an akhir-akhir ini dan jadwal digabung sama seluruh jadwal UTS lainnya, yang saya pikir saya udah catat. Yang ini memang kekurangcermatan dari saya, huhu (maaf banget kodik).

Masih panik, saya langsung siap ini – itu. Asal tarik baju celana. Bawa segala perlengkapan – buku kalkulator catatan dsb – buat statistika sosial. Tapi sebelum keluar kamar, saya berserah dulu sama Yang Di Atas untuk hal ini. Memohon maaf atas segala kecerobohan dan memohon pertolongan. Siapalagi yang bisa diandalkan kecuali Tuhan? pikir saya saat itu.

Sesampainya di kelas, mba lidya, salah satu dosen statsos II yang mengawas ujian hari itu sedang mengumpulkan hasil ujian teman-teman sekelas. Saya datang dan melapor dengan panik dan sedih *ya sedih kalo saya gak UTS komponen nilai saya hilang 30% kan. Mba lidya, tampak bingung. Beliau bilang tadi juga saya sudah ditelfon tapi saya gak angkat. Saya hanya bisa menunggu keputusan beliau dan duduk dengan panik dan bingung di salah satu kursi. Soalnya respon mba lidya belum bisa ditebak. Saya ingat banget – banyak teman-teman sosiologi yang udah tau masalah saya saat itu men-support saya. Beneran terharu. Really thanks all goodfriends! :’) sampai akhirnya, mba lidya ngajakin saya ke departemen sosiologi. Tapi belum bilang, saya boleh ujian susulan atau gak. Still keep praying.

Singkat cerita, puji Tuhan! Saya bisa ujian susulan di departemen. Waktunya memang cuma satu setengah jam, dan kata mba lidya nilai saya tidak akan lengkap 100% - akan ada pengurangan sesuai keputusan pengajar. Ya kecerobohan saya juga, saya akui. Saya minta maaf banget kepada seluruh staf pengajar mata kuliah statistika sosial II, kodik, dan teman-teman. Dan Tuhan Yang Terkasih. Tapi sungguh, saya masih begitu bersyukur karena masih boleh UTS. Setidaknya komponen nilai UTS saya tidak kosong.

Puji Tuhan lagi – walaupun belum belajar, soal-soalnya bisa saya kerjakan. Saya bersyukur selama ini memperhatikan setiap pengajaran di kelas. Tapi saya percaya inipun dari God’s help, only. Hasilnya, terserah kepada Tuhan saja. Berserah total dan ekstrim kepada-Nya.

Pulang dari ujian itu – saya masih merasa seperti baru mimpi. Sungguh. Tidak pernah menyangka kejadian seperti ini terjadi di minggu UTS saya. Ini pengalaman ekstrim. Tapi di atas segalanya, saya masih begitu berterima kasih kepada Tuhan Yesus dan semua teman baik di sosiologi untuk segala support-nya, teristimewa untuk mba lidya dan staf pengajar yang masih memperbolehkan saya ikut UTS. Saya tetap bersyukur untuk kejadian ini, karena sekali lagi saya menyadari bahwa pertolongan Tuhan selalu tepat waktu.

Saya jadi ingat bagaimana Tuhan mencoba mengingatkan pagi itu. walaupun masih letih karena tugas pager ayu, saya bisa bangun subuh jam dua ke tiga selasa pagi itu. menemui Tuhan dulu di saat teduh dan jam doa lalu belajar dan akhirnya mandi tepat waktu di jam yang sama seperti kalo saya kuliah jam 8 biasanya. Saya juga begitu percaya Tuhan sudah mengingatkan ujian ini melalui mba lidya yang mencoba menelfon saya untuk men-check kondisi di jam setengah sembilanan. Tapi memang, waktu itu hape simpati saya sedang lowbat dan saya charge di kamar – saya tinggal keluar untuk sarapan dan mandi (dan belajar di kantin ibu kos saya) dari jam tujuh. Sebenarnya di jam delapan ke setengah sembilan, saya sudah ada feeling untuk menyudahi acara belajar saya di kantin ibu kos (lagi-lagi saya percaya Tuhan sebenarnya sudah menggelisahkan untuk masuk ke kamar melihat panggilan mba lidya di ponsel saya) karena gak efektif juga. Tapi memang saya kurang peka pagi itu, jadilah saya mengabaikan feeling dan baru masuk ke kamar jam sembilan. Ketika sepanjang perjalanan barel – FISIP UI dengan ojek (biar cepet hehe) juga saya akui saya memang panik berat. Tapi entah kenapa rasanya tetap tidak khawatir. Saya sudah mempercayakan sepenuhnya, ekstrim total, kepada Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus, dan ya sudah. Tuhan begitu Mahakuasa dan tidak ada yang Ia tidak bisa lakukan. Sampai akhirnya – Tuhan memang sungguh menolong (lagi) melalui sapta dwi putri yang menelfon tepat di jam sepuluh lewat! (thanks berat saptaaa!) Tuhan menolong supaya bisa ujian susulan (melalui mba lidya yang akhirnya memperbolehkan saya ujian, terima kasih mba lidya dan mba evelyn…) – Tuhan menolong dalam pengerjaan walaupun saya belum siap-siap sesiap biasanya. God is marvellous.


Setiap perjuangan UTS ini saya kembalikan kepada Tuhan. Tuhan Yesus sangat menolong dan melawat selama minggu UTS ini dengan banyak hal, banyak cara. Saya ingat bagaimana sebenarnya di minggu I UTS saya juga ada pelayanan doa siang di persekutuan, yang seharusnya hari kamis (24 Maret) yang dipindah jadwal ke hari senin (21 Maret). Saya sangat terharu Tuhan menjawab doa saya, karena kamis itu ujian MPS Kuantitatif II dan bahannya cukup banyak juga, saya mungkin akan cukup ribet kalau double mempersiapkan ujian dan pelayanan sekaligus hari rabu dan kamis itu. Kalau pindah ke senin, saya masih punya waktu sabtu-minggu untuk persiapan pelayanan dan UTS, dan memang untuk sosiologi keluarga bahannya tidak sebanyak MPS. I always believe that He designed the best for my days :’) Saya ingat juga bagaimana di minggu pertama UTS, ketiga mata kuliah ternyata open book. Puji Tuhan! Saya memang sudah siap-siap dan belajar, tetapi sejujurnya masih kurang pede di hari H karena merasa belum hapal konsep-konsepnya dengan pasti. But, God helped and God helps :))

Dan jadilah saya baru sadar curhatan ini sudah sedemikian panjangnya, hahaha tapi saya senang bisa berbagi cerita tentang hal ini ♥


Sebagai penutup terakhir saya hanya ingin bilang –
Rely on God, only and always in every step of your life, readers! Tidak ada siapapun atau sesuatu apapun yang lain yang bisa menolong setiap waktu, setepat waktu, dan semengagumkan Tuhan. Bahkan, jangan andalkan kekuatanmu. Kita ini manusia yang terbatas, pada kenyataannya memang kita tidak mahabisa menaklukkan hal-hal di sekeliling kita seperti yang dibilang kaum positivis hehe. Bergantunglah kepada Tuhan dalam totalitas. Saya mau bilang, jangan ragukan bahwa Tuhan Yesus itu baik. He will help in all ways.


Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan,
Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku
[ Mazmur 50 : 15 ]


Have a nice day peoples! – and be sure
that you experience your day today with God :)

Monday, 28 February 2011

TOTAL + FOCUS = CHANGE!

rumus penting perjuangan ke depan saya :
TOTAL + FOCUS = CHANGE

semester IV sudah berlalu nyaris sebulan. semingguan ini sejujurnya penuh dengan hal-hal yang cukup sukses bikin riweh : rapat - tugas kuliah - baca buku - tugas non akademik - binder hilang - dan lain-lain sampai juga beberapa hal, yang, hm nyaris mengaburkan fokus saya. semester ini perjuangan baru, itu jelas. rasanya sendirian (baca: jauh darimana-mana, keluarga bestfriends di medan dan orang-orang terdekat yang bisa membuat nyaman) kadang gak enak ya hehe, tapi so much thanks God! i still have Him (read: God) beside me. Tuhan selalu ada untuk setiap orang. Setiap orang, setiap kita, yang mungkin tidak selalu ada untuk memperhatikan hati Tuhan?

konklusi : 
keep struggling, don't worry, put all of your trust in God's heart, and do your best effort to change all situations! total, focus, and change. Godspeed! :)

Tuesday, 11 January 2011

SEMESTER TIGA -- BERKAT DAN HASIL :)


"Itulah sebabnya
kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup,
Juruselamat semua manusia,
terutama mereka yang percaya" 
(1 Timotius 4:10)


ini adalah halaman terdepan binder saya di semester III ini, sengaja menjadikannya
sebagai sebuah penyemangat akademis (hehe), yang, praise Beloved God! -- terbukti, benar ;)

Senin, 10 Januari 2011 lalu, semester III akhirnya resmi selesai setelah nilai-nilai akhir mata kuliah, beserta IP dan IPK di-publish di website SIAK NG UI. Seharian menunggu satu persatu nilai keluar, rasanya nano-nano juga, hehe teristimewa untuk sosiologi organisasi yang menjadi mata kuliah terakhir yang ditunggu, karena dia adalah penentuan, yang nilainya baru keluar jam sepuluh atau sebelas malam apa. Dan, akhirnya informasi IP dan IPK semester III -- hasil perjuangan satu semesteran ini, diketahui juga. Rasanya, wah!

Satu setengah tahun dan tiga semester di Universitas Indonesia sudah saya jalani, with God's grace and His  power, thanks God!, semuanya sudah dan terus berlangsung dengan sebegitu baiknya sampai hari ini. Tidak terasa. Merasa masih baru kemarin jadi maba (mahasiswa baru) di kampus, sekarang sudah punya junior lagi. Tapi sungguh, saya bersyukur amat sangat untuk semester III ini -- setelah benar-benar mengetahui hasil akhirnya, ternyata setiap perjuangan yang sudah diupayakan tidak sia-sia. Memang tidak pernah ada yang sia-sia jika kita malakukannya dalam kekuatan Tuhan ;)

IP dan IPK saya naik lagi semester III ini -- by God's wonderful power! Anugerah Tuhan Yesus Kristus. Sungguh, itu bukan karena saya. Itu anugerah Tuhan, 100% tanpa tapi.

Satu semesteran dengan 24 sks dan 8 mata kuliah dalam jadwal padat dan hectic, masih ditambah dengan kegiatan non-akademis lainnya serta segala hambatan-hambatan, suka-duka akademis haha (jujur saja) sempat membuat saya nyaris bimbang, nyaris. Tapi, saya tahu kepada Siapa, saya mempercayakan pengharapan saya. Live in hope, whenever wherever you are :)

Saya ingat betapa banyaknya kekagetan di semester ini. Seperti senior bilang, "kalau semester III itu, udah mulai sosiologi banget banget, bahan banyak bahasa Inggris, banyak tugas banyak paper, harus rajin baca, kalau bisa sih jangan ngambil langsung 24 sks (padahal saya dan beberapa teman sudah terlanjur mengambil 24 saat itu, hehe), nanti kaget. mesti lebih berjuang sih" -- dan terima kasih  banyak untuk para senior untuk nasehatnya, semuanya memang terbukti benar, hehe

Bulan desember menjadi tenggang waktu yang paling hectic, bagi saya. Puji Tuhan, semuanya bisa dan telah terlalui dengan baik. 20-30 minggu UAS, berbarengan dengan natal di tengah-tengah. 16 Desember 2010 presentasi sosiologi organisasi. 17 Desember 2010 presentasi sosiologi pendidikan. 18 Desember 2010 ada perayaan natal PO UI di balairung. 20 Desember 2010 ngumpulin UAS makalah dinamika kelompok kecil dan UAS kelas sosiologi lingkungan. Benar-benar di dua minggu terakhir sebelum UAS itu, saya dapat tugas 


3 makalah penelitian yang harus turun lapangan + 1 makalah studi pustaka kelompok + 2 presentasi + 2 tes kecil


sebelum UAS. Berhari-hari lari-lari kesana kemari dalam jadwal tambah-tambahan yang, ya ampun. Kadang, mau berenti tapi gak bisa. Apalagi perjuangan minggu UAS, yang, ada saja setiap hari hambatannya. Tetapi, puji Tuhan, memang Tuhan tetap baik di atas semuanya. Dia tambah-tambahkan kekuatan. Teristimewa untuk minggu UAS, penuh keajaiban :)

(Maaf readers, sekalian curhat sebenarnya, hehe)

Hanya karena anugerah Tuhan Yesus sajalah, di semester III ini, IP dan IPK saya masih naik. Walaupun terkaget-kaget dengan mata kuliah yang sudah mulai sosiologi banget (tidak seperti semester lalu-lalu yang masih penuh mata kuliah umum universitas dan fakultas), nekat ngambil 24 sks, dengan suka-duka akademis (hehe) dan masih ada kegiatan non-akademis lainnya, pengharapan di dalam Tuhan memang tidak pernah mengecewakan. Tuhan memang selalu mendengar doa, dengan kasih-Nya yang sempurna (terima kasih banyak juga untuk setiap keluarga dan sahabat yang mendoakan, membantu  dan terus menyemangati saya, teristimewa untuk sahabat-sahabat saya di cjeig, yang mengizinkan saya mengangkat topik makalah UAS penelitian mata kuliah dinamika kelompok kecil mengenai peer group kami, dan bersedia saya hubungi bolak-balik via facebook, sms, dan telefon, puji Tuhan nilainya amat baik >_< hehe). Wah, terima kasih banyak untuk itu semua, Tuhan Yesus

Saya menutup semester III ini dengan banyak banyak banyak ucapan syukur kepada Tuhan. Kembali kepada segala optimisme, di dalam Dia, dengan kesetiaan - kesungguhan - dan totalitas. Ketika Tuhan tahu, kamu mau berjuang dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti ikut berjuang bersama-sama denganmu.



"Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Roma 5:5)

Ayo lanjutkan perjuangan, semester depan, tetap dengan mengusahakan mengupayakan dan memperjuangkan totalitas terbaik yang kita bisa, tetapi dengan mengandalkan Tuhan saja. Everything comes, from Him -- and for Him :)



p.s. :
wah, saya semakin speechless ketika membolak-balik halaman blog dan menemukan beberapa halaman blog yang menceritakan cerita akademis saya di semester ini -- hello-third-term, amazing grace, footprints :'') God is awesome forever. Once again, from Him and for Him. so much thanks, Beloved God :)

Saturday, 8 January 2011

LANGKAH AWAL


orang yang optimis, akan selalu berusaha untuk memulai setiap perjuangannya dengan langkah yang pasti, iyakan? memang tidak selalu melangkah dengan pasti itu, mudah. saya merasakannya akhir-akhir ini. tapi sungguh, kadang saya pikir jika kita terlalu memikirkan prosesnya dengan rasionalitas kita yang terbatas, akan jadi lebih susah lagi bagi kita untuk mengambil sebuah langkah awal itu. lebih baik melangkah dulu - sebuah langkah awal yang pasti, jika memang perjuangan itu tidak bisa kita tolak untuk tidak kita lakukan,




lagipula sebenarnya,
apa susahnya melangkah?

Monday, 3 January 2011

TUHAN ATAU AGAMA


Mengikut Tuhan tidak boleh setengah-setengah, mengikut Tuhan itu harus sungguh-sungguh.


Kalau agama memang hanya sekedar topeng manusia, dan melupakan Tuhan yang hidup sebagai esensi terpentingnya, apa bedanya agama dengan kelompok sosial manusia yang hanya berfungsi menjaga kohesivitas dan ikatan sosial -- yang seperti kata Durkheim itu?

jika kita lebih mengenal Tuhan kita daripada agama kita, tidak akan ada fanatisme, tidak akan ada intoleransi, tidak akan ada kerusuhan dan permusuhan agama, tidak akan ada kekacauan.

apa menurutmu Tuhan menghendaki kekacauan dan permusuhan di antara manusia yang dikasihi-Nya?



readers, Tuhan (sungguh) lebih penting daripada agama.

Saturday, 1 January 2011

2010 MMRS


Leftovers in their less visible form are called memories.  Stored in the refrigerator of the mind and the cupboard of the heart. 
~Thomas Fuller


#2010

Semester II yang menjadi awal transisi pelepasan status maba dan semester III dengan mata kuliah dan KRS FRS penuh mata kuliah sosiologi. Tanpa terasa sudah satu setengah tahun saya di UI. Sejauh ini, perjalanan dan 'penjelajahan' di UI merupakan sebuah path tersendiri untuk saya. Jalan itu tidak sedemikian rumitnya, sederhana. New Life. Masuk Fisipers. Bertemu dengan lovely-maker-family, with all beloved brothers and sisters. Berjuang di comdev BEM UI, LIMAS FISIP UI. Pulang di pertengahan tahun, dengan perayaan ulang tahun umur belas-belas terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabat terkasih, with a special birthday tart from besties cjeig :') Memahami bagaimana kasih agape itu. Perayaan hari natal, yang berbeda :) Perjuangan akademis akhir tahun yang, puji Tuhan, walau tidak dapat terkatakan. Pulang (lagi) tapi kali ini dengan misi. Dan, tahun ini pun ditutup dengan resolusi #2011 dalam acara keluarga, dan saya sendiri, di menit detik pergantian tahun.


2010 penuh blessings.
2010 penuh hal-hal yang baru, tidak terpahami namun kemudian terpahami, melihat segala sesuatu lebih jauh lagi (beyond common sense? haha, tapi ini tidak hanya di dunia sosiologi), many (new) good friends and family, adaptasi lebih lanjut dalam setiap hal, berjuang berlari berusaha menjadi lebih baik lagi,
ku tutup 2010 dengan pujian. hanya untuk-Nya, yang merancangkan segala sesuatunya baik (tidak salah kan manusia untuk selalu mengingat Tuhan-nya?). dan sebagaimana, tahun 2010 sudah terjalani dengan sangat sangat berbeda dari 2009, mari membuka 2011 dengan harapan baru.

New Year New Hopes.




p.s. :
so much thanks Dear God, it might be meaningless without You, inside :)
Happy New Year 2011!